Passureq, adalah sebutan untuk seorang senibudayawan tutur yang menyajikan episode ikonik dalam Sureq Galigo, mahakarya sastra Bugis kuno yang telah dianugerahi gelar “Warisan Budaya Dunia” (Memory of The World) oleh UNESCO (United Nations on Education, Science, and Culture Organization) pada tahun 2011.

Sosok passureq itu bernama I Tangang atau akrab disapa Maq Tangang—Maq adalah suku kata akhir kata Emmaq yang berarti “ibu” dalam Bahasa Bugis—lahir di kampung Binuang Kabupaten Barru–Sulawesi Selatan pada 30 Oktober 1949.

Ia telah menyesap nukilan Sureq Galigo sebagai tutur dongeng pengantar tidur sejak masih bocah. Lalu sejak usia 11 tahun, sering menyimak sastra kuno itu dari Passureq di kampungnya. Pada usia 14 tahun, ia kian giat belajar sebagai petutur seni sastra tradisi itu dengan terus giat mendatangi acara adat dan cermat menyimak penampilan passureq pada masa belianya, kemudian ia diam-diam tirulatihkan saat pulang ke rumahnya.

Ketekunan dan kesetiaan Maq Tangang pada warisan budaya itu tiada henti ia lakoni di tengah tak banyak lagi orang di kampungnya yang meminati sastra tutur Bugis kuno, sebagaimana nasib sastra tutur kuno lainnya di Nusantara.

Antara lain lantaran seni tradisi tutur kuno kian tergusur dengan pertunjukan lain, bahkan pada perhelatan acara tradisional sekalipun. Beragam bentuk hiburan pun datang meng-entertaint orang-orang kampung lewat tontonan teknologis, atau datang tak kenal waktu dalam genggaman gawai orang-orang.

Generasi kian berpaling ke forma pertunjukan asuhan industri hiburan yang lebih sensasional, semisal “dangdut”-an yang menyihir lewat liuk eksotik para vokalis yang dikerubung para penonton sambil me-“nyawer”, atau industri teknologi karaoke yang dapat menyulap orang piawai menyanyikan lagu apapun yang mereka gemari.

Di Sulawesi Selatan, termasuk di Kabupaten Barru, peluang passureq dapat hadir melegasikan nilai dari warisan budaya bangsa, tersisa pada hanya sedikit helatan tradisi. Satu di antara sedikit itu adalah tradisi “Maddoja Bine”, sebuah ritual pemuliaan benih padi sebelum benih akhirnya ditebar pada persawahan.

Pada peristiwa budaya agraris Bugis itulah Maq Tangang tampil menuturkan kisah tentang Sangiangseri, sosok “Dewi Padi” versi Sureq Galigo yang terangkum lewat episode “Pau-paunna Meongpalo KarellaE”.

Kisah yang pada sejatinya menegaskan bagaimana menjaga pikiran dan sikap manusia pada Sang Maha Pencipta, pada sesama manusia, pada ekosistem alam. Bahkan pencirian antoginistik versus protagonistik penguasa terhadap rakyat dan alam semesta, digambarkan menjadi kausalitas yang mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan manusia atau sebaliknya akibat yang muncul adalah penderitaan akibat beragam bencana di suatu negeri.

Ketika Suara Lama Menemukan Generasi Baru

Resah Maq Tangang sebagai passureq, agak terobati dan menjadi penghiburnya ketika segelintir belia datang padanya untuk diampu memahami seni tutur Bugis kuno itu, sebagaimana ia belajar sejak kanak-kanak.

Ia melakoninya dengan setia dan tulus, membenih generasi yang masih meminatinya dengan penuh sadar. Termasuk Kamaruddin, anak kandung Maq Tangang sendiri, yang secara moral terpanggil meneruskan kesetiaan ibunya.

Sembari ia dan mereka terus berharap agar para pemangku kepentingan (stakeholders) pemajuan kebudayaan negerinya tetap menaruh perhatian pada beragam warisan budaya luhur bangsa.

Tidak sebatas pada pemberian anugerah kebudayaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2023, yang pun sangat disyukuri oleh Maq Tangang.

Media Film, Digitalisasi Budaya, dan Pelegasian Nilai Budaya

Secara subyektif sebagai orang yang setidaknya lebih satu dekade turut mencurahkan perhatian khusus pada mahakarya sastra Bugis Sureq Galigo lewat berbagai ekspresi estetik—teater, tari, puisi, dan genre pembacaan dramatik—turut menggembirai gagasan pembuatan film dokumenter profil maestro tradisi tutur Bugis kuno oleh para pegiat seni-budaya lintas media, sastra, teater, tari, dan sinematografi, lewat karya film berjudul: Suara Yang Belum Hilang: I Tangang Maestro Pelestari Sureq La Galigo.

Produksi film ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro.

Pembiyaannya difasilitasi “Dana Indonesiana”, yang sejak tahun 2025 di-rebranding sebagai penguatan semangat oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan sebutan “Dana Indonesia Raya”.

Dengan pendekatan kreatif dan cerdas, media film adalah salah satu pilihan yang secara relatif sangat efektif dalam upaya pendokumentasian dan digitalisasi budaya, tentang para pelaku budaya, baik personal maupun komunitas, dan tentu saja subtansi nilai budaya yang terkandung dalam beragam ekspresi budaya tertentu yang mereka usung.

Sejak proses pra-produksi hingga pasca-produksi, saya mengamati proses karya film yang antara lain diawaki oleh sineas: Syam Ancoe Amar (sutradara), Nahemia (editor), Sabil Razak (penulis skenario), Deby Shah Rizal dan Muhammad Rizaldi (kamerawan), Anggara Satria (Musik), dengan Rezki Eka Darmawan selaku produser pelaksana.

Untuk tak tampak dan terasa “berat” dan diharapkan memiliki daya tarik tersendiri pada segmentasi generasi belia, terutama generasi “Z” yang tumbuh di era digital dan sangat akrab dengan internet serta teknologi sejak usia dini, dikisahkan pada suatu pagi sejumlah pelajar mendatangi Maq Tangang untuk jadi narasumber tugas sekolah mereka.

Tugas pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) itu merangkum anasir sastra, tari, musik, seni rupa, dan konten visual.

Para pelajar dalam eksplorasinya masing-masing hingga tiba pada keputusan menelusuri kembali tradisi yang ada di lingkungan kultural mereka di Kabupaten Barru, khususnya tradisi tutur Bugis kuno; Massureq, pentuturan kisah klasik yang dieksplorasi dari Sureq Galigo dan/atau sumber sastra tutur dalam tradisi Bugis lainnya.

Sangiangserri dalam Layar

Salah satu yang menarik dari gagasan dan proses penciptaan film dokumenter ini adalah pilihan visualisasi dengan menjadikan kisah “Sangiangserri” (diperankan Sukma Rilangi) yang tentu saja menghadirkan sumbu karakter Meongpalo KarellaE (aktor Sabil Razak) dan Batara Guru (aktor Faisyal Yunus) sebagai bingkai untuk mengisahkan profil maestro I Tangang.

Rangkaian kisah itu digarap dengan sentuhan dramatik ke dalam visual sinematik, melalui dengan pendekatan “Literature on Screen” (LoS).

Pendekatan LoS dalam karya sinema bergenre dokumenter, membutuhkan riset dan tingkat akurasi data yang lebih kuat dibandingkan karya fiksi, lantaran fungsinya sebagai tontanan literatur yang tak menyajikan informasi fiktif melainkan rangkaian fakta dan logika yang dirangkai lewat estetika sinematografis.

Diksi “Suara Yang Belum Hilang” yang disemat pada judul melampirkan sebuah pesan kuat rekomendatif bagi para stakeholders pelestarian dan pemajuan kebudayaan, pemerintah, organisasi non-pemerintah, budayawan, dan pegiat seni-budaya, untuk terus merawat beragam ekspresi seni-budaya warisan agar tak hilang ditelan ketakpedulian.

“Selain pemenuhan kebutuhan fisik. Sandang, pangan, dan papan; lewat berbagai siasat dan strategi, bangsa kita harus tetap diasup pula oleh suplemen wawasan, nilai, norma, emosi, dan kekuatan imajinasi berikut abstraksinya,” kata Syam Ancoe Amar, pendidik studi sinematografi pada Institut Kesenian Jakarta dan Politeknik Multimedia (Polimedia) Jakarta.

Di antara kiat siasat dan strategi tersebut adalah penyediaan konten karya kreatif berbasis digital yang pada era kini kian mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk dan terutama generasi belia bangsa melalui beragam platform digital.

Keragaman dan kekayaan budaya bangsa Indonesia pun dapat kian dikenal oleh masyarakat antarbangsa dengan eksposur media sibernetika.

Dengan sifatnya yang serba multi-akses serta tak berbatas ruang (borderless) dan tak berbatas waktu (timeless), beragam konten edukatif tentang seni-budaya warisan bangsa kita dapat terus menjadi sumber belajar (learning source) untuk dapat menyesap nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh hulu peradaban antarbangsa.

Sebagai pemerkaya ragam konten digital lainnya dalam bentuk pustaka digital (digital library) berbagai institusi ilmu pengetahuan, konten kanal percakapan (podcast) kebudayaan oleh para intelektual, periset, akademisi, budayawan, seniman, dan lain sebagainya.

Diksi “Suara Yang Belum Hilang” yang disemat pada judul melampirkan sebuah pesan kuat rekomendatif bagi para stakeholders pelestarian dan pemajuan kebudayaan, pemerintah, organisasi non-pemerintah, budayawan, dan pegiat seni-budaya, untuk terus merawat beragam ekspresi seni-budaya warisan agar tak hilang ditelan ketakpedulian.

Melayarkan Karya Kolaboratif

Selama proses pengambilan gambar (shooting) selama 3 (tiga) hari yang dimulai pada 30 Mei 2026 di berbagai lokasi terpilih di Kabupaten Barru, tim produksi memperoleh dukungan penuh budayawan dan pegiat seni-budaya Bugis di Kabupaten Barru.

Antara lain Bapak H. Andi Muhammad Roem—mantan Bupati Barru tahun 2000 hingga 2010, seorang tokoh yang tiada henti mengayomi pemajuan kebudayaan Bugis di Kabupaten Barru—, para pelajar pegiat seni “Ruang Kelima” Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Barru yang didirikan dan dibina langsung oleh Faisyal Yunus, M.Pd. selaku kepala satuan pendidikan.

Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari dan Budayawan Bugis, H. Andi Muhammad Rum (Mantan Bupati Barru 2000–2010) berbincang dengan aktor dan penulis skenario.

Tim produksi film dokumenter tersebut melakukan tahapan pasca-produksi di Jakarta. Kemudian karya film tetap memilih kabupaten “pemilik” tokoh maestro pelestari budaya tersebut, sebagai tempat film itu dilayarkan (screening) sebagai publikasi perdana karya itu.

Pada 30 September 2026, sebuah baligho cukup besar karya desainer grafis Agus Linting—yang juga still photographer dalam produksi film—pun terpampang di halaman kediaman dinas Bupati Barru.

Film ditayangkan pada pukul 16.00 waktu Indonesia tengah. Publik penyaksi hening menyimak tayangan perdana film itu dengan khidmat.

Suara Maq Tangang menuturkan “Pau-paunna Meongpalo KarellaE” dan visualisasi sinematiknya meruang dan memenuhi Baruga “Singkerru’ AdaE” di kediaman Bupati Barru.

Suara yang membawa serat sirat nilai dan pesan luhur dari masa lalu: belum hilang!

“Merinding”

Setelah menonton, Andi Ina Kartika Sari—yang sejak 20 Februari 2025 dilantik secara resmi menjadi Bupati Barru—melangkah ke hadapan tetamu yang diundang khusus di regent’s hall kediaman dinasnya, mengungkapkan perasaan terdalamnya, tak sebatas dalam posisi jabatannya sebagai bupati, melainkan pula sebagai apresian film dan sejak masa belianya juga menyesap nukilan kisah Sureq Galigo yang upaya pewarisannya juga terjadi di lingkungan keluarganya.

Dalam membantu Andi Ina Kartika Sari terus mengibarkan semangat inspiratif budayawan sekaligus perempuan pemimpin Colliq PujiE dan kanon agung Sureq Galigo, mereka adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, dan Kepala Dinas Perpustakaan pada wilayah kabupaten yang memiliki 7 Kecamatan, 15 Kelurahan dan 40 desa tersebut.

Terutama, antara lain karena Kabupaten Barru adalah area situs historikal sentrum proses pengenalan kisah mitologi Bugis kuno itu kemudian mendunia oleh kerja kebudayaan seorang perempuan luar biasa yang pernah berada pada sumbu kekuasaan di Kerajaan Tanete: Retna Kencana Colliq PujiE Arung Pancana Toa (1812–1876).

Sang Bupati menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mendukung produksi film dokumenter tersebut.

Ia menyampaikan pernyataan bagai sebuah “Singkerru’ Ada”, cerminan simpulan, tekad, dan ajakan bagi semua kalangan di kabupaten yang dipimpinnya untuk terus berupaya melestarikan nilai-nilai budaya Bugis dan berkiprah memajukannya.

“Saya, terus terang, merinding menyaksikan film dokumenter tadi. Sureq Galigo yang mengandung kisah dan nilai-nilai moral kehidupan telah jarang kita dengarkan dituturkan secara langsung. Saya selaku bupati akan mendukung dan support penuh agar karya film dokumenter seperti ini dapat menjadi sumber belajar bagi generasi muda kita,” tutur Andi Ina Kartika Sari, di hadapan para apresian yang hadir.

Selain pegiat seni-budaya dan literasi, di antara apresian yang hadir juga terdapat para pejabat pimpinan organisasi teknis pemerintah daerah Kabupaten Barru, pemangku kepentingan dari unsur pemerintah daerah yang berkaitan langsung dalam pelestarian dan pemajuan seni-budaya, pendidikan, dan literasi.

Dalam membantu Andi Ina Kartika Sari terus mengibarkan semangat inspiratif budayawan sekaligus perempuan pemimpin Colliq PujiE dan kanon agung Sureq Galigo, mereka adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, dan Kepala Dinas Perpustakaan pada wilayah kabupaten yang memiliki 7 Kecamatan, 15 Kelurahan dan 40 desa tersebut.

Demikianlah denyut dan nyala pelestarian dan pemajuan kebudayaan yang telah dilakukan di sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan.

Semoga menginspirasi dan terus bergetuktular di kabupaten/kota lainnya di negeri kita tercinta.

Salam Budaya!

Serpong, 4 Oktober 2026.

Ilham Anwar
Aktor/Sutradara Teater dan Pegiat Kebudayaan
Ketua Departemen Seni Budaya, Badan Pengurus Pusat Kerukunan Sulawesi Selatan.

Agus Linting
Fotografer, Graphic Designer, Photo Still Produksi Film, Founder Photonesia. (*)