Site icon KABARIKA

Es Batu: Pahlawan Musim Kemarau

Oleh: ๐™Ž๐™ช๐™› ๐™†๐™–๐™จ๐™ข๐™–๐™ฃ

ADA satu benda kecil yang semakin dicari manusia ketika musim panas tiba. Namanya ES BATU.

Dalam cuaca terik seperti sekarang, es batu sangat diminati hampir semua kalangan. Mulai dari kaum pria, perempuan, anak muda, orang tua, calabai, tau matanrรช longgaโ€™, tau mapancรชโ€™ dรชrรชโ€™, semua sepakat dalam satu hal: kalau sudah panas, enaknya minum es.

Coba pikir, pada Meiโ€“Oktober begini, pukul sebelas siang di Makassar itu bukan panas lagi, melainkan pemanasan global cuaca ekstrem. Keluar rumah lima menit, alรชpaโ€™ alias ketiak sudah bikin kolam renang sendiri. Kipas angin Maspion dinyalakan, yang keluar bukan angin, melainkan hawa panas.

Di saat itulah es batu datang seperti pahlawan tanpa tanda jasa.

Es batu itu demokratis sekali, mau bergaul dengan siapa saja. Orang kaya minum es, si miskin meneguk es, kuli bangunan pun menikmati kesegaran es.

Es batu tidak pernah bertanya agamamu apa, partaimu apa, masuk Senayan atau tidak, apalagi memeriksa kartu anggota dan surat dukunganmu. Yang penting kamu haus, es langsung menyelamatkan keadaan. Coba kalau manusia sesederhana es batu, Indonesia dari dulu sudah damai dan aman.

Ketika masuk warkop, saya biasanya ditawari, โ€œMau kopi panas, Pak?โ€ Saya buru-buru menggeleng. Panasnya saja sudah dari luar, masa saya masih mau memasukkan panas ke dalam tubuh? Matahari sudah memanggang sejak pagi, masa saya ikut membantu memanaskan dari dalam? Akhirnya, saya pilih minuman dingin, tentunya dengan kepungan es batu bertumpuk-tumpuk.

Di warung, mudah menemukan aneka minuman dingin: es teh, es jeruk, kopi dingin, es cendol dawet, es buah, dan es teler. Entah kenapa yang terakhir disebut es teler.

Saya sering makan es teler, tetapi tidak pernah sampai teler. Cuma sedikit pusing kalau nambah terus, sebab dompet ikut pusing. Ujung-ujungnya, bisa teler betulan!

Sebenarnya, kebahagiaan tidak perlu mahal. Cukup segelas minuman dingin di tengah cuaca panas, suasana hati sudah seperti mendapat subsidi kesejukan dari negara.

Tetapi saya punya satu pertanyaan: kenapa minum es malah membuat kita ingin minum es lagi?

Saya suka Thai tea super dingin. Setelah satu gelas habis, haus datang lagi. Tambah satu gelas, habis lagi, masih haus.
Pernah saya melihat seseorang memesan minuman dalam gelas superjumbo. Esnya penuh sampai sedotan hampir kehilangan tempat tinggal. Setelah habis, dia masih memesan ronde kedua, โ€œTambah satu lagi, Bu!โ€ Ini namanya tamposisiโ€™!

Saya ingin bertanya, ini mau menghilangkan haus atau mengisi bak mandi? Gayanya sudah bukan minum, melainkan instalasi air PDAM.

Namun, justru di situlah letak rezeki penjaga kedai. Pembeli datang karena dahaga, penjual pun sumringah. Ini simbiosis ekonomi yang paling jujur. Mungkin dalam hati ia berdoa, โ€œSilakan dahaga terus, Pak. Jangan buru-buru segar.โ€ Sebab kalau dahaganya lekas hilang, omzetnya juga ikut hilang! Namun, rezeki itu tidak datang tanpa drama takaran. Lucunya, kebanyakan diprotes, kesedikitan juga diprotes. Rupanya memuaskan pelanggan warkop lebih sulit daripada memuaskan mertua suka ngomel.

Takarannya harus pakai ilmu nujum. Salah sedikit, pelanggan langsung jadi ahli es batu, padahal belum tentu bisa bikin kopi sendiri.

Ada lagi yang minta es dipisah. Ini mau ngopi atau mau menguji ilmu kebatinan pelayan? Serba salah. Mestinya pelayan warkop itu sebelum kerja dilatih tiga ilmu: mengukur es, membaca ekspresi, dan mendeteksi calon pemrotes yang bahkan belum pesan. Di warkop, pelanggan belum tentu benar, tetapi pelayan wajib mengangguk. Kalau kebanyakan bongkahan, minuman pun kehilangan identitas.

Karena penasaran soal takaran itulah, hampir tiap pekan saya ke CFD Boulevard untuk jogging. Nyatanya, saya malah berburu nasi kuning dan es jeruk. Jogging cuma alibi biar makan banyak agar merasa sehat.

Pernah beli es jeruk yang isinya cuma empat senti, sisanya bongkahan es. Diaduk bunyi kletek, jeruknya tetap tipis. Rupanya jeruk cuma figuran, es pemeran utama.

Curiga ini bukan es jeruk, tapi es batu bermerek jeruk yang sedang menyamar. Harusnya ada label komposisi: jeruk 10 persen, es 90 persen, harapan pembeli 0 persen.

Dari kekecewaan itulah saya dapat filosofinya. Sederhana saja: jadilah dingin di dunia yang panas.

Di luar warung, yang panas bukan cuma cuaca, tetapi juga medsos, politik, dan kepala memikirkan cicilan. Jangan ikut jadi kompor. Satu matahari saja sudah cukup! Untung ada es batu, guru kesetiaan yang rela meleleh demi teh-mu, Bro! Manusia bilang selalu di sampingmu, giliran susah malah menghilang duluan.

Makanya, jangan remehkan segelas air dingin. Di musim kemarau begini, memberi minum orang yang kehausan dengan ikhlas karena Allah bisa menjadi amal kebaikan. Sebab yang menyejukkan dunia bukan cuma es batu, melainkan juga hati yang mau peduli kepada sesama.

๐Ÿฎ๐Ÿฒ ๐—ข๐—ธ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ (๐—ฆ๐—ž)

Exit mobile version