Oleh: 𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣
HARI ini, 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Biasanya, tanggal ini identik dengan suasana super serius: upacara berdiri tegap, barisan rapi presisi, pakaian dinas licin disetrika kaku, dan aliran keringat di dahi yang menetes deras bak air terjun Bantimurung.
Nah, di tengah keheningan yang khidmat itu, isi kepala saya malah melantur ke mana-mana. Saya mendadak kepikiran hal yang sangat mendasar: mengapa para sesepuh bangsa memilih burung sebagai lambang negara? Mengapa harus BURUNG GARUDA lagi! Burung yang kalau kita cari wujud aslinya, lebih susah daripada mencari sisa kembalian uang parkir!
Secara logis, ini pilihan yang lumayan ekstrem. Garuda itu, jangankan hinggap di dahan mangga, di brosur satwa langka pun gambarnya mirip lukisan gaib. Beda sama bebek yang tiap jam sibuk bikin kemacetan di lorong-lorong warga.
Karena rasa penasaran yang meluap-luap, saya pernah sengaja bertandang ke Taman Margasatwa Ragunan. Niatnya mulia: ingin ketemu Garuda secara face-to-face.
Saya langsung meluncur ke area unggas. Baru sejenak pasang mata, wushhh! Seekor burung berukuran sedang meluncur dari udara bak rudal jarak pendek, lalu tanpa ba-bi-bu langsung mencabik anak ayam di tanah. Gerakannya secepat kilat. Anak ayam yang naas itu pun seketika menandatangani kontrak penerimaan kepergian bersama Malaikat Izrail, sang pencabut nyawa.
Melihat adegan penuh aksi bak film Hollywood itu, batin saya langsung bersorak, “Aha! Burung Garuda na kapang iye!” Gagah sekali, terbang membumbung tinggi, lalu menukik dengan kecepatan suara.
Tapi begitu burung itu mendarat dan saya amati baik-baik paruhnya… lho, ternyata bukan Garuda! Itu jana’, alias burung elang!
Paruhnya bengkok tajam mirip pisau kandao, cakarnya kayak tang catut, dan wataknya ganas bukan main. Kalau burung ini melintas di udara, seluruh induk ayam kampung langsung membunyikan sirine evakuasi darurat bencana: lari makkamperru’! Lari maraton demi menyelamatkan garis keturunan satwanya.
Saya paham betul tabiat elang (jana’). Maklum, sejak kecil saya sering melihatnya beraksi karena rumah saya tidak begitu jauh dari lapangan dan Bulu Ateng.
Elang di sana kerjanya bak intelijen terlatih—bergerilya memata-matai anak ayam dari balik dahan. Bahkan, elang itu pernah menuntaskan misi khusus: menghabisi manu’na indo’ku mêlo’ silosi—ayam ibuku yang jumlahnya hampir selusin!
Sejak saat itu, bagi keluarga kami, elang bukan lagi sekadar burung pemangsa. Ia sudah masuk daftar hitam keluarga—bersama orang yang suka mengambil ayam tetangga!
Dari pengalaman berurusan dengan unggas itulah, imajinasi saya makin liar. Dulu, saya sering ikut berburu menggunakan senapan angin. Ada Jufri dan Jamal Nurdin, dua bersaudara yang memang jago menembak. Bidikan mereka nyaris selalu tepat sasaran. Kalau mereka yang memegang senapan, burung pune-pune atau campong (bangau) langsung ketar-ketir, pasrah berpindah alam baka.
Tapi kalau saya yang membidik? Burung malah santai bertengger sambil merapikan bulu. Burung tidak perlu lari; yang perlu siaga justru orang yang kebetulan lewat di depan saya! Sebab, peluru kaliber 4,5 mm itu sangat mungkin salah alamat—burung selamat, betis orang lain yang jadi korban!
Melihat gaya burung elang yang begitu gagah dan ganas, pikiran melantur saya kembali bertanya-tanya: mengapa dulu bukan burung elang saja yang dijadikan lambang negara? Kan sama-sama terbang tinggi, cakar kuat, dan pandangan tajam?
