Oleh: 𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣
HARI ini saya tidak sedang berdiri di barisan upacara untuk lomba sarung Wadimor paling elegan, atau lomba kopiah paling mentereng modelnya. Tidak!
Hari ini saya berdiri mematung, membiarkan ingatan melompat 35-an tahun ke belakang, melompati kampung, meloncati gunung, langsung mendarat di sebuah kawah candradimuka bernama Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad — DDI Kaballangan, Kabupaten Pinrang.
Jika dunia punya Harvard dan Oxford yang mahasiswanya pakai jas dan dasi, maka bagi saya, Pesantren DDI Kaballangan di era 1980-an adalah universitas kehidupan yang santrinya pakai sarung yang kalau salah lipat bisa jadi rok mini.
Di sanalah ribuan santri ditempa, bukan hanya dengan kapur dan papan tulis, tapi dengan kedisiplinan yang menguliti malas, ketundukan yang mematahkan angkuh, dan jadwal padat yang bikin mata kami lebih sering merem daripada melek — tapi kisah-kisah jenakanya sampai hari ini masih mengocok perut kalau diingat.
Saya menjadi santri di sana di sebuah zaman yang diberkahi, zaman di mana belum ada HP, belum ada TikTok, hiburan kami cuma menghafal.
Kami, para santri, mendapat kemuliaan yang tak terkira: dituntun langsung oleh Allamah Besar Indonesia Timur, Anregurutta K.H. Abdurrahman Ambo Dalle.
Dari tangan dingin beliau, jaringan DDI mekar hingga ratusan cabang ke pelosok Tanah Air. Dan kami, santri Kaballangan yang sarungnya tidak bermerek itu, adalah saksi hidup bagaimana ilmu diturunkan bukan sekadar dengan lisan, tapi dengan wibawa, dengan tatapan mata yang sekali kedip saja santri langsung hafal 10 baris, dan dengan keberkahan yang sampai hari ini masih kami bawa pulang.
Jadwal di Pesantren kami? Jangan ditanya, nanti Anda kasihan.
Sejak azan Subuh pecah, mesin kehidupan santri sudah tancap gas tanpa pemanasan. Mata saya masih setengah terpejam, masih mimpi ketemu bidadari, melawan gigil angin Kaballangan yang menusuk, tapi telinga wajib tegak 90 derajat mendengar muthala’ah kitab turats dari guru-guru jebolan Timur Tengah yang hafalannya setajam silet. Salah baca satu huruf, langsung disambar!
Pagi lanjut sekolah formal pakai seragam putih hitam atau putih putih, sore ganti sarung kembali ke kitab kuning yang isinya huruf gundul, Maghrib ngaji lagi seperti Subuh, Isya masih ada tambahan bonus.
Ritme santri itu melelahkan, tapi syahdu. Melelahkan karena bikin ngantuk, syahdu karena bikin rindu.
Inilah bedanya santri dulu dan sekarang. Disiplin kami diuji dengan cara yang hari ini kalau di-upload ke TikTok pasti viral, masuk TV, guru dilaporkan ke Komnas HAM. Kalau santri disuruh hafal lalu ‘tassakka’ tidak hafal, maka melayanglah “pukulan Mike Tyson” dari guru. Plak! Mabbuttu Pelleng Ulue.
Tidak ada diskusi, tidak ada pertanyaan “berdara apa kamu, warna merah atau merah marun?”
Tidak ada surat cinta dari orang tua. Yang ada cuma air mata yang jatuh diam-diam ke kitab.
Ajaibnya, tidak ada satu pun santri yang dendam. Saya pun tidak. Demi Allah, tidak! Sebab mengharap kebaikannya.
Pukulan itu kami rasakan bukan sebagai kekerasan, tapi sebagai sabetan kasih sayang yang bertabur berkah, yang bikin hafalan yang tadinya muter-muter di kepala langsung lengket seperti perangko.
Seandainya guru-guru kami tidak segarang itu, nappanna maneng Lopero’ — pastilah kami menjadi bodohnisasi permanen, hafalannya cuma hafal lagu dangdutnya Bang H. Rhoma Irama dan jogetnya Elvi Sukaesih.
Kalau sekarang siswa dipukul guru, lusinan keluarganya datang melapor ke polisi bawa pengacara.
Ya, lain ikan mero lain cakalang, lain dulu lain sekarang. Dulu dipukul jadi ulama, sekarang dicubit jadi viral.
Di sela padatnya ngaji itu ada Olimpiade paling bergengsi di pondok, yang medali emasnya bukan piala, tapi bisa mandi duluan: berebut antrean kamar mandi. Manuver santri pagi-pagi itu lebih cepat dari pembalap MotoGP Mandalika. Sarung diangkat setinggi paha, ember di tangan, sandal jepit bunyinya cetak-cetok seperti kuda lumping, semua lari demi tidak terlambat masuk kelas. Jika telat, siap-siap di-smackdown dua kali: smackdown dari guru dan smackdown dari antrean yang sudah bubar!
