Site icon KABARIKA

Warga Dunia Kini Punya Peta Baru setelah PBB Mengadopsi Peta Equal Earth yang Menampilkan Afrika Jauh Lebih Besar dan Memperkecil Ukuran Inggris dan AS

KABARIKA.ID, NEW YORK — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melakukan pemungutan suara untuk mengganti peta dunia yang umum digunakan saat ini, dengan peta yang memperbesar ukuran Afrika secara signifikan, sekaligus memperkecil ukuran Inggris dan AS.

Langkah ini merupakan puncak dari kampanye yang dipimpin oleh negara-negara Afrika dan kelompok advokasi untuk menolak “kolonialisme kartografis” (cartographic colonialism).

Majelis Umum PBB telah menerima resolusi Correct the Map (Koreksi Peta) dan memutuskan untuk beralih dari peta Mercator yang telah digunakan selama berabad-abad, kemudian menggantinya dengan peta baru, yaitu proyeksi Equal Earth.

Para pengkritik peta Mercator, yang awalnya dirancang untuk pelayaran laut dan bukan untuk penggunaan umum, telah lama berpendapat bahwa peta tersebut mencerminkan asumsi Barat mengenai dunia dengan cara membuat Afrika tampak lebih kecil.

Proyeksi Mercator membuat Greenland dan Afrika tampak memiliki ukuran yang hampir sama, padahal kenyataannya Afrika sekitar 14 kali lebih besar.

Para pegiat kampanye berpendapat bahwa peta tersebut menimbulkan dampak psikologis dengan membuat beberapa wilayah tampak lebih kecil dari ukuran aslinya dan wilayah lain tampak lebih besar, karena secara naluriah kita menganggap hal-hal yang lebih besar sebagai sesuatu yang lebih penting.

PBB telah melakukan pemungutan suara untuk mengganti peta Mercator yang telah digunakan selama berabad-abad dengan peta yang memperbesar ukuran Afrika secara signifikan, sekaligus memperkecil ukuran Inggris dan AS, Jumat (4/09/2026) di New York, AS. (Foto: dailymail)

Pendukung Utama: Peta Tidak Pernah Netral

Salah satu pendukung perubahan tersebut adalah Menteri Luar Negeri (Menlu) Togo, Robert Dussey. Ia mengatakan bahwa “Dunia yang adil bermula dari peta yang adil.”

Sebelumnya, dalam sebuah pengarahan di PBB, ia mengatakan bahwa peta tidak pernah netral.

“Peta tidak pernah netral. Peta membentuk persepsi dan memengaruhi cara kita memahami posisi berbagai bangsa dan benua di dunia,” ujar Dussey.

Resolusi yang disahkan pada hari Jumat (4/09/2026) itu disponsori oleh Togo dan didukung oleh negara-negara anggota Uni Afrika, serta lolos dengan dukungan 164 negara anggota.

Hanya Amerika Serikat (AS) yang memberikan suara menentang, sementara enam negara lainnya, yakni Serbia, Estonia, Georgia, Lituania, Moldova, dan Ukraina, memilih untuk abstain.

Resolusi baru ini tidak melarang penggunaan proyeksi Mercator ataupun mewajibkan penggantiannya. Resolusi ini hanya mendorong pemerintah dan lembaga di seluruh dunia untuk menggunakan proyeksi Equal Earth.

“Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia. Peta memandu pendidikan, memupuk imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif,” demikian pernyataan Menlu Togo, Robert Dussey, yang dikutip oleh PBB sebelum pemungutan suara.

Perwakilan AS di PBB, Yaryna Ferencevych, menyatakan bahwa resolusi tersebut mengolok-olok kinerja dan tujuan Majelis Umum PBB.

“Alih-alih berfokus pada masalah nyata terkait perdamaian internasional, kemakmuran, atau hubungan dunia yang baik, badan ini justru memperdebatkan proyeksi peta dari abad ke-16 serta perannya dalam mendorong upaya reparasi dan keadilan kognitif,” ucap Ferencevych.

AS juga melontarkan kritik ketika PBB mengesahkan resolusi pada bulan Maret yang menyatakan perdagangan budak lintas Atlantik sebagai kejahatan paling berat terhadap kemanusiaan.

Grafik yang memperlihatkan bagaimana peta Mercator memperbesar ukuran semu negara di belahan bumi utara, sekaligus memperkecil ukuran negara-negara di dekat khatulistiwa. (Gambar: dailymail)

Sejarah Peta Mercator

Peta Mercator dirancang pada tahun 1569 oleh kartografer asal Flandria, Belgia, Gerardus Mercator, untuk membantu orang Eropa melakukan navigasi laut di seluruh dunia.

Namun, untuk mendukung tujuan tersebut, ia melakukan distorsi pada peta guna menyesuaikan dengan kelengkungan Bumi.

Akibatnya, negara-negara di dekat khatulistiwa tampak lebih kecil dari ukuran aslinya, sementara negara-negara yang lebih dekat ke kutub tampak lebih besar.

Setiap kali peta dunia dibuat, kompromi harus dilakukan karena mustahil untuk merepresentasikan permukaan bola dunia secara akurat pada bidang datar dua dimensi.

Para ahli geografi berpendapat bahwa peta tradisional tersebut hanya berguna untuk keperluan navigasi.

“Di luar kegunaan navigasi yang sangat terbatas itu, tidak ada gunanya menggunakan peta tersebut,” ujar Mark Monmonier, seorang profesor geografi di Universitas Syracuse, New York, AS.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, lebih dari 450 tahun kemudian, karya Mercator masih menjadi dasar bagi banyak peta yang kita lihat di ruang kelas, di televisi, dan secara daring, termasuk Google Maps.

Dalam upaya mengatasi kelemahan peta Mercator, pada tahun 2018, sekelompok kartografer menciptakan peta dengan luas wilayah yang akurat (equal-area map) yang mereka sebut sebagai proyeksi Equal Earth.

Peta ini mengikuti kelengkungan Bumi dan menampilkan benua-benua sesuai dengan proporsi aslinya.

Namun, untuk mencapai hal tersebut, peta ini mengorbankan garis-garis lurus yang membuat proyeksi Mercator sangat ideal untuk navigasi. Artinya, peta ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jarak sebenarnya antara berbagai lokasi.

Africa No Filter, salah satu kelompok utama yang mengampanyekan penggunaan peta baru ini, menyambut baik resolusi tersebut.

“Kami ingin melihat peta yang akurat di sekolah, buku pelajaran, ruang redaksi, dunia bisnis, serta di platform digital yang digunakan miliaran orang setiap harinya,” kata kelompok tersebut.

Mendapat Sambutan Baik

Sejumlah negara menyambut baik keputusan ini. Menlu Prancis, Jean-Noël Barrot, menulis di platform X usai pemungutan suara: “Mengubah peta tentu tidak mengubah dunia. Namun, memperbaiki representasi yang selama ini mendistorsi kenyataan merupakan sebuah langkah menuju kebenaran.”

Lerato Mogoatlhe dari Africa No Filter, salah satu kelompok di balik kampanye untuk meninggalkan peta Mercator, mengatakan bahwa representasi Afrika yang keliru pada peta dunia bukan sekadar kesalahan kartografis, melainkan masalah narasi.

Mogoatlhe menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk menghentikan misinformasi dan disinformasi terlama di dunia mengenai Afrika.

Sementara itu, ahli geografi asal Kenya, Kioko Muendo, berpendapat bahwa peta lama tersebut secara implisit mengecilkan arti kekayaan sumber daya, jumlah penduduk, dan peluang investasi di Afrika.

Kartografer asal Flandria, Belgia, Gerardus Mercator (1512-1594). (Foto: dailymail)

Apa itu Peta Mercator?

Peta Mercator dibuat pada tahun 1569 oleh seorang kartografer asal Flandria, Gerardus Mercator.

Tujuan utamanya adalah membantu para pelaut Eropa menavigasi lautan.

James Cheshire, seorang profesor kartografi di University College London, menyatakan bahwa Mercator menginginkan garis lurus yang digambar pada peta tampak sebagai garis lurus di dunia nyata, jika seseorang mengikuti arah kompas.

“Itulah tujuan peta tersebut, dan peta itu menjalankan fungsinya dengan sangat gemilang,” ujar Cheshire.

Namun, untuk menjaga akurasi sudut pada peta datar, Mercator harus melebarkan garis-garis kisi saat posisinya menjauhi khatulistiwa menuju kutub.

Hal ini berarti kelengkungan Bumi mendistorsi peta, sehingga negara-negara di dekat khatulistiwa tampak jauh lebih kecil daripada ukuran aslinya, sementara negara-negara yang lebih dekat ke kutub tampak memanjang. (rus)

Exit mobile version