Site icon KABARIKA

Ketegasan Seorang Andi Amran Sulaiman

Getteng Karena Paseng (Amanah)

Di Balik Sosok Menteri yang Ditakuti Mafia Pangan, Ada Paseng Orang Tua Bugis yang Dipegang Teguh

Oleh: Suharman Usman, SS.,SE.,MM

Kalau orang Jakarta melihat Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri yang galak, suka sidak, suka copot pejabat di lapangan, orang Bugis melihatnya beda. Bagi orang Bugis, itu bukan galak. Itu Getteng.

Getteng bukan marah-marah. Getteng adalah keteguhan memegang janji. Sekali bilang A, harus A. _Taro Ada, Taro Gau._ Ada janji, ada bukti. Dan Getteng itu tidak datang dari ruang rapat yang ber-AC. Getteng itu datang dari Paseng.

Amran adalah anak yang besar dengan Paseng dari leluhurnya, di rumah panggungnya sebagai orang Bugis.

*Paseng Pertama: _Resopa Temmangingngi, Namalomo Naletei Pammase Dewata_*

Hanya dengan kerja keras dan kejujuran, mudah meraih rahmat Tuhan.

Ini yang membuat dia tidak percaya dengan laporan di atas kertas. Dia harus lihat sendiri sawahnya.

Dia sidak gudang pupuk pada jam-jam kritis. Dia cek langsung harga gabah di penggilingan. Dia copot pejabat yang laporannya indah tapi beda dengan kenyataan di lapangan. Bagi dia, _resopa_ harus dilihat, bukan hanya dibaca.

Ketika 145 aturan pupuk mempersulit petani, dia tidak hanya rapat di kantor berbulan-bulan. Dia potong itu. Karena dia tahu, kalau aturan mempersulit kerja keras petani, maka aturan itu menghalangi _Pammase Dewata_.

Apa itu _Pammase Dewata_? Dalam bahasa Bugis, _Pammase_ berarti kasih sayang, rahmat, dan rezeki dari Tuhan. _Dewata_ adalah Tuhan. Jadi _Pammase Dewata_ bukan sekadar berkah abstrak, tapi rezeki nyata yang harus sampai ke tangan petani lewat hasil kerjanya. Kalau aturan membuat petani tidak bisa kerja, berarti aturan itu memutus jalan rezeki dari Tuhan.

*Paseng Kedua: _Taro Ada, Taro Gau_*

Simpan perkataan, simpan perbuatan. Konsisten antara kata dan perbuatan.

Presiden bilang swasembada 4 tahun. Andi Amran bilang siap. Tapi di dalam hatinya, dia sudah berjanji tidak akan membiarkan Presiden menunggu sampai 4 tahun.

Makanya ketika dia janji HPP gabah Rp6.500, dia kawal sampai Bulog menyerap. Ketika dia janji tidak impor, dia kunci keran impor meski banyak tekanan. Dan itulah hakikat _Taro Ada, Taro Gau_.

Kalau pemerintah bilang harga gabah Rp6.500, maka gabah petani harus dibeli Rp6.500, bukan Rp5.000 atau bahkan di bawahnya. Di sinilah ketegasannya lahir. Tegas bukan karena benci pada orangnya, tapi karena cinta pada janjinya.

*Paseng Ketiga: _Siri’ Na Pacce_*

Malu kalau rakyat lapar. _Siri’_ adalah harga diri, _Pacce_ adalah rasa pedih melihat penderitaan orang lain. Orang Bugis paling malu kalau tamunya lapar. Apalagi kalau bangsanya sendiri lapar padahal sawahnya luas.

Paseng inilah yang membuat Andi Amran meradang ketika melihat mafia memainkan harga.

Dia tidak melihat itu sebagai pelanggaran administratif. Dia melihatnya sebagai pelanggaran _Siri’_. Bagaimana bisa, negara agraris, tapi petani miskin dan rakyat harus impor beras. Makanya dia tindak dan lapor ke Kejaksaan.

Dia minta TNI-Polri kawal distribusi. Bukan karena dia ingin ditakuti, tapi karena _Pacce_-nya tidak tahan melihat petani menangis karena gabahnya tidak laku.

*Paseng Puncaknya: _Ade’ Temmakkuttue_*

Adat tidak boleh memutus rezeki.

Inilah Paseng yang menyatukan semua. Ketegasan Amran adalah upaya memotong semua _Ade’_ yang _Temmakkuttue_. Aturan pupuk yang berbelit, potong. Oknum yang menahan pupuk, copot. Sistem yang membuat petani rugi, bongkar. Karena bagi seorang Bugis yang matang memegang Paseng, memimpin bukan soal duduk di kursi empuk. Memimpin adalah memastikan tidak ada aturan buatannya sendiri yang membuat rakyatnya susah makan.

Tentu, tugas ini belum selesai. Harga beras di pengecer masih belum stabil di semua daerah, distribusi masih timpang, dan godaan impor akan selalu datang. Pangadereng mengajarkan, jangan cepat puas. Adab mengajarkan, jangan cepat memuji. Maka tulisan ini bukan pujian, tapi pengingat agar Getteng ini tidak berhenti di tengah jalan.

*Sebagai Penutup,* Andi Amran Sulaiman bisa tegas karena dia tidak memimpin dengan buku manual impor. Dia memimpin dengan Paseng yang dia hafal sejak kecil di kampungnya.

Dia tahu, jabatan menteri itu sementara. Tapi Paseng orang tuanya itu yang akan ditanya kelak di hadapan leluhurnya. Maka dia memilih Getteng.

Memilih untuk tidak disukai mafia, asal disukai petani. Dan hari ini, ketika stok beras Bulog 4,5 juta ton tertinggi sepanjang sejarah, dan Indonesia tidak impor beras, kita tahu: Paseng itu masih bekerja betul-betul sebagai amanah baginya. (*)

Exit mobile version