Oleh Syakhruddin Tagana
BULUSARAUNG gunung tua yang tegak di batas Pangkep dan Maros,
Selama ini hanya diam menyimpan doa angin dan jejak kabut.
Namun Sabtu siang, 17 Januari 2026,
Dia mendadak menjadi nisan raksasa, Kuburan besi bagi sayap yang tak sempat mendarat.
Kabut turun bukan sekadar cuaca,ia datang seperti firasat,
Menutup mata langit, memutus suara dari menara ke kokpit.
“Kami kehilangan kontak,” kalimat itu menggantung lama di udara,
Lalu jatuh bersama sebelas nyawa
Yang tak pernah memilih akhir.
Dua anak Malili, menjadi tangan terakhir di kemudi takdir.
Putra-putra terbaik, yang pagi itu hanya berniat pulang,
Membawa harap dari Yogyakarta menuju Hasanuddin, Makassar.
Tak ada yang tahu, itulah perjalanan paling sunyi
Dalam hidup mereka.
Di puncak, dua pasang mata yang sedang berkemah
Menjadi saksi bisu. Api unggun mereka kalah terang
Oleh ledakan di hadapan mata.
Semua terasa seperti mimpi,besi mengaum,langit retak,
Dan sunyi datang paling kejam setelahnya.
Pesawat itu menabrak tubuh gunung,
Terhempas ke jurang, hancur berkeping.
Seperti harapan yang tak sempat dipeluk.
Di Malili, keluarga menunggu dengan riang sederhana:
Senyum, peluk, dan cerita perjalanan.
Namun takdir memilih bahasa lain, bahasa duka
Yang tak bisa ditawar.
Kini mereka bersemayam di puncak,
Bersama penjaga-penjaga tak kasat mata.
Bulusaraung dan Lompobattang,
Dalam kisah lontarak Makassar, bukan sekadar gunung,
Melainkan tempat pertapaan, jejak orang-orang suci
Sebelum melanjutkan langkah ke Mekah dan Madinah.
Hari ini, Bulusaraung membuka tabir kebesarannya
Mengajarkan bahwa pulang tak selalu berarti kembali ke rumah,
Kadang pulang adalah diterima bumi
Dalam keheningan yang abadi.
Dan kami, yang masih bernapas di kaki gunung,
Hanya bisa menunduk, belajar membaca duka,
Seraya berdoa agar langit menerima mereka seutuhnya.
Makassar, Ahad, 18 Januari 2026
by. Syakhruddin Tagana

