Site icon KABARIKA

Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung: Seni Menempatkan Diri dan Merawat Perbedaan

Oleh: Munawir Kamaluddin

Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung. Ungkapan ini bukan sekadar petuah tentang adat dan kebiasaan, melainkan filosofi kehidupan yang mengajarkan seni menempatkan diri, menghormati lingkungan, dan membangun hubungan sosial yang beradab.

Setiap tempat memiliki karakter, tradisi, norma, dan kearifan tersendiri. Kehadiran kita di tengah masyarakat menuntut kedewasaan untuk memahami lingkungan, menghargai perbedaan, serta menjaga sikap dan tutur kata. Jangan membawa kesombongan seolah-olah nilai dan kebiasaan kita paling benar, sebab kehidupan bersama membutuhkan kerendahan hati, bukan superioritas.

Namun, menghormati lingkungan bukan berarti kehilangan jati diri, apalagi mengorbankan prinsip kebenaran. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap harus menjaga adab, boleh mempertahankan prinsip, tetapi tidak perlu merendahkan orang lain. Sebab, kedewasaan seseorang terlihat dari kemampuannya menyampaikan kebenaran tanpa menciptakan permusuhan.

Dalam interaksi sosial, persoalan sering kali bukan terletak pada perbedaan, melainkan pada ego, prasangka, dan ketidakmampuan menerima keberadaan orang lain. Kita ingin dihargai, tetapi terkadang lupa menghargai. Ingin diterima, tetapi enggan memahami. Padahal, keharmonisan tidak dibangun dengan keseragaman, melainkan dengan kesediaan untuk saling menghormati.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (lita’arafu), bukan saling merendahkan (QS. Al-Hujurat: 13). Inilah fondasi kehidupan yang inklusif: perbedaan menjadi ruang silaturahim, keberagaman menjadi kekuatan, dan persaudaraan menjadi perekat kehidupan.

Karena itu, siapa pun yang hadir dalam suatu lingkungan hendaknya membawa manfaat, menjaga kehormatan, menghormati kearifan setempat, dan tidak menjadi sumber kegaduhan. Sebaliknya, masyarakat yang menerima kehadiran orang lain juga perlu menyediakan ruang yang adil, terbuka, dan manusiawi. Adaptasi dan penerimaan harus berjalan beriringan.

Dengan demikian, kearifan hidup bukan terletak pada kemampuan menuntut orang lain menghormati kita, melainkan pada kesanggupan menghormati orang lain tanpa kehilangan prinsip dan martabat diri.

Jangan merasa paling benar hanya karena berbeda latar belakang. Jangan merasa paling tinggi hanya karena memiliki kedudukan. Dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merenggangkan persaudaraan.

Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung. Jadilah pribadi yang tahu menempatkan diri, santun dalam berinteraksi, teguh dalam prinsip, lapang dalam perbedaan, serta selalu menghadirkan kebaikan.

Sebab, sebaik-baik kehadiran adalah kehadiran yang membawa kesejukan, dan sebaik-baik pergaulan adalah pergaulan yang meninggalkan kebaikan, bukan luka.🙏*MK*

Exit mobile version