Lalu Zuhur tiba. Allahu Akbar. Beduk belum selesai dipukul, tak kurang 1.500 santri laki-laki sudah tumplek-blek memadati Masjid Al-Wasilah seperti semut hitam menyerbu gula. Shaf rapat, sampai tidak ada celah buat setan Sumiati lewat, sujud serempak, bangun berbarengan, kalau ada satu mettu’ lemo (kentut), satu masjid tercium bau parakang!
Bau keringat dan minyak wangi bercampur jadi parfum khas santri Pesantren DDI Kaballangan, aromanya antara Misk impor dari Mekkah dan balsem Geliga dari warung Ambo’ Kulau — wangi surga campur perjuangan, wangi ikhlas campur pegal-pegal. Tidak dijual di toko, hanya ada di masjid Ak Wasilah. Tak ada santri putri di sini, jangan ngarep. Markasnya jauh di Pesantren DDI Ujung Lare, Parepare. Jauhnya seperti jarak harapan dan kenyataan.
Maka jangan heran, kalau tiba-tiba ada santri Kaballangan yang lagi rebahan di kamar kos mendadak rajin turun ke lapangan, lari kencang sampai sarungnya hampir lepas. Itu bukan karena rajin olahraga. Itu karena intelijen santri paling canggih telah mendeteksi: ada sosok ‘satriwati’ — alias kombak — masuk kompleks!
Seketika puluhan santri laki-laki itu mengerumuni ‘kombak’ tersebut seperti wartawan mengerumuni pejabat yang baru ketahuan korupsi. Rebutan lihat, rebutan mendekati, bagai melihat bidadari modern!
Sore hari, masjid kembali riuh. Di Masjid Al-Wasilah, bab Nahwu dan Sharaf dibedah habis-habisan. Fi’il, Fa’il, Mubtada, Khabar beterbangan di udara seperti nyamuk sore hari. Guru menjelaskan dengan berapi-api, “Ini Fa’il harus marfu’!”
Tapi rumus-rumus itu sering kalah cepat dengan kantuk. Ilmu Nahwu melaju dengan kecepatan cahaya, sementara kelopak mata santri melaju lebih cepat lagi menuju alam mimpi.
Kami dan santri lainnya kerap mengangguk-angguk dengan khusyuk. Anggukannya begitu istiqamah dan khidmat, sampai-sampai orang yang melihat pasti menyangka kami sangat paham matan kitab — khusyuknya sudah level wali. Padahal kepala kami nyaris mencium lutut sendiri karena tertidur pulas sambil bersila!
Teman membangunkan, saya jawab enteng: “Saya tidak tidur, saya sedang merenungkan makna Fa’il yang ghaib!”
Dan inilah komunitas legendaris kami yang paling dirindukan: Anak Candu.
Jangan salah sangka dulu. Bukan candu yang bikin mata merah dan masuk bui. Ini candu yang bikin mata melek semalam suntuk sampai khatam 30 Juz! Namanya ANCABA — Anak Candu Baca Doang. Pasukan elitnya santri.
Tugas mulia santri ANCABA ini berat: mengkhatamkan Al-Qur’an untuk orang yang berpulang ke rahmatullah. Tugasnya akhirat, tapi imbalannya duniawi dan sangat dirindukan santri: upah seikhlasnya plus sekantong makanan sokko’ na likku’ manu’ yang cukup untuk hidup enak empat hari empat malam.
Tidak perlu masak, tidak perlu cuci piring, tinggal makan. Karena itu, semua santri berlomba ingin jadi ANCABA. Berebut jadi ahli surga yang dapat bonus dunia.
Masalahnya, armada jihadnya cuma satu dua mobil open cup, isinya cuma 15 orang. Sementara yang ingin ikut 500-an orang. Persaingannya lebih ketat dari seleksi CPNS!
Di era tanpa HP kala itu, kedatangan mobil adalah kode alam paling misterius. Tidak ada WA, tidak ada pengumuman. Warga yang butuh doa santri datang mendadak, biasanya habis Maghrib atau Isya, dengan derum mesin yang khas.
Maka lahirlah taktik intelijen santri tingkat Mossad. Saya punya dua tiga kawan yang saking obsesinya ingin ikut ANCABA — alias ingin keluar pondok dan dapat nasi bungkus — setiap malam memilih posisi duduk super strategis: persis di dekat pintu utama masjid. Shalatnya paling khusyuk di situ, bukan karena ingin dekat imam, tapi karena dekat pintu pelarian! Sandalnya sudah menghadap keluar. Tujuannya satu: begitu dengar derum mesin parkir, langsung take-off tanpa baca doa naik kendaraan!
Suatu malam, derum itu terdengar. Brummm! Kawan saya ini, tanpa cek dan ricek, tanpa tabayyun, tanpa istikharah, melompat bak atlet lompat indah SEA Games dan langsung parkour naik ke bak mobil open cup. Ia sudah senyum kemenangan di atas bak mangngolo monri sambil memegang pinggiran bak mobil open cup, songkoknya mappenyok — songkok miring — dan dadanya membusung, merasa jadi pahlawan nasional yang terpilih.
Musibah lucu pun terjadi. Ternyata itu bukan mobil penjemput santri baca doa, melainkan mobil kijang butut orang tua santri lain yang datang jauh-jauh dari kampung hanya untuk menjenguk anaknya sambil bawa pisang rebus!
Ia salah mobil! Salah niat! Di atas mobil ia berhadapan dengan seorang bapak yang melongo: “Kamu siapa, Nak?” Seketika masjid pecah oleh tawa yang sampai mengguncang kubah Masjid Al-Wasilah. Sejak malam itu kami sepakat memberi gelar baru: bukan lagi santri ANCABA, tapi santri ANCAKBA — Anak Candu Salah Lompat Mobil Bak!
Inilah definisi paling otentik dari bajing loncat versi pesantren — meloncat karena nafsu nasi bungkus, mendarat karena malu akut.
Tertawa itu ibrah. Dari kisah santri bajing loncat itu saya belajar satu hal: semangat tanpa ilmu akan membuatmu salah naik kendaraan kehidupan. Niatnya mau mengantar orang ke surga, eh malah nyasar ke mobil pisang rebus.
Sepanjang hidup saya sekolah di banyak tempat, hingga mukim di Arab: dari sekolah yang pakai dasi sampai yang pakai sarung, tapi masa menjadi santri inilah yang paling berkesan dan tak tertandingi. Paling capek, paling seru, paling sering kena paggalecce’ (cubitan maut), tapi paling rindu.
Maka sungguh rugilah, rugi dunia akhirat, para orang tua yang tidak memasukkan anaknya ke pesantren sedini mungkin.
Kalau anak cuma dititip di les bimbel, ia akan pintar menjawab soal. Tapi kalau dititip di pesantren, ia akan pintar menjawab pertanyaan Malaikat Munkar Nakir di liang lahad!
Kenapa? Karena inilah nilai pendidikan yang saya petik sebagai santri kampung:
Mata pelajaran umum itu hebat, saya akui. Tapi ijazahnya hanya laku di dunia. Coba bawa ijazah juara Olimpiade Matematika ke alam kubur, malaikat tidak akan tanya, “Berapa nilai kalkulusmu?” Olahraga paling hebat, fisika paling jenius, hingga kedokteran paling bergengsi sekalipun, batas manfaatnya hanya sampai pelataran dunia. Di UGD masih laku, di alam barzakh sudah expired.
Tapi ilmu agama — ilmu yang kami eja sebagai santri dengan susah payah sambil ngantuk, sambil lapar, sambil berebut kamar mandi — adalah satu-satunya mata pelajaran yang ijazahnya masih laku di alam kubur. Satu-satunya pelajaran yang berlaku roaming-nya sampai akhirat. Tidak perlu perpanjangan STR, tidak perlu akreditasi BAN-PT. Ijazahnya abadi.
Ini bahayanya jika anak tidak punya dasar agama. Ia belajar dunia terus, seolah hidup ini seperti langganan Netflix: habis paket, habis cerita, tamat. Padahal hidup ini ada Season 2-nya, dan Season 2 itu tidak bisa di-skip, tidak bisa di-Premium-kan, wajib ditonton semua orang. Dan yang ngeri, di Season 2 tidak ada tombol “Lewati Intro Malaikat”.
Lihatlah saat ini. Sekolah umum hanya memberikan durasi kurang lebih dua jam pelajaran agama dalam sepekan. Sementara Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan matematika, durasinya tiga kali seminggu. Porsinya tidak seimbang. Hasilnya? Otak pintar tapi akhlak kurang, ranking satu tapi adab minus.
Sebutlah, pintar matematika, pandai menghitung, pintar makkali-kali — pintar kali-kali — akhirnya yang dikali-kalikan adalah markup proyek orang lain. Pintar bagi-bagi, akhirnya harta warisan orang lain yang dibagi-bagi. Pintar tambah-tambah, pintar nambah istri lima seperti di belakang rumahku, nambah cicilan riba, akhirnya yang ditambah cuma dosa tiap hari. Pintar pengetahuan umum, tapi lupa caranya jadi manusia yang beradab.
Itulah bedanya produk pesantren. Santri diajari bukan cuma pintar mengisi kepala, tapi pintar mengisi hati.
Maka saya yakin, menuntut ilmu bukan lomba kumpul gelar atau lomba cap paspor. Itu cuma lomba baliho. Ilmu yang hakiki adalah ikhtiar memperbaiki diri.
Selamat Hari Santri. Untuk semua santri yang sarungnya sobek karena rajin, kitabnya basah karena wudu, dan kopiahnya miring karena kebanyakan mikir — kalian sedang menempuh jalan yang ijazahnya tidak akan pernah expired.
Wallahu a’lam bishawab.
𝟮𝟮 𝗢𝗸𝘁𝗼𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟲 (𝗦𝗞)

