KABARIKA.ID, MAKASSAR — Perusahaan raksasa teknologi komputer dan perangkat lunak, Microsoft, telah mengumumkan pekan ini bahwa pihaknya telah menarik beberapa layanannya dari tentara Israel, terutama yang beroperasi di Gaza.
Langkah itu diambil menyusul investigasi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa Israel mungkin melanggar ketentuan layanan perusahaan Microsoft dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan layanan cloud untuk memata-matai jutaan warga Palestina di seluruh Gaza dan Tepi Barat.
Keputusan yang diambil pada hari Kamis (25/09/2025) tersebut, menyusul investigasi gabungan yang dilakukan oleh surat kabar Guardian Inggris dan sejumlah publikasi Israel, +972 Magazine dan Local Call, yang pada Agustus lalu mengungkapkan bahwa tentara Israel menggunakan platform cloud Azure milik Microsoft, untuk melakukan pengawasan massal terhadap warga Palestina di tengah serangan brutal Israel di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 65.000 orang dalam waktu kurang dari dua tahun.
Dalam beberapa bulan terakhir, Microsoft telah memecat atau melaporkan beberapa karyawan ke polisi terkait protes penggunaan perangkat lunaknya oleh tentara Israel di Gaza.
Pada Agustus lalu, empat karyawan dipecat. Beberapa karyawan lainnya telah mengundurkan diri dari perusahaan sebagai protes atas hubungan Microsoft dengan tentara Israel, yang mereka katakan memicu kehancuran di Gaza.
Perusahaan teknologi tersebut awalnya membantah klaim tersebut, namun setelah penyelidikan, mereka mengumumkan telah menugaskan peninjauan eksternal atas komunikasinya tentang Israel oleh firma hukum Washington, DC, Covington & Burling LLP, dan firma konsultan teknis lain yang tidak disebutkan namanya.
Apa yang Diungkap Microsoft tentang Layanan AI-nya di Israel?
Wakil ketua dan presiden Microsoft, Brad Smith, mengungkapkan bahwa peninjauan eksternal atas catatan komunikasi dan laporan keuangan perusahaan telah mendorong keputusan pada hari Kamis itu, karena elemen-elemen yang mendukung temuannya terbukti benar.
Smith menyatakan bahwa hal itu terkait dengan penggunaan Azure dan layanan AI Microsoft oleh tentara Israel.
“Oleh karena itu, kami telah memberi tahu IMOD tentang keputusan Microsoft untuk menghentikan dan menonaktifkan langganan IMOD tertentu dan layanannya, termasuk penggunaan penyimpanan cloud dan layanan serta teknologi AI tertentu,” tulis Smith dalam postingan blog, merujuk pada Kementerian Pertahanan Israel.
“Kami telah meninjau keputusan ini dengan IMOD dan langkah-langkah yang kami ambil untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan layanan kami, dengan fokus memastikan layanan kami tidak digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga sipil,” tambah Smith.
Hal ini menandai perubahan besar dalam sikap Microsoft terhadap masalah ini. Pada bulan Mei, menyusul temuan serupa yang dilaporkan oleh kantor berita The Associated Press bahwa badan intelijen militer Israel, Unit 8200, menggunakan layanan Microsoft untuk pengawasan massal di Gaza, perusahaan tersebut mengatakan telah melakukan peninjauan internal atas catatannya.
Meskipun mengakui bahwa layanan AI dan komputasi cloud canggih telah dijual kepada militer Israel untuk membantu upaya mereka menemukan dan menyelamatkan warga Israel yang ditangkap oleh Hamas pada 7 Oktober, Microsoft mengatakan tidak menemukan bukti bahwa layanannya digunakan untuk menargetkan atau melukai orang-orang di Gaza.
Dalam pernyataannya, Smith mengatakan peninjauan layanannya kepada militer Israel masih berlangsung, tetapi keputusan untuk membatasi beberapa layanan telah dibuat karena ketentuan layanan Microsoft secara tegas melarang penggunaan teknologinya untuk pengawasan massal terhadap warga sipil.
