<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anak-anak Arsip - KABARIKA</title>
	<atom:link href="https://kabarika.id/topik/anak-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarika.id/topik/anak-anak/</link>
	<description>Berkabar untuk Kebaikan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Aug 2025 09:18:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.1</generator>

<image>
	<url>https://kabarika.id/wp-content/uploads/2022/06/cropped-favi-1-90x90.png</url>
	<title>anak-anak Arsip - KABARIKA</title>
	<link>https://kabarika.id/topik/anak-anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Lorong, Anak-anak, dan Harapan Kemerdekaan</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2025/08/18/lorong-anak-anak-dan-harapan-kemerdekaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2025 09:18:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[Harapan Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Lorong]]></category>
		<category><![CDATA[Muliadi Saleh]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=41207</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Muliadi Saleh Penulis: Pemikir &#124; Penggerak Literasi &#38; Kebudayaan Kemerdekaan Indonesia selalu dirayakan dengan gegap gempita: bendera berkibar, lomba di lapangan, musik rakyat di jalanan. Namun ada wajah lain dari kemerdekaan, yang sering terlewat dari sorotan: wajah sederhana rakyat kecil di lorong-lorong sempit dan perkampungan di atas bukit. Di situlah makna merdeka diuji—apakah ia [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/08/18/lorong-anak-anak-dan-harapan-kemerdekaan/">Lorong, Anak-anak, dan Harapan Kemerdekaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muliadi Saleh</strong><br />
<em><strong>Penulis: Pemikir | Penggerak Literasi &amp; Kebudayaan</strong></em></p>
<p>Kemerdekaan Indonesia selalu dirayakan dengan gegap gempita: bendera berkibar, lomba di lapangan, musik rakyat di jalanan. Namun ada wajah lain dari kemerdekaan, yang sering terlewat dari sorotan: wajah sederhana rakyat kecil di lorong-lorong sempit dan perkampungan di atas bukit. Di situlah makna merdeka diuji—apakah ia hanya perayaan simbolik, atau sungguh hadir dalam denyut hidup sehari-hari.</p>
<p>Dalam pencarian makna itu, Dr. H.M. Jamal Amin, M.Si., dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Mulawarman, menapaki sebuah perjalanan kecil namun sarat makna.</p>
<p>Pada suatu pagi, sekitar pukul sembilan, ia joging menyusuri jalan setapak menuju Gunung Rumbia di Samarinda, gang 2 Jalan Rumbia, kawasan Kompleks Unmul.</p>
<p>Jalan sempit berkelok itu menanjak hingga dua ratus meter. Di kiri-kanannya berdiri rumah-rumah warga Buton yang sejak puluhan tahun lalu menetap di sana.</p>
<p>Di puncak kecil itu, ia bersua dengan Wa’ Munda, perempuan berusia senja. Lahir di Buton pada 1957, merantau ke Samarinda sejak 1976, ia telah menghabiskan hidupnya di gunung ini. Saat pertama datang, wilayah itu masih hutan rimba.</p>
<p>Dengan tangan sendiri, bersama para perantau lain, ia menebas semak, membuka jalan, menanam kehidupan di tanah asing. Kini, di usia tuanya, Wa’ Munda menatap cucu-cucunya tumbuh dalam suasana yang jauh berbeda.</p>
<p>“Bagi saya, merdeka itu sederhana,” ucapnya pelan. “Anak-anak bisa sekolah, bisa mengaji, bisa hidup aman. Kami dulu harus berjuang keras di hutan. Tapi asal anak cucu tidak susah seperti kami dulu, itulah merdeka.”</p>
<p>Kesaksian Wa’ Munda memperlihatkan bagaimana rakyat kecil memaknai kemerdekaan bukan sebagai slogan besar, tetapi sebagai kesempatan nyata untuk hidup lebih baik.</p>
<p>Tak jauh dari rumahnya, Dr. Jamal mendapati anak-anak keturunan Buton tengah merayakan 17 Agustus dengan sukacita. Mereka bernyanyi, membawa bendera kecil, dan bermain riang meski dengan fasilitas terbatas. Ada kesederhanaan, ada kekurangan, namun ada pula cahaya harapan yang menyala.</p>
<p>Dr. Jamal lalu bertanya kepada mereka: “Nak, apa cita-citamu?”<br />
Satu menjawab ingin jadi dokter, yang lain tentara, ada pula polisi, guru, dan bidan. Semua mengalir dengan penuh keyakinan.</p>
<p>Ia pun tersenyum, memberi pesan singkat namun penuh makna: “Rajin belajar ya, jangan lupa shalat dan mengaji. Semoga cita-cita kalian tercapai.” Kata-kata itu adalah doa yang sederhana, tapi bisa menjadi bekal besar bagi anak-anak yang tengah menatap masa depan. (***)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/08/18/lorong-anak-anak-dan-harapan-kemerdekaan/">Lorong, Anak-anak, dan Harapan Kemerdekaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waspada! Anak-anak Berisiko Lebih Tinggi Terkena Cacar Monyet</title>
		<link>https://kabarika.id/berita/2024/09/09/waspada-anak-anak-berisiko-lebih-tinggi-terkena-cacar