KABARIKA.ID, MAKASSAR — Badai Melissa menerjang Karibia, membawa angin kencang dan hujan deras yang memecahkan rekor ke Jamaika, pendaratan Kategori 5 pertama di pulau itu.
Yang membuat badai Melissa begitu mengkhawatirkan dan menakutkan, bukan hanya ukuran dan kekuatannya, tetapi juga kecepatannya berubah menjadi begitu dahsyat.
Dalam satu hari, badai ini berubah dari badai sedang menjadi badai besar dengan kecepatan angin 170 mph.
Para ilmuwan menyebutnya intensifikasi kecepatan (rapid intensification). Seiring planet memanas, penguatan dahsyat ini semakin umum terjadi.
Badai-badai ini sangat berbahaya karena sering kali mengejutkan orang. Hal ini karena memperkirakan intensifikasi cepat, meskipun membaik, tetap menjadi tantangan besar.
Badai Terlihat oleh Satelit
Prakiraan yang lebih baik akan bergantung pada pemantauan inti badai yang lebih detail, terutama di dekat dinding mata badai, tempat angin terkuat terjadi, dan pada model komputer hanya yang beresolusi lebih tinggi yang dapat menangkap struktur kompleks badai dengan lebih baik.
Teknik pembelajaran mesin (AI) baru mungkin, membantu tetapi sebagian besar belum teruji.
Saat ini, badai yang menguat dengan cepat masyarakat seringkali hanya diberi sedikit peringatan untuk mengungsi, dan lembaga pemerintah mungkin hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan persiapan, seperti membuka tempat perlindungan evakuasi atau menyiapkan infrastruktur penting.
Itulah yang terjadi dengan Badai Otis di Meksiko pada 2023 dan Topan Rai di Filipina pada 2021.
Keduanya meningkat pesat sesaat sebelum mendarat, dan ratusan orang tewas karena tidak dapat mencapai tempat aman.
Untungnya, kemungkinan Melissa mencapai badai Kategori 5 telah diramalkan beberapa saat sebelum mendarat, dibantu oleh pergerakan badai yang sangat lambat menuju Jamaika.
Badai Sempurna
Seperangkat kondisi tertentu diperlukan untuk mendorong intensifikasi yang cepat: kelembapan tinggi di atmosfer, geseran angin yang rendah (perubahan kecepatan angin terhadap ketinggian), dan suhu permukaan laut yang hangat.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sejak awal 1980-an, laut yang lebih hangat dan atmosfer yang lebih lembap membuat kondisi ini menjadi lebih umum.
Tren ini tidak dapat dijelaskan oleh variabilitas alami. Tampaknya perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia secara signifikan meningkatkan kemungkinan intensifikasi yang cepat.
Dalam kasus Melissa, jejak perubahan iklim terlihat jelas pada banyak faktor yang menjadikannya badai yang begitu dahsyat.
Suhu permukaan laut di wilayah tersebut saat ini lebih dari satu derajat di atas normal, kondisi yang kemungkinannya 500 hingga 800 kali lebih tinggi akibat perubahan iklim.
Perairan yang lebih hangat memberikan energi ekstra untuk intensifikasi badai. Naiknya permukaan laut juga berarti gelombang badai dan banjir pesisir menjadi lebih parah.
Para ilmuwan yakin bahwa curah hujan meningkat akibat perubahan iklim, karena atmosfer yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, sebuah tren yang terlihat di Atlantik Utara.
Melissa bergerak lambat, yang menyebabkan total curah hujan yang lebih tinggi di daratan.
Prakiraan cuaca memperkirakan wilayah pegunungan Jamaika dapat menerima curah hujan hingga satu meter, meningkatkan risiko banjir parah dan tanah longsor.
Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa perubahan iklim memperlambat kecepatan siklon itu sendiri (laju pergerakan seluruh badai).
Ini berarti siklon-siklon tersebut akan tetap berada di daratan dan menghasilkan lebih banyak hujan.
Simulasi yang dilakukan oleh seorang pakar di University of Reading mengonfirmasi bahwa badai-badai yang pernah melanda Jamaika, akan menghasilkan lebih banyak hujan pada iklim yang lebih hangat saat ini.
Kecenderungan badai yang semakin meningkat dan menguat dengan cepat, mendorong lebih banyak badai untuk mencapai kategori terkuat, dan hal itu dapat mematikan jika lonjakan kekuatan ini tidak diprediksi dengan baik.
Seiring pemanasan global, risiko ini akan semakin meningkat. Hal ini menjadi penting bagi para ilmuwan untuk meningkatkan pemantauan dan model prakiraan badai, serta bagi para petugas tanggap darurat untuk bersiap menghadapi skenario badai dahsyat yang tiba dengan sedikit waktu untuk bersiap.
Badai Melissa telah memperjelas risiko-risiko tersebut: badai menguat lebih cepat, menghantam lebih keras, dan memberi orang lebih sedikit waktu untuk melarikan diri. (rus)

