KABARIKA.ID, MAKASSAR — Setiap tubuh manusia berdengung dengan komunikasi yang tenang. Di balik setiap detak jantung, napas, dan sinyal kekebalan tubuh terdapat percakapan tersembunyi antara otak dan organ-organ internal.
Pertukaran konstan ini membuat kita tetap hidup, namun kita jarang menyadarinya. Itulah yang sering kita sebut sebagai indra keenam.
Sejumlah ilmuwan kini sedang berusaha menguraikan misteri “indra keenam” ini, yang disebut interosepsi (interoception), untuk mengungkap bagaimana otak kita tetap selaras dengan kebutuhan tubuh.
Sebuah inisiatif terbaru oleh para ahli di Scripps Research Institute dan Allen Institute di AS, yang bertujuan untuk memetakan jaringan misterius ini secara detail.
Proyek ini, yang didukung oleh National Institutes of Health (NIH), akan menciptakan atlas saraf interosepsi yang pertama.
Penelitian ini pada akhirnya dapat membentuk kembali cara kita memahami komunikasi otak-tubuh dan membuka jalur baru untuk mengobati penyakit kompleks.
Interosepsi – Hal Mendasar
Interosepsi adalah cara otak Anda merasakan apa yang terjadi di dalam tubuh Anda. Dengan begitu, Anda tahu kapan Anda lapar, haus, kepanasan, kedinginan, atau perlu ke kamar mandi, tanpa ada yang memberi tahu Anda.
Sistem rumit ini sebagian besar beroperasi di luar kesadaran kita.
Para ilmuwan menggambarkannya sebagai “indra keenam tersembunyi” (hidden sixth sense) tubuh, karena bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan, kenyamanan, dan kesiapan.
Kesadaran batin ini membantu Anda mengenali emosi, mengatur stres, dan membuat pilihan, seperti menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri atau mengambil camilan saat energi Anda menurun.
Kolaborasi yang Luas
Proyek ini menyatukan para ahli di bidang ilmu saraf dan genetika. Tim ini dipimpin oleh peraih Nobel Kedokteran pada 2021, Dr. Ardem Patapoutian, seorang profesor ilmu saraf di Scripps Research Institute.
NIH telah berkomitmen menggelontorkan dana riset sebesar $14,2 juta selama lima tahun untuk mewujudkan visi besar ini.
Proyek ini merupakan kolaborasi langka yang menjembatani biologi struktural, molekuler, dan fungsional.
“Tim saya merasa terhormat bahwa NIH mendukung jenis ilmu kolaboratif yang dibutuhkan untuk mempelajari sistem yang begitu kompleks,” kata Dr. Patapoutian.
Mempelajari Indra Keenam
Interoseptif sangat berbeda dari indra yang umum, seperti penglihatan atau pendengaran.
Jika indra keenam mengandalkan organ khusus untuk mendeteksi isyarat eksternal, maka interosepsi memantau dunia internal tubuh.
Jaringan neuronnya terus-menerus melacak detak jantung, pencernaan, tekanan darah, dan aktivitas kekebalan tubuh.
Namun, terlepas dari pentingnya, interosepsi masih kurang dipahami. Sinyal dari dalam tubuh sulit direkam dan diinterpretasikan.
Neuron yang membawanya tersebar di berbagai organ, menyatu menjadi jaringan yang sulit diisolasi. Dr. Patapoutian dan timnya berharap dapat mengubah hal itu melalui pemetaan yang cermat.
“Kami berharap, hasil penelitian kami akan membantu ilmuwan lain mengajukan pertanyaan baru tentang bagaimana organ internal dan sistem saraf tetap sinkron,” kata Dr. Li Ye, seorang profesor di Scripps.
Menelusuri Hubungan Otak-Tubuh
Penelitian ini akan berlangsung dalam dua fase utama. Yang pertama, melibatkan pelabelan neuron sensorik untuk melacak rute mereka dari sumsum tulang belakang ke organ internal.
Pencitraan seluruh tubuh yang canggih akan menghasilkan peta 3D beresolusi tinggi dari koneksi saraf ini.
Fase kedua, akan menggunakan profil genetik untuk membedakan jenis neuron yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal dari berbagai organ seperti usus, kandung kemih, atau jaringan lemak.
Upaya gabungan ini akan membentuk referensi standar pertama untuk memahami bagaimana jalur sensorik internal terstruktur dan berfungsi.
Atlas saraf yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai cetak biru untuk seluruh bidang penelitian tubuh-otak, yang menawarkan wawasan tentang bagaimana sistem saraf kita mengintegrasikan sinyal internal untuk menjaga stabilitas.
Pentingnya Indra Keenam
Interoseptif memengaruhi hampir setiap proses vital dalam tubuh. Ketika komunikasi ini terganggu, akibatnya bisa parah.
Studi telah mengaitkan gangguan pensinyalan interoseptif dengan gangguan autoimun, nyeri kronis, tekanan darah tinggi, dan bahkan penyakit neurodegeneratif.
Dengan memetakan cara kerja jalur-jalur ini, para ilmuwan berharap dapat memahami mengapa kondisi tersebut terjadi dan bagaimana kondisi tersebut dapat dibalik.
“Intersepsi sangat penting bagi hampir setiap aspek kesehatan, tetapi masih merupakan bidang ilmu saraf yang belum banyak dieksplorasi,” kata Dr. Xin Jin, profesor madya di Scripps.
“Dengan menciptakan atlas pertama sistem ini, kami bertujuan untuk meletakkan dasar bagi pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak menjaga keseimbangan tubuh, bagaimana keseimbangan itu dapat terganggu saat penyakit, dan bagaimana kita dapat memulihkannya,” lanjut Jin.
Mendengarkan Sinyal-sinyal Hening Tubuh
Penciptaan atlas saraf untuk interosepsi lebih dari sekadar pencapaian dalam ilmu saraf. Ini adalah upaya untuk memahami apa yang memungkinkan pengalaman internal kita.
Setiap sensasi, mulai dari detak jantung yang berdebar hingga ketenangan setelah bernapas dalam, bergantung pada sinyal-sinyal yang ditafsirkan oleh otak kita secara diam-diam.
Dengan memetakan sistem tersembunyi ini, para ilmuwan berharap dapat mengubah keheningan itu menjadi pemahaman.
Penelitian ini akan membantu kita menyelaraskan diri dengan pesan-pesan hening tubuh dan, dengan demikian, belajar bagaimana menyembuhkan diri dari dalam.
Memetakan Indra Keenam
Penghargaan Penelitian Transformatif NIH mengakui proyek-proyek yang berani melintasi batas dan menantang konvensi.
Didirikan pada 2009, penghargaan ini mendanai karya interdisipliner dengan potensi untuk membentuk kembali kesehatan manusia.
Bagi tim Scripps and Allen Institute, hal ini memberikan kesempatan untuk mengubah misteri ilmiah menjadi peta yang terukur.
Pekerjaan mereka tidak hanya tentang neuron dan organ, tetapi juga mengungkap tentang bagaimana kesadaran muncul dari dalam.
Proyek ini dapat menjelaskan mengapa emosi, stres, dan sensasi fisik saling terkait erat.
Penelitian ini juga dapat membantu mengembangkan terapi yang memulihkan keseimbangan internal dalam kondisi di mana komunikasi antara otak dan tubuh terputus. (rus)