Teknologi AI Mana yang Telah Ditarik?
Smith mengatakan hanya langganan layanan Microsoft tertentu yang telah diblokir dari militer Israel, dan bahwa Israel masih dapat menggunakan produk Microsoft lainnya untuk keamanan siber negara itu sendiri.
Ia tidak merinci produk mana saja yang dinonaktifkan, atau apakah unit-unit tertentu di militer Israel telah dilarang menggunakannya.
Namun, ia menyebutkan adanya masalah terkait cara tentara Israel menggunakan server penyimpanan Azure yang berbasis di Belanda, serta layanan AI Microsoft.
Apa itu Azure dan Bagaimana Penggunaannya di Gaza?
Platform Azure milik Microsoft menyediakan berbagai layanan berbasis cloud, termasuk penyimpanan digital yang hampir tak terbatas dan kemampuan AI canggih yang, di antara banyak hal, memungkinkan kompilasi, transkripsi, penerjemahan, dan analisis panggilan telepon dalam jumlah besar.
Platform Azure menjadi subjek utama investigasi berita pada bulan Agustus, yang mengungkapkan bahwa CEO Microsoft, Satya Nadella bertemu dengan Yossi Sariel, yang saat itu menjabat sebagai kepala badan mata-mata militer Israel, Unit 8200, pada akhir tahun 2021 di kantor pusat perusahaan di Seattle.
Mereka membahas kolaborasi penyimpanan sejumlah besar data intelijen Israel yang sensitif menggunakan Azure.
Unit 8200 adalah unit perang siber elit militer Israel yang bertanggung jawab atas operasi rahasia, termasuk pengumpulan sinyal intelijen dan pengawasan.
Sariel telah mendorong penggunaan AI oleh unit tersebut, dan dianugerahi penghargaan oleh militer Israel pada 2018 atas karyanya dalam proyek kecerdasan buatan dan anti-terorisme.
Setelah pertemuan di Seattle, Unit 8200 membangun alat pengawasan massal yang telah digunakannya untuk menyadap, merekam, dan menyimpan jutaan panggilan telepon yang dilakukan oleh warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat sejak 2022, menurut penulis laporan investigasi tersebut.
Namun, Sariel mengundurkan diri pada September 2024 karena kegagalan unit tersebut dalam memprediksi serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan.
Menurut investigasi berita tersebut, Israel telah lama menyadap panggilan telepon di wilayah Palestina yang diduduki. Sistem baru bertenaga AI buatan Microsoft itu sangat memperkuat taktik tersebut, memungkinkan petugas intelijen untuk merekam dan menyimpan jutaan panggilan telepon dan SMS, bahkan untuk jangka waktu yang jauh lebih lama.
Kantor berita AP pada awal Februari lalu, juga melaporkan bahwa penggunaan produk Microsoft oleh militer Israel melonjak setelah 7 Oktober.
Militer Israel menggunakan penyimpanan cloud berukuran gigabita dan layanan penerjemahan bahasa berbasis AI dalam jumlah besar untuk pengawasan massal, yang kemudian diperiksa silang dengan sistem AI internal untuk memutuskan siapa yang harus ditargetkan dalam serangan udara IDF.
Betulkah Microsoft Tidak Tahu Israel Gunakan Azure untuk Apa?
Meskipun Microsoft menyatakan tidak mengetahui bagaimana Israel menggunakan Azure, dokumen Microsoft yang bocor dan wawancara dengan 11 sumber Microsoft menunjukkan, Unit 8200 menyimpan komunikasi rakyat Palestina di platform tersebut.
Sumber dari Unit 8200 juga mengatakan kepada media bahwa kemampuan tersebut telah membantu tentara Israel menargetkan orang-orang dalam serangan udara mematikan di Gaza dan dalam operasi militernya di Tepi Barat.
