Site icon KABARIKA

Mendengar Sebelum Terlambat: Sekolah, Dompet yang Menipis, dan Jiwa Anak Bangsa

Amril TG

Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.

Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)

“Tiada pengungkapan yang lebih tajam tentang jiwa sebuah masyarakat selain cara ia memperlakukan anak-anaknya.“ (Nelson Mandela, Pretoria, 8 Mei 1995)

Kalimat Mandela itu terasa sangat dekat ketika dunia kembali memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2026. Peringatan ini lahir dari gagasan yang sederhana.

Pada 10 Oktober 1992, Richard Hunter, Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Kesehatan Jiwa Dunia, memprakarsai sebuah siaran dari Tallahassee, Florida, yang diikuti peserta dari lima benua.

Dua tahun kemudian, di bawah Sekretaris Jenderal Eugene Brody, peringatan itu memiliki tema resmi pertamanya tentang peningkatan mutu layanan kesehatan jiwa di seluruh dunia, dan 27 negara melaporkan kegiatan mereka. Dari satu siaran kecil, tanggal 10 Oktober tumbuh menjadi gerakan global yang kini didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan PBB.

Tahun ini temanya “Pengalaman Hidup Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata”, sebuah ajakan agar mereka yang pernah bergulat dengan gangguan jiwa tidak lagi sekadar diminta bercerita, tetapi ikut menentukan kebijakan dan layanan yang menyangkut hidup mereka.

Ajakan itu datang pada saat yang genting. WHO mencatat lebih dari satu miliar orang hidup dengan gangguan kesehatan jiwa, dan sekitar 727.000 nyawa hilang akibat bunuh diri pada 2021.

Depresi dan kecemasan saja menggerus perekonomian dunia sekitar satu triliun dolar AS setiap tahun, terutama lewat hilangnya produktivitas. Meski begitu, nilai tengah belanja pemerintah untuk kesehatan jiwa bertahan di angka 2 persen dari anggaran kesehatan sejak 2017, dan dunia hanya memiliki 13 tenaga kesehatan jiwa untuk setiap 100.000 penduduk. Kita seperti tahu rumah sedang retak, tetapi terus menunda memanggil tukang.

Tantangan ke depan makin berat karena jiwa manusia tidak pernah hidup terpisah dari isi dompetnya.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh 3,0 persen pada 2026, tertahan guncangan perang yang memukul negara pengimpor energi, sementara penurunan inflasi global terhenti dan gelombang kecerdasan buatan baru mengangkat negara yang sudah siap.

Dalam bahasa dapur, harga kebutuhan sulit turun dan kepastian kerja makin mahal. Ketidakpastian semacam itu merupakan lahan subur bagi cemas, putus asa, dan pertengkaran di rumah.

Indonesia tidak kebal.

Bank Dunia memang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2 persen, tetapi laporan yang sama mencatat indeks kegiatan pabrik turun ke 49,3 pada Agustus dan keyakinan konsumen melemah.

Di balik angka pertumbuhan itu, sekitar 7,22 juta orang masih menganggur pada Mei 2026 dan 10,73 juta lainnya berstatus setengah penganggur. Setiap angka itu punya wajah: ayah yang pulang tanpa kepastian, ibu yang menghitung ulang uang belanja, dan anak yang tanpa suara menyerap ketegangan di meja makan.

Anak itulah yang paling dulu memberi tanda. Program Cek Kesehatan Gratis yang telah memeriksa sekitar 7 juta anak menemukan 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak bergejala cemas dan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak bergejala depresi. Survei kesehatan pelajar menunjukkan proporsi siswa yang pernah mencoba mengakhiri hidup naik dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Yang menyentak, pemicu terbesarnya justru persoalan pengasuhan dan konflik keluarga, yakni 24 sampai 46 persen, disusul perundungan 14 sampai 18 persen, sedangkan tekanan akademik 7 sampai 16 persen.

Padahal penolong masih sangat sedikit. Psikolog klinis di puskesmas baru sekitar 203 orang, dan seorang guru bimbingan konseling harus menghadapi sekitar 570 murid, jauh dari ukuran ideal 150.

Di titik inilah pendidikan menjadi jawaban, dan di sinilah Indonesia punya sesuatu untuk ditawarkan kepada dunia. Negara ini tidak akan pernah memiliki cukup psikiater dalam waktu dekat, tetapi kita memiliki jutaan guru yang setiap pagi menatap wajah murid satu per satu. Sekolah ialah tempat paling masuk akal untuk mengenali luka sebelum ia membesar.

Langkah pertama sudah dimulai dan perlu dituntaskan. Pemerintah menargetkan pemeriksaan kesehatan jiwa menjangkau 25 juta anak, dan sembilan kementerian serta lembaga telah meneken keputusan bersama tentang kesehatan jiwa anak pada Maret 2026. Kuncinya terletak pada tindak lanjut.

Hasil pemeriksaan harus berujung pada pendampingan di sekolah dan rujukan ke puskesmas, dengan kerahasiaan murid terjaga agar tidak lahir cap baru yang menyakitkan.

Langkah kedua, setiap guru perlu menjadi pamong, sebagaimana diajarkan Ki Hajar Dewantara lewat sistem among yang menuntun dengan kasih, bukan menghukum dengan takut.

Arah itu telah ditetapkan melalui Peraturan Mendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang menggeser bimbingan konseling dari menunggu masalah menjadi mencegah, dengan sasaran menyentuh lebih dari 2,8 juta guru pada 2029.

Agar tidak berhenti sebagai slogan, kecakapan memberi pertolongan pertama pada luka psikologis layak masuk ke pendidikan profesi guru, dan pengangkatan guru bimbingan konseling perlu dipercepat.

Langkah ketiga, ajarkan kecakapan hidup yang sesuai dengan zamannya. Anak perlu belajar menamai perasaan, meminta tolong, dan menolak perundungan, juga belajar mengelola uang, sebab kecemasan ekonomi keluarga hari ini akan menjadi kecemasan mereka esok hari. Karena pengasuhan menjadi pemicu terbesar, sekolah patut membuka kelas orang tua secara berkala. Menyembuhkan anak tanpa menyapa rumahnya ibarat mengeringkan lantai sambil membiarkan atap tetap bocor.

Langkah keempat, hidupkan tema tahun ini di ruang kelas. Dengarkan murid. Libatkan mereka yang pernah jatuh dan bangkit sebagai pendamping sebaya, dan ajak mereka menyusun aturan sekolah tentang perundungan.

Kita mewarisi modal budaya yang jarang dimiliki bangsa lain, yaitu gotong royong, musyawarah, dan tepa selira. Bila modal itu dipakai untuk melawan stigma bahwa gangguan jiwa berarti lemah atau kurang iman, Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia sebuah model kesehatan jiwa berbasis sekolah dan komunitas yang murah, hangat, dan manusiawi.

Semua itu memang membutuhkan anggaran, justru ketika keuangan negara sedang ketat. Namun hitungannya jelas. Kajian yang dipimpin WHO menunjukkan setiap satu dolar yang ditanam untuk menangani depresi dan kecemasan kembali menjadi empat dolar dalam bentuk kesehatan dan kemampuan bekerja.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan bahwa berinvestasi pada kesehatan jiwa berarti berinvestasi pada manusia, komunitas, dan perekonomian. Bangsa yang ingin memetik bonus demografi tidak bisa membiarkan generasi mudanya tumbuh pintar tetapi patah.

Maka 10 Oktober tahun ini jangan berlalu sebagai pita hijau di kerah baju. Jadikan ia janji bahwa setiap sekolah di negeri ini akan memiliki satu orang dewasa yang sungguh mau mendengar, satu ruang yang aman untuk bercerita, dan satu jalan yang jelas menuju pertolongan.

Bagi siapa pun yang sedang memikul beban sendirian, bercerita bukan tanda kalah. Layanan krisis kesehatan jiwa Healing119 dari Kementerian Kesehatan dan puskesmas terdekat terbuka untuk Anda.

Krisis ekonomi akan datang dan pergi, tetapi anak yang merasa didengar akan tumbuh menjadi orang dewasa yang sanggup menghadapi krisis apa pun.

“Satu anak, satu guru, satu pena, dan satu buku dapat mengubah dunia.“ (Malala Yousafzai, Markas Besar PBB, 12 Juli 2013)

Exit mobile version