Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
“Setiap jam, lebih dari seribu nyawa melayang karena stroke dan serangan jantung akibat tekanan darah tinggi, dan sebagian besar kematian itu sebenarnya bisa dicegah.” Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
Seribu nyawa dalam satu jam.
Kalimat itu terasa seperti hitungan mundur yang tak pernah berhenti, dan di balik setiap angka tersimpan wajah seorang ayah yang tak sempat pulang, seorang ibu yang rebah di dapur, atau seorang pemuda yang tumbang di lapangan futsal.
Untuk alasan itulah dunia berhenti sejenak setiap 29 September. Hari Jantung Sedunia dicanangkan pada 1999 oleh Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) bersama WHO, lalu pertama kali diperingati pada 24 September 2000, dirayakan setiap Minggu terakhir September hingga 2011, dan sejak 2012 ditetapkan tetap pada tanggal 29 September.
Seperempat abad lebih berlalu, dan pesan yang dibawanya justru makin mendesak. Tahun ini Federasi Jantung Sedunia melanjutkan kampanye bertajuk “Don’t Miss a Beat”, yang dapat kita terjemahkan sebagai “Jangan Lewatkan Satu Detak Pun”, dengan pengingat bahwa penyakit jantung kerap bersembunyi di depan mata.
Kampanye ini mengajak kita mengenali tanda bahaya, melindungi jantung lewat pencegahan, dan menuntut para pengambil kebijakan untuk bertindak.
Taruhannya memang tidak kecil.
Menurut WHO, sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022, atau kira-kira 32 persen dari seluruh kematian di dunia, dan lebih dari tiga perempat kematian itu terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.
Federasi Jantung Sedunia dalam peluncuran kampanye 2026 menegaskan bahwa penyakit ini merenggut lebih dari 20 juta jiwa setiap tahun, padahal 80 persen kematiannya dipicu faktor risiko yang bisa dicegah atau dikendalikan. Di tanah air, jantung kita sendiri sedang mengirim sinyal darurat.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia mencapai 651.481 jiwa per tahun, termasuk 245.343 kematian karena penyakit jantung koroner. Angka itu setara dengan hilangnya seluruh penduduk sebuah kota setiap tahun.
Namun peringatan tahun 2026 datang pada saat yang tidak biasa. Dunia sedang berjalan di atas tanah yang goyah. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia edisi Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan global hanya 3,0 persen tahun ini, dengan guncangan perang yang paling berat menekan negara pengimpor energi dan ekonomi yang rentan, sementara laju penurunan inflasi dunia tertahan.
Indonesia patut bersyukur karena ekonomi nasional masih tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Tetapi angka makro yang kokoh tidak selalu terasa sama di meja makan keluarga. Badan Pusat Statistik mencatat 7,22 juta orang masih menganggur pada Mei 2026, dan 59,30 persen penduduk bekerja berada di sektor informal yang penghasilannya naik turun tanpa kepastian.
Ketika harga energi dan kebutuhan pokok bergejolak, yang pertama kali dikorbankan sering kali justru kesehatan: sayur dan buah diganti makanan instan yang murah namun sarat garam, gula, dan lemak, jam kerja diperpanjang sehingga waktu tidur dan olahraga menyusut, stres menumpuk tanpa jalan keluar, dan pemeriksaan kesehatan ditunda karena merasa “masih kuat”. Tekanan ekonomi, pelan tapi pasti, menjadi faktor risiko jantung yang tak tertulis di buku kedokteran.
Tantangan berikutnya menyangkut ketahanan sistem pembiayaan kita. BPJS Kesehatan mencatat biaya layanan penyakit jantung mencapai sekitar Rp17,3 triliun pada 2025, menjadikannya penyakit berbiaya besar dengan pembiayaan tertinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional.
Tindakan kateterisasi jantung saja menembus lebih dari 138 ribu kasus, dua kali lipat dibanding 2021. Ironisnya, pada tahun yang sama 87,1 persen dana dialirkan ke rumah sakit untuk pengobatan, sementara layanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi benteng pencegahan hanya menerima 12,9 persen.
Tekanan itu kini terasa nyata: hari ini pemerintah memastikan suntikan dana tambahan Rp20 triliun dari APBN 2026 untuk menjaga arus kas BPJS Kesehatan agar klaim rumah sakit tetap terbayar.
Dengan kata lain, kita masih terlalu banyak membayar untuk memadamkan api, dan terlalu sedikit untuk mencegah percikannya. Di tengah ruang fiskal yang menyempit, pola seperti ini tidak akan bertahan lama.