Menjurut salah satu sumber Unit 8200 dalam penyelidikan tersebut, militer Israel melacak semua orang di Palestina, setiap saat.
Seberapa Penting Keputusan Microsoft Menarik Layanannya?
Para analis teknologi skeptis tentang seberapa besar keputusan Microsoft akan memengaruhi operasi pengawasan Israel di Gaza dan Tepi Barat.
Belum jelas bagaimana Microsoft akan memastikan bahwa tentara Israel, secara keseluruhan, tidak lagi memiliki akses ke Azure, layanan AI-nya, atau produk Microsoft lainnya yang dapat digunakan untuk melanjutkan pengawasan massal dan melakukan serangan mematikan atau operasi lainnya.
Hossam Nasr, salah satu dari lebih dari selusin karyawan Microsoft yang dipecat atau ditangkap karena memprotes keterlibatan perusahaan dalam perang Gaza, mengatakan bahwa langkah terbaru tersebut merupakan kemenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi pada akhirnya tidak cukup.
“Microsoft hanya menonaktifkan sebagian kecil layanan untuk satu unit di militer Israel,” kata Nasr, seorang organisator dari kelompok No Azure for Apartheid, yang beranggotakan mantan karyawan Microsoft lainnya.
“Sebagian besar kontrak Microsoft dengan militer Israel tetap utuh,” ujar Nasr.
Bagaimana Israel Mengawasi Warga Palestina di Masa Lalu?
Al Jazeera telah mendokumentasikan dampak fisik dan mental yang merugikan dari pengawasan Israel yang terus-menerus terhadap warga Palestina, termasuk penggunaan CCTV dan sistem pengenalan wajah bernama Red Wolf yang diterapkan di beberapa wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Program ini digunakan di pos pemeriksaan militer di Hebron dan Yerusalem Timur yang diduduki, tempat para pemukim Israel telah bergerak untuk memindai wajah warga Palestina dan menambahkannya ke dalam basis data, tanpa persetujuan mereka.
Sistem ini membantu militer Israel dalam kebijakan diskriminatifnya yang melarang warga Palestina menggunakan jaringan jalan tertentu yang hanya terbuka untuk pemukim.
Palestina telah lama mengklaim bahwa Israel, yang memproduksi dan menjual spyware ke beberapa negara, menggunakannya untuk menguji produknya.
Perusahaan keamanan siber Israel, NSO Group, menuai kritik luas pada 2021 atas perangkat lunak andalannya, Pegasus, yang digunakan klien untuk menargetkan anggota politik oposisi, aktivis, dan jurnalis, termasuk beberapa yang bekerja untuk Al Jazeera, menurut investigasi media.
Klien spyware tersebut tidak diungkapkan, tetapi mereka mencakup berbagai pemerintahan dan dilaporkan terpusat di Azerbaijan, Bahrain, Hongaria, India, Kazakhstan, Meksiko, Maroko, Rwanda, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pada Mei 2023, Amnesty International menyimpulkan bahwa Israel meningkatkan pengawasannya di Hebron dan Yerusalem Timur, dan menggunakan Red Wolf untuk memperkuat sistem apartheidnya.
“Pengawasan ini merupakan bagian dari upaya yang disengaja oleh otoritas Israel untuk menciptakan lingkungan yang bermusuhan dan memaksa bagi warga Palestina, dengan tujuan meminimalkan kehadiran mereka di wilayah-wilayah strategis,” kata organisasi hak asasi manusia tersebut.
Amnesty International menemukan bahwa Red Wolf terhubung dengan Wolf Pack, sebuah basis data besar yang berisi informasi tentang warga Palestina, seperti alamat, anggota keluarga, dan apakah mereka dicari untuk diinterogasi oleh otoritas Israel.
Red Wolf juga terhubung dengan Blue Wolf, sebuah aplikasi yang digunakan pasukan Israel untuk mengakses informasi yang tersimpan dalam basis data Wolf Pack. (rus)

