Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
Alunan lagu “Kala Sang Surya Tenggelam”, ciptaan Guruh Soekarnoputra akan terus terdengar menembus zaman. Walau penciptanya kini telah tiada. Pertama kali dirilis pada 1978 dan dipopulerkan Chrisye melalui album Sabda Alam. Lagu itu kemudian menempuh perjalanan panjang, dibawakan kembali Chrisye pada 1996 dan menemukan pendengar generasi baru ketika hadir sebagai bagian dari soundtrack Gadis Kretek, melalui suara Nadin Amizah. Hampir setengah abad setelah pertama kali terdengar, lagu itu kini seperti memperoleh makna baru: sang pencipta telah pergi, tetapi nada dan maknanya masih tinggal bersama kita.
Hari ini, 26 September 2026, ketika kabar berpulangnya Guruh Soekarnoputra menyentuh ruang-ruang keluarga Indonesia, kalimat kala sang surya tenggelam terasa seperti sebuah metafora tentang perjalanan manusia. Ada matahari yang setiap petang meninggalkan langit, ada manusia yang suatu hari meninggalkan dunia. Tetapi matahari yang tenggelam tidak berarti cahaya berakhir; ia hanya berpindah tempat, sebagaimana manusia yang pergi meninggalkan jejak melalui karya, nilai dan ingatan.
Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, lahir di Jakarta, 13 Januari 1953, adalah putra bungsu Soekarno dan Fatmawati. Ia tumbuh di tengah keluarga yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Indonesia, tetapi kemudian menempuh jalan pengabdiannya sendiri melalui seni dan kebudayaan. Guruh wafat pada usia 73 tahun pada 26 September 2026 pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, berdampingan dengan makam ibundanya.
Namun, Guruh tidak semata-mata meninggalkan nama keluarga. Ia membangun identitasnya melalui karya. Guruh Gipsy, Swara Mahardhika, musik, tari, pertunjukan, busana dan berbagai gagasan kebudayaan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Ia berusaha mempertemukan tradisi dengan kreativitas, masa lalu dengan masa kini, dan akar Nusantara dengan bahasa seni modern.
Di sinilah kita menemukan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kisah seorang maestro. Guruh seperti hendak mengatakan bahwa mencintai kebudayaan bukan berarti membekukannya menjadi benda museum. Kebudayaan harus diberi ruang untuk bernapas, ditafsirkan kembali, dimainkan oleh generasi baru, dan dibawa masuk ke dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan ruhnya.
Ia juga menjalani perjalanan di ruang politik dan pernah menjadi anggota DPR RI. Tetapi ketika seorang seniman berpulang, barangkali yang paling lama dibicarakan bukan jabatan yang pernah disandangnya, melainkan apa yang pernah ia hidupkan. Dalam konteks Guruh, yang hidup itu adalah kegelisahan untuk melihat Indonesia tetap mempunyai wajah kebudayaannya sendiri.
Karena itu, mengenang Guruh seharusnya tidak berhenti pada memutar kembali lagu-lagunya. Kita perlu menjadikan kepergiannya sebagai momentum untuk membangun ekosistem kebudayaan yang hidup: ruang latihan yang mudah diakses anak muda, studio musik komunitas, panggung seni di daerah, dokumentasi digital karya maestro, pendidikan seni di sekolah, pelindungan hak cipta, serta akses pasar bagi para pelaku kreatif.
Mungkin itulah salah satu pelajaran penting dari perjalanan Guruh: budaya tidak boleh hanya dikenang, tetapi harus terus diciptakan kembali dengan kesadaran terhadap akar.
Menjelang akhir hidupnya pun, Guruh masih menunjukkan perhatian terhadap seni dan kebudayaan.
Guruh menitipkan seni dan budaya Indonesia agar terus dirawat dan dicintai generasi muda. Pesan itu terasa seperti sebuah amanah yang tidak selesai ketika seorang seniman meninggalkan dunia.
Maka, hari ini kita bukan hanya kehilangan seorang pencipta lagu. Kita sedang kehilangan seseorang yang menghabiskan sebagian hidupnya untuk bertanya: bagaimana Indonesia tetap menjadi dirinya sendiri di tengah zaman yang terus berubah? Pertanyaan itu kini berpindah kepada kita.
Barangkali cara terbaik mengenang seorang seniman. Bukan dengan menjadikannya patung kenangan, melainkan dengan meneruskan pertanyaan yang pernah ia perjuangkan. Bukan hanya menyanyikan lagu-lagunya, tetapi menciptakan ruang agar generasi sesudah kita mampu melahirkan lagu, tari, gagasan dan karya baru yang berakar pada tanah airnya.
Pada akhirnya, kita semua hanyalah pejalan. Ada yang singgah dengan nama besar, ada yang datang membawa jabatan, ada yang meninggalkan harta, dan ada yang meninggalkan karya. Ketika semuanya kembali kepada Pemilik kehidupan, yang tersisa hanyalah jejak manfaat dan cahaya yang pernah kita titipkan kepada dunia.
Guruh telah menyelesaikan tari panjangnya. Sang surya kehidupannya telah tenggelam. Tetapi karya yang lahir dari kecintaan kepada Indonesia tidak harus ikut tenggelam.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum, menerima amal kebajikannya, melapangkan tempat peristirahatannya, dan menjadikan karya-karya baiknya sebagai jejak yang terus memberi manfaat. Sebab dalam pandangan sufistik, manusia pada akhirnya bukanlah tentang berapa lama ia tinggal, melainkan cahaya apa yang ia tinggalkan setelah ia pulang.
Surya boleh tenggelam, suara boleh berhenti, panggung boleh ditutup; tetapi cahaya kebaikan akan terus hidup ketika ada hati yang bersedia meneruskannya.
____________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.