Masalah terbesar barangkali terletak pada sifat penyakit ini yang sunyi. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa hanya tiga dari sepuluh penderita penyakit tidak menular yang terdeteksi, dan dari tiga orang itu hanya satu yang berobat teratur.
Secara global pun gambarannya serupa: WHO mencatat 1,4 miliar orang hidup dengan hipertensi pada 2024, namun hanya sekitar satu dari lima yang tekanan darahnya terkendali.
Laporan yang sama memperkirakan penyakit kardiovaskular menguras sekitar 3,7 triliun dolar AS dari perekonomian negara berpenghasilan rendah dan menengah sepanjang 2011 hingga 2025, kira kira 2 persen dari gabungan produk domestik bruto mereka.
Artinya, jantung yang sakit bukan hanya urusan dokter, melainkan urusan menteri keuangan, pengusaha, dan setiap kepala keluarga.
Di sinilah secercah harapan mulai menyala. Program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau 73 juta orang hingga 31 Juli 2026, dan dari sekitar 52 juta peserta dewasa yang diperiksa tekanan darahnya ditemukan 4,9 juta orang dengan hipertensi serta 5,5 juta dengan prahipertensi.
Temuan yang lebih menyentak datang dari pemeriksaan ulang: sekitar satu juta orang yang tahun lalu dinyatakan sehat kini terdeteksi hipertensi.
Kabar baiknya, dari 2,4 juta penderita hipertensi yang kembali memeriksakan diri, 1,1 juta orang berhasil membawa tekanan darahnya kembali ke rentang normal.
Inilah bukti nyata bahwa ketika penyakit ditemukan lebih awal dan ditindaklanjuti, nyawa bisa diselamatkan dengan biaya yang jauh lebih murah dibanding ruang operasi.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan bersama?
Jawaban pertama terletak pada keberanian menggeser uang dan perhatian ke hulu. Layanan primer harus menjadi garda terdepan yang sungguh sungguh diperkuat, bukan sekadar pintu rujukan.
Gagasan BPJS Kesehatan agar sekitar 23 ribu puskesmas dan klinik pratama memiliki alat rekam jantung serta dokter yang mampu mengenali gangguan irama jantung sejak dini patut didukung penuh, sebab mencegah satu serangan jantung jauh lebih hemat daripada memasang ring di rumah sakit.
Kedua, Cek Kesehatan Gratis jangan berhenti pada pemeriksaan. Setiap warga yang terdeteksi hipertensi perlu dipastikan mendapat obat generik yang murah secara berkelanjutan, dipantau oleh kader posbindu, dan diingatkan lewat pesan singkat di ponselnya.
Ketiga, negara perlu berani melindungi warganya lewat kebijakan: pengendalian tembakau yang lebih tegas, penuntasan cukai minuman berpemanis, label gizi yang jelas di bagian depan kemasan, serta ruang publik yang ramah pejalan kaki dan pesepeda.
Keempat, Indonesia layak memiliki rencana aksi nasional khusus penyakit jantung, sebagaimana diserukan Federasi Jantung Sedunia yang mencatat bahwa kurang dari 20 negara di dunia memiliki rencana mandiri untuk melawan penyakit ini.
Kelima, pelatihan pertolongan pertama henti jantung perlu masuk ke sekolah, kantor, masjid, gereja, dan pasar, agar setiap warga siap menjadi penyelamat dalam menit menit emas.
Semua itu bukan beban, melainkan investasi paling cerdas di masa sulit. Ketika anggaran harus dihemat, pencegahan adalah cara paling masuk akal untuk berhemat tanpa mengorbankan nyawa.
Setiap tekanan darah yang terkendali berarti satu keluarga yang tidak jatuh miskin karena biaya pengobatan, satu pekerja yang tetap produktif, satu anak yang tetap memiliki orang tuanya. Menuju Indonesia Emas 2045, bonus demografi yang kita banggakan hanya akan bermakna bila jantung generasi produktif hari ini berdetak sehat.
Maka, pada Hari Jantung Sedunia ini, marilah kita mulai dari hal yang paling sederhana. Periksakan tekanan darah hari ini, ajak orang tua kita ke puskesmas akhir pekan nanti, kurangi garam di masakan rumah, berjalan kaki dua puluh menit sehari, dan matikan rokok untuk selamanya.
Jantung kita telah setia berdetak sekitar seratus ribu kali setiap hari tanpa pernah meminta imbalan. Sudah saatnya kita membalas kesetiaan itu dengan perhatian yang tulus, karena setiap detak adalah hadiah, dan tak satu pun boleh terlewatkan.
“Kesehatanlah kekayaan yang sesungguhnya, bukan kepingan emas dan perak.” Mahatma Gandhi, tokoh kemanusiaan dan pemimpin kemerdekaan India

