Site icon KABARIKA

Apa Sebenarnya yang Terjadi Saat Seseorang Meninggal? Ilmuwan: Kesadaran Tetap Ada Setelah Otak Berhenti Berfungsi

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Peristiwa kematian adalah akhir dari kehidupan dan terus menjadi misteri setelahnya.

Namun, seorang peneliti mengemukakan bahwa pikiran seseorang mungkin tetap ada setelah kematian, bahkan ketika otaknya berhenti bekerja.

Pekka Rechardt, seorang peneliti yang berbasis di Finlandia, mendasarkan gagasan ini pada kesaksian para penyintas henti jantung.

Mereka menceritakan pengalaman yang sangat nyata, yang menurut sebuah tinjauan sebelumnya, terjadi saat aktivitas listrik otak sangat tertekan atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.

Rechardt meninjau kembali sebuah kajian tahun 2025 mengenai penelitian pengalaman mendekati kematian (near-death experience) yang dilakukan oleh tim peneliti internasional.

Kajian tersebut melaporkan bahwa aktivitas listrik di korteks (lapisan luar otak) dapat menghilang dalam waktu 10 hingga 30 detik setelah henti jantung terjadi.

Para penulis kajian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah International Review of Psychiatry, berpendapat bahwa beberapa pengalaman mendekati kematian justru terjadi selama periode penekanan aktivitas ini, yakni saat alat electroencephalogram (EEG) menunjukkan garis datar.

Rechardt memandang kesaksian-kesaksian tersebut sebagai bukti yang mendukung kemungkinan bahwa kesadaran tidak sepenuhnya bergantung pada aktivitas otak.

Bagi Rechardt, teka-tekinya terletak pada fakta bahwa pengalaman-pengalaman ini tetap mempertahankan tiga elemen dasar kesadaran: perasaan hadir (eksis), sensasi yang nyata, serta kemampuan untuk mengalami berbagai peristiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.

Ia berargumen bahwa jika elemen-elemen tersebut dapat bertahan tanpa aktivitas otak yang biasanya dikaitkan dengan kesadaran, maka kehancuran otak tidak serta-merta berarti kehancuran pikiran.

“Pertimbangan empiris ini mendukung gagasan bahwa kehidupan setelah kematian merupakan kemungkinan yang dapat dipercaya,” tulisnya.

Sebuah artikel baru yang telah dimuat dalam Journal of Consciousness Studies, mengemukakan bahwa pengalaman mendekati kematian yang terasa nyata mendukung kemungkinan bahwa kesadaran ada di luar otak dan dapat bertahan setelah kematian.

Hasil lengkap studi ini dapat diakses di sini.

Artikel tersebut menjabarkan penjelasan mengenai kesadaran yang diusulkan oleh Rechardt pada tahun 2023.

Tinjauan sebelumnya, yang disusun oleh Bruno Angeli-Faez, Bruce Greyson, dan Pim van Lommel, melaporkan bahwa ritme otak alfa dan beta, yang digambarkan sebagai elemen krusial bagi kesadaran, menghilang dalam waktu sekitar 6,5 detik setelah henti jantung terjadi.

Penjelasan Rechardt sendiri bertolak dari asumsi bahwa kesadaran tidak dapat direduksi sekadar menjadi aktivitas otak.

Ia kemudian mempertanyakan bagaimana berbagai pengalaman dapat terpadu menjadi satu kesatuan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel tersebut mengambil contoh seseorang yang sedang berjalan di sepanjang pantai yang cerah. Ia menikmati pemandangan dan kehangatan sembari memikirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Sensasi dan pemikiran ini melibatkan bagian-bagian otak yang berbeda, dan sinyal-sinyal tersebut memerlukan waktu untuk berpindah dari satu bagian ke bagian lainnya.

Namun, orang tersebut mengalaminya secara bersamaan, sebagai satu rangkaian peristiwa yang utuh.

Rechardt berpendapat bahwa untuk menjelaskan perspektif yang terpadu ini, tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi proses-proses otak yang terlibat secara terpisah.

Jawaban yang ia tawarkan adalah adanya dimensi spasial tambahan, di luar dimensi panjang, lebar, dan tinggi yang kita kenal, di mana informasi yang berasal dari berbagai wilayah otak dapat dialami secara bersamaan.

Rechardt mengilustrasikan prinsip ini dengan membayangkan seseorang yang melihat gambar datar dari posisi di atas kertas tersebut, sehingga ia dapat melihat bagian-bagian gambar yang terpisah itu sebagai satu kesatuan.

Peneliti tersebut menulis bahwa pengalaman mendekati kematian mungkin memberikan “sekilas gambaran tentang apa yang menanti seseorang” ketika fungsi-fungsi tubuh yang menopang kehidupan manusia telah berakhir.

Dengan memperluas analogi tersebut, ia mengatakan bahwa otak yang berdimensi tiga dapat dikaitkan dengan perspektif kesadaran yang berada dalam dimensi spasial keempat.

Bagian lain dari argumennya berkaitan dengan sensasi keberadaan di saat “sekarang”.

Pengalaman mendekati kematian bisa saja mencakup ingatan atau pemandangan yang asing, namun individu tersebut tetap merasakannya seolah-olah peristiwa itu terjadi pada saat ini juga.

Rechardt berpendapat bahwa mendeskripsikan peristiwa fisik dalam ruang dan waktu tidak sepenuhnya menjelaskan sensasi kehadiran pribadi tersebut.

“Sebagai seorang ateis, saya mengira setelah mati segalanya akan lenyap begitu saja… namun saya sempat berada di alam baka selama enam menit dan melihat bukti seperti apa Tuhan yang sebenarnya. Segala sesuatu di Bumi hanyalah palsu,” ujar Rechardt.

Ia membuat pembedaan serupa antara mendeteksi respons otak terhadap suatu warna dengan menjelaskan bagaimana rasanya benar-benar melihat warna tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bagian dari “masalah sulit” (hard problem) mengenai kesadaran: mengapa proses-proses fisik disertai dengan pengalaman subjektif.

Bagi Rechardt, keberlangsungan fitur-fitur yang familier dalam kisah-kisah pengalaman mendekati kematian menjadi alasan untuk mempertimbangkan suatu kerangka kesadaran yang berada di luar otak.

Namun, adanya celah dalam suatu penjelasan tidak lantas membuktikan bahwa alternatif yang ia tawarkan adalah benar.

Rechardt mengambil analogi dimensionalnya pada kematian dengan mengemukakan bahwa menghancurkan sebuah lukisan tidak berarti menghancurkan orang yang sedang melihat lukisan tersebut.

Dalam skenario yang ia ajukan, kematian bisa saja memutus hubungan antara otak dan kesadaran tanpa menghancurkan kerangka tempat pengalaman itu berlangsung.

“Dengan demikian, kesadaran dapat terus berlanjut meskipun tidak lagi menerima informasi melalui indra tubuh,” ujar Rechardt.

Kemungkinan tersebut bergantung pada asumsi bahwa kerangka kesadaran itu ada secara independen dari otak, alih-alih diciptakan dan dipelihara oleh otak.

Ia menulis bahwa pengalaman mendekati kematian mungkin memberikan sekilas gambaran tentang apa yang menanti seseorang ketika fungsi-fungsi tubuh yang menopang kehidupan manusia telah berakhir. (DM/rus)

Exit mobile version