Site icon KABARIKA

Santri di Era Digital: Penjaga Moral atau Sekadar Penonton Perubahan?

Oleh: Munawir Kamaluddin

Ada yang tidak berubah dari seorang santri meskipun zaman terus berubah, yakni semangat mencari ilmu, keteguhan iman, dan harapan agar hidupnya bermanfaat bagi sesama. Namun, di tengah dunia yang bergerak cepat, sebuah pertanyaan patut direnungkan: akankah santri menjadi penjaga moral peradaban digital, atau sekadar penonton perubahan yang diciptakan orang lain?

Kebanggaan terhadap masa lalu harus disertai keberanian menyiapkan masa depan. Pesantren telah mewariskan ilmu, adab, kedisiplinan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Namun, warisan luhur itu harus terus dikembangkan agar tetap relevan menghadapi tantangan zaman.

Kini, informasi menyebar dalam hitungan detik, kecerdasan buatan mengubah cara manusia belajar dan bekerja, sementara media sosial dapat menyebarkan kebaikan sekaligus mempercepat kebohongan. Popularitas pun tidak selalu mencerminkan kualitas, sebagaimana kecanggihan teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Di sinilah santri diuji, bukan sekadar seberapa banyak kitab yang dibaca, melainkan sejauh mana ilmu membimbing perilakunya. Kesalehan bukan hanya tentang ceramah di mimbar, tetapi juga tentang kejujuran dalam tulisan, kebijaksanaan dalam komentar, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disebarkan.

Menjaga moral bukan berarti menjauhi teknologi. Justru santri harus menguasainya tanpa kehilangan jati diri. Santri tidak perlu meninggalkan sarung untuk menguasai teknologi atau menjauhi kitab kuning untuk memahami kecerdasan buatan.

Yang harus ditinggalkan bukan tradisinya, melainkan cara berpikir yang menganggap bahwa mempertahankan tradisi berarti menolak pembaruan.

Pesantren perlu memperkuat literasi digital, pemikiran kritis, penelitian, kreativitas, kewirausahaan, dan penguasaan teknologi tanpa mengabaikan pendidikan akhlak. Santri harus didorong bukan hanya memahami ilmu, tetapi juga menciptakan gagasan dan menghadirkan solusi.

Pertanyaannya, apakah santri telah memperoleh ruang yang cukup untuk meneliti, berinovasi, dan menghasilkan karya? Apakah teknologi benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran, atau sekadar menjadi pelengkap fasilitas pendidikan?

Bayangkan jika santri tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi pencipta konten yang mencerahkan. Tidak hanya menggunakan kecerdasan buatan, tetapi memanfaatkannya secara kritis dan bertanggung jawab. Tidak hanya berbicara tentang kemandirian ekonomi, tetapi menciptakan usaha yang membuka lapangan pekerjaan.

Dakwah pun tidak harus berhenti di mimbar. Ia dapat hadir melalui aplikasi pembelajaran Al-Qur’an, penelitian yang menjawab persoalan umat, karya digital yang mencerdaskan, dan gerakan sosial yang mengangkat martabat manusia.

Santri yang hebat bukan sekadar mampu menjelaskan kebaikan, melainkan mampu mengubah ilmu menjadi tindakan dan tindakan menjadi kemaslahatan.

Tentu, transformasi ini membutuhkan dukungan kebijakan, peningkatan kompetensi guru, fasilitas pembelajaran, akses teknologi, serta kemitraan dengan perguruan tinggi dan dunia usaha. Santri di daerah terpencil pun harus memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang.

Kemajuan digital juga harus disertai etika, yakni memeriksa kebenaran informasi, menjaga privasi, menghormati hak cipta, menghindari plagiarisme, dan mempertahankan kemandirian berpikir. Keberhasilan pesantren bukan diukur dari banyaknya perangkat digital, melainkan dari kualitas ilmu, karakter, kreativitas, dan manfaat yang dihasilkan.

Pada momentum Hari Santri Nasional, kita perlu menegaskan bahwa santri bukan sekadar pewaris sejarah, melainkan calon pelaku sejarah masa depan.

Jika dahulu santri turut berjuang melawan penjajahan, kini perjuangan itu diteruskan melalui pendidikan, inovasi, integritas, kemandirian ekonomi, serta keberanian melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, dan penyalahgunaan teknologi.

Indonesia maju tidak cukup dibangun dengan gedung megah, internet cepat, atau teknologi canggih. Bangsa ini membutuhkan manusia yang cerdas sekaligus jujur, berdaya saing sekaligus berakhlak, dan maju tanpa kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Sebab, kecerdasan tanpa integritas dapat melahirkan manipulasi. Teknologi tanpa tanggung jawab dapat menjadi alat perusak. Kemajuan tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan peradaban yang megah secara fisik, tetapi rapuh secara moral.

Kepada para santri, jangan merasa kecil karena berasal dari pesantren sederhana. Kuasailah ilmu tanpa kehilangan adab, jelajahi dunia tanpa kehilangan jati diri, dan manfaatkan teknologi tanpa diperbudak olehnya. Gunakan kecerdasan buatan tanpa menyerahkan seluruh daya pikir kepadanya. Jadilah generasi yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan hubungan spiritual dengan Allah.

Hari Santri bukan sekadar perayaan identitas atau kebanggaan terhadap masa lalu. Ia adalah panggilan untuk membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren tetap hidup, relevan, dan memberi manfaat bagi masa depan.

Jangan hanya menjadi penonton ketika sejarah sedang ditulis. Jadilah bagian dari penulisannya. Jangan hanya menjadi pengguna ketika masa depan sedang dibangun. Jadilah penciptanya.

Sebab, kemuliaan seorang santri bukan semata-mata terletak pada identitas yang disandangnya, melainkan pada ilmu yang dikembangkan, akhlak yang ditegakkan, dan peradaban yang dibangunnya.🙏*MK*

Exit mobile version