Site icon KABARIKA

Siapa yang Unggul Dalam Mendiagnosis Pasien, Dokter atau AI?

KABARIKA.ID, SHANGHAI — Persaingan antara manusia dan mesin menarik perhatian banyak orang di arena Konferensi Kecerdasan Artifisial Dunia (WAIC) 2025 di Shanghai, tempat para ahli radiologi beradu langsung dengan kecerdasan artifisial (AI).

Konferensi itu berlangsung pada 26-29 Juli 2025 di Shanghai World Expo Exhibition and Convention Center. Tema yang diusung adalah “Solidaritas Global dalam Era AI”

Salah satu sesi yang menarik dalam kegiatan tersebut adalah kompetisi manusia (dokter) melawan AI dalam menganalisis hasil rontgen pasien.

Kegiatan ini bertajuk ‘Kompetisi Sinergi AI-Manusia’ (AI-Human Synergy Competition).

Kompetisi Sinergi AI-Manusia menampilkan enam ahli radiologi terbaik dari Rumah Sakit Zhongshan, yang dibagi menjadi dua tim, yaitu “Kelompok Kolaborasi AI” yang dibantu oleh sistem AI, dan “Kelompok Manual” yang sepenuhnya mengandalkan keahlian pribadi mereka.

Kedua tim diberikan kasus rontgen dada yang sama dan diminta untuk menganalisis dan melaporkan temuan mereka secara langsung.

Seorang ahli radiologi dari Rumah Sakit Zhongshan berpartisipasi dalam Kompetisi Sinergi AI-Manusia. (Foto: xinhua)

Seorang ahli radiologi dari Rumah Sakit Zhongshan berpartisipasi dalam Kompetisi Sinergi AI-Manusia. (Foto: xinhua)

Siapa yang Unggul: Dokter atau AI?

Meskipun tim yang dibantu AI bekerja lebih cepat, namun mereka melewatkan beberapa diagnosis penting. Sedangkan tim manusia mampu mengidentifikasi kondisi yang terlewatkan oleh tim AI.

Menurut para ahli, laporan yang dibuat oleh manusia juga lebih mudah dibaca, dengan nada yang lebih hangat dan struktur keseluruhan yang lebih baik.

“Saya perhatikan para dokter senior kami dengan cermat menyesuaikan struktur laporan,” kata Wang Yi, direktur departemen radiologi di Rumah Sakit Rakyat Universitas Peking.

Wang Yi menambahkan, mereka membuatnya menjadi laporan yang koheren dengan logika internal yang jelas, berbeda dengan versi yang dihasilkan AI di mana setiap item dicantumkan secara terpisah.

Dari segi waktu, AI sudah jelas bekerja lebih cepat. Soal akurasi hasilnya kurang lebih sama dengan kerja manusia.

“Tetapi saya harus mengatakan kelompok manual terasa lebih hangat dan lebih empatik,” ujar Zeng Mengsu, direktur radiologi dan kepala radiologi diagnostik di Rumah Sakit Zhongshan.

“Kedua kasus tersebut melibatkan tindak lanjut tahunan, namun kelompok dokter tanpa bantuan AI juga memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi, seperti USG lanjutan atau kunjungan ulang dalam 6 hingga 12 bulan,” tambah Mengsu.

Apakah ini Masa Depan Diagnostik Medis?

Teknologi yang digunakan dalam uji coba ini adalah sistem dada “One-Scan-for-All”, yang dikembangkan bersama oleh Rumah Sakit Zhongshan dan Shanghai United Imaging Medical Technology.

Tidak seperti model konvensional yang berfokus pada pendeteksian satu penyakit, sistem ini mampu mengidentifikasi 73 kelainan toraks umum dalam satu pemindaian, mulai dari nodul paru dan emfisema hingga fraktur dan kalsifikasi arteri koroner.

“Tingkat akurasinya saat ini sekitar 85 persen, dan kami berupaya untuk meningkatkannya menjadi 95 persen di masa mendatang. Saya yakin kami akan mencapainya,” jelas Mengsu.

Melalui pengembangan teknologi ini, Mengsu berharap dapat menggandakan efisiensi kerja para ahli radiologi dengan menggunakan teknologi ini.

Tim di balik AI ini juga memiliki ambisi yang lebih luas, tidak hanya berfokus pada masalah paru-paru.

Zhou Xiang, salah satu pendiri dan CEO United Imaging Intelligence, mengatakan bahwa timnya sedang mengembangkan program MRI otak dengan tujuan melakukan satu pemindaian untuk beberapa masalah kesehatan.

“Sejauh ini, kami telah menangani lebih dari 30 penyakit dan kini memperluas cakupan ke ortopedi, ultrasonografi, dan pencitraan abdomen,” ujar Xiang.

Pertarungan di Shanghai terjadi di tengah gelombang terobosan dalam diagnostik medis berbasis AI.

Microsoft baru-baru ini mengumumkan bahwa perangkat AI terbarunya mengungguli dokter dalam sebuah studi yang melibatkan kasus medis kompleks.

Setelah diuji terhadap 21 dokter berpengalaman dari Inggris dan Amerika Serikat, sistem ini mendiagnosis dengan tepat hingga 85,5 persen kasus pasien, kira-kira empat kali lebih banyak daripada kelompok dokter.

Model ini juga lebih murah daripada dokter manusia, karena membutuhkan lebih sedikit pemindaian dan tes untuk mencapai diagnosis yang tepat.

Meskipun perusahaan tidak menyatakan bahwa AI akan menggantikan dokter, mereka yakin sistem ini dapat meningkatkan kecepatan, akurasi, dan personalisasi dalam perawatan kesehatan secara drastis.

Jadi, para dokter tidak perlu khawatir akan tergantikan oleh mesin berbasis AI. Kerja manusia yang memakai perasaan masih lebih empati bagi pasien dibanding kerja AI.

Namun, dengan bantuan AI kerja dokter akan lebih cepat, akurat, dan efisien di masa depan. (rus)

Exit mobile version