Site icon KABARIKA

Childfree Dalam Pandangan Islam: Menuju Ibu Sukses Dunia dan Akhirat

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga membangun keluarga dan melanjutkan generasi. Dalam Islam, anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga, dirawat, dan dididik menjadi generasi saleh.

Allah menegaskan bahwa Dia menjadikan pasangan, anak-anak, dan cucu-cucu sebagai bagian dari karunia-Nya (QS. An-Nahl: 72). Rasulullah SAW. juga menganjurkan umatnya untuk menikahi pasangan yang penyayang dan memiliki keturunan (HR. Abu Dawud).

Lalu, bagaimana dengan childfree, yaitu keputusan untuk tidak memiliki anak secara sengaja? Persoalan ini perlu dipertimbangkan secara bijaksana. Tidak memiliki anak karena kondisi biologis atau alasan medis berbeda dengan keputusan menolak keturunan secara permanen tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Karena itu, penilaiannya perlu mempertimbangkan alasan, kondisi, dan tuntunan agama.

Kesuksesan seorang ibu tidak hanya diukur dari kemampuannya melahirkan, tetapi juga dari cinta, keteladanan, pengorbanan, dan keberhasilannya mendidik generasi. Allah memerintahkan orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6). Anak yang saleh pun menjadi salah satu jalan mengalirnya pahala melalui doa dan kebaikannya.

Namun, perempuan yang belum memiliki anak tidak boleh direndahkan. Kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh statusnya sebagai ibu atau bukan ibu (QS. Al-Hujurat: 13).

Karena itu, keputusan mengenai keturunan hendaknya dibicarakan bersama pasangan dengan mempertimbangkan agama, kesehatan, kesiapan mental, dan masa depan keluarga.

Walhasil, memiliki anak adalah anugerah, mendidiknya merupakan amanah dan ibadah. Ibu yang sukses bukan hanya melahirkan generasi, tetapi juga membentuk manusia berakhlak mulia yang membawa kebaikan bagi dunia dan akhirat.

Karena itu, persoalan childfree hendaknya tidak disikapi dengan penghakiman, melainkan dengan dialog, pemahaman agama, dan pertimbangan yang matang. Suami istri perlu membicarakan keinginan memiliki keturunan secara terbuka, berkonsultasi dengan tenaga medis jika terdapat kendala kesehatan, serta memperkuat kesiapan spiritual, mental, dan tanggung jawab keluarga.

Jangan menolak anugerah karena takut menghadapi amanah, tetapi jangan pula mengabaikan kondisi nyata dalam mempersiapkannya. Sebab, keluarga yang sukses bukan sekadar tentang hadirnya anak, melainkan tentang cinta, tanggung jawab, dan ketakwaan dalam menjalani kehidupan.

Memiliki anak adalah anugerah, mendidiknya adalah ibadah, dan menyiapkan generasi berakhlak mulia adalah investasi kebaikan dunia dan akhirat.🙏*MK*

Exit mobile version