KABARIKA.ID, MAKASSAR — Pertanian di seluruh dunia setiap tahun menghasilkan tumpukan limbah setelah panen. Tangkai gandum, sekam padi, dan batang jagung seringkali dibakar di ladang terbuka atau dibiarkan membusuk.
Kedua cara tersebut mengirimkan karbon kembali ke udara dengan cepat. Asap memenuhi langit. Karbon dioksida melayang ke atas. Ini adalah rutinitas yang tenang yang menambah masalah iklim yang sangat besar.
Bagaimana jika sisa-sisa bahan tersebut dikelola dengan cara lain? Bagaimana jika bahan-bahan tersebut tetap bermanfaat untuk waktu yang lama dan menyimpan karbonnya?
Hasil penelitian terbaru menemukan bahwa bahan-bahan yang terlupakan ini dapat memperlambat perubahan iklim secara praktis dengan menjadi bagian dari bangunan tempat orang tinggal dan bekerja.
Limbah Pertanian dan Perubahan Iklim
Tumbuhan menyerap karbon dari udara saat tumbuh. Ketika limbah tanaman terbakar atau membusuk, karbon tersebut kembali ke atmosfer dalam beberapa bulan.
Perhitungan iklim sering menganggap ini netral, karena karbon tersebut berasal dari tanaman sejak awal. Tetapi waktu mengubah segalanya.
Karbon yang dilepaskan hari ini memanaskan planet saat ini. Karbon yang disimpan selama bertahun-tahun atau puluhan tahun justru menunda panas tersebut.
Penelitian tersebut mengamati waktu ini dengan cermat. Alih-alih menghitung karbon dalam satu momen, penelitian itu mengikuti karbon dari waktu ke waktu.
Pendekatan yang digunakan tersebut menunjukkan bahwa menyimpan serat tanaman di dalam dinding, panel, atau insulasi dapat mengubah hasil iklim secara nyata dan berkelanjutan.
Bangunan sebagai Penyimpan Karbon
Sisa tanaman berserat dan ringan. Para pengembang sudah menggunakan sebagian dari limbah pertanian tersebut dalam insulasi dan papan komposit.
Ketika material ini berada di dalam bangunan, karbon yang terkandung di dalamnya tetap berada di tempatnya selama beberapa dekade.
Ini sangat berbeda dengan asap yang mengepul dari ladang atau gas yang bocor akibat pembusukan.
Studi ini menemukan bahwa menghentikan pembakaran terbuka dan menggunakan serat-serat ini dalam produk bangunan yang tahan lama, dapat menciptakan efek pendinginan yang berlangsung hingga abad berikutnya.
Hasil lengkap penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Cleaner Environmental Systems, dapat diakses di sini.
Efeknya semakin kuat ketika energi bersih menggantikan energi biomassa yang terpinggirkan.
Sumber Daya Besar yang Terbuang Sia-sia
Sekitar 4,4 miliar ton limbah pertanian dihasilkan setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar tidak pernah mencapai penggunaan yang tahan lama.
Sebagian menjadi pakan ternak dan sebagian besar terbakar atau terurai. Hanya sebagian kecil yang berakhir dalam produk yang tahan lama.
Bahkan jika penggunaan insulasi berbasis tumbuhan meningkat dengan cepat, itu hanya akan menyerap sebagian kecil dari material ini.
Kesenjangan tersebut menunjukkan betapa terbatasnya upaya saat ini. Kenyataan itu juga menunjukkan betapa banyak ruang untuk berbuat lebih banyak tanpa menyentuh produksi pangan atau membuka lahan baru.
Peran yang Lebih Luas untuk Konstruksi
Penelitian ini berpendapat bahwa industri konstruksi perlu berpikir lebih luas. Material berbasis bio seringkali hanya menjadi produk khusus.
Dinding, lantai, dan panel yang terbuat dari serat tumbuhan dapat menjadi produk utama.
Pergeseran ini tidak akan menyelesaikan perubahan iklim sendirian, tetapi akan mengurangi emisi dari dua sisi sekaligus.
Ini akan mengurangi asap dan pembusukan dari lahan pertanian dan menyimpan karbon di dalam bangunan yang sudah membutuhkan material tersebut.
Peluang yang Terabaikan
Studi ini dipimpin oleh Dr. Bamdad Ayati dari lembaga Sustainability Research Institute (SRI) University of East London, yang berfokus pada solusi iklim praktis.
Menurut Dr. Ayati, temuan tersebut menunjukkan ide sederhana yang selama ini tersembunyi.
“Setiap tahun, sejumlah besar residu pertanian dibakar atau dibiarkan membusuk, mengembalikan karbon ke atmosfer dalam waktu singkat,” kata Dr. Ayati.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa jika serat-serat ini dialihkan menjadi bahan bangunan yang tahan lama, serat-serat tersebut dapat menyimpan karbon selama beberapa dekade dan menghasilkan efek pendinginan yang terukur. Ini mengubah perspektif limbah dari masalah pembuangan menjadi potensi sumber daya iklim,” tambah Dr. Ayati
Melihat Kembali Limbah Pertanian
Limbah pertanian jarang menarik perhatian di luar sektor pertanian. Penelitian ini mengubah perspektif sepenuhnya, bukan sebagai sampah atau bahan bakar, tetapi sebagai material yang dapat menyimpan karbon secara diam-diam sekaligus memenuhi kebutuhan dasar manusia.
Bangunan sudah membentuk kehidupan sehari-hari. Penggunaan serat tumbuhan pada dinding dan atapnya memberikan fungsi kedua, mengubahnya menjadi tempat penyimpanan karbon daripada dilepaskan ke udara. (rus)