Tapi kalau elang yang dipilih, bisa-bisa anak-anak sekolah bukannya menghayati nilai perjuangan, malah menunjuk gambar di dinding sambil berkata, “Bu, itu kan burung yang kemarin men-smackdown anak ayam di belakang rumah?”
Di situlah saya sadar: Garuda bukan unggas yang nongkrong di dahan mangga, melainkan simbol mitologi yang memuat sejarah, martabat, dan falsafah bangsa. Kalau saya tak pernah menemukannya di Ragunan, bukan Garudanya yang gaib—mata saya saja yang terlalu rajin mencari burung di kandang yang salah!
Garuda Pancasila bukan sekadar pajangan di dinding. Di dadanya ada perisai lima sila, cakarnya mencengkeram pita Bhinneka Tunggal Ika. Pesannya jelas: bangsa boleh warna-warni, tetapi jangan sampai beda warna berubah menjadi beda urat leher!
Sekadar guyonan, bukan fakta atau ramalan politik. Ini cuma lecco-lecco ada—jangan sampai urat leher ikut tegang.
Kalau Punggawa negeri laki-laki, dalam banyolan ini tetap burung Garuda. Kalau perempuan, berubah menjadi kacang Garuda. Lantas, kalau suatu saat Punggawa negeri bukan laki-laki dan bukan perempuan? Bukan kacang Garuda, bukan pula burung Garuda. Tapi… loyo burunna!
Namanya juga lecco-lecco ada. Kita kembali ke pesan Garuda yang sesungguhnya: persatuan.
Sayangnya, pesan itu sering kalah oleh urusan receh sehari-hari.
HP berdering keras saat shalat—yang khusyuk langsung buyar. Sein kiri berkedip, kendaraan malah belok kanan—logika ikut belok. Mobil diparkir terlalu mepet—pintu sebelah ikut kena embargo. Sandal tertukar di masjid—ibadah selesai, investigasi dimulai. Antrean kasir diserobot—senyum langsung masuk masa pensiun. Pesanan makan siang datang ketika makan siang hampir berubah menjadi makan sore—perut mulai mengajukan nota keberatan.
Yang berubah bukan cuma suasana, tetapi juga raut wajah. Dari senyum santai, mendadak berubah menjadi mode siap tempur. Seolah-olah Bhinneka Tunggal Ika sedang diuji bukan di ruang sidang, tetapi di masjid, jalan raya, parkiran, kasir, dan meja makan!
Beda pendapat bukannya mencari jalan tengah, malah sibuk mencari alasan untuk me-critic atau me-out kawan dari grup.
Garuda di dinding punya satu badan untuk merangkul jutaan perbedaan. Anehnya, kita yang punya jutaan kesempatan justru kadang membuat persatuan hanya bertahan sebatas status WhatsApp—hilang sebelum sempat dibaca semua anggota grup!
Lebih lucu lagi, sayap Garuda bisa terbang tinggi menembus awan, sementara kita sering memakai “sayap” perasaan untuk terbang menjauh dari orang yang berbeda pendapat. Baru beda pandangan sedikit, hati langsung naik ke langit; diajak berdamai, gengsi malah minta mendarat dulu!
Padahal, Garuda tidak pernah protes, “Aduh, berat sekali lima sila ini. Bisa minta diskon jadi tiga?”
Maka, Hari Kesaktian Pancasila jangan berhenti pada seremoni, sewa baju adat, dan selfie di bawah Garuda. Jangan sampai foto tersenyum di bawah lambang persatuan, tetapi keluar ruangan langsung unfriend kawan gara-gara beda pilihan!
Persatuan tidak akan sakti kalau cuma gagah di spanduk, sementara silaturahmi kita putus seperti kabel Wi-Fi. Islam mengingatkan: lā yadkhulul-jannata qāṭi‘u raḥim—tidak masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.
Garuda boleh mengepakkan sayap di lambang negara. Kita yang harus mengepakkan sayap persaudaraan dalam kehidupan nyata. Sebab persatuan bukan untuk dipajang, tetapi untuk dijalankan.
Wallāhu a‘lam.
𝟭 𝗢𝗸𝘁𝗼𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟲 (𝗦𝗞)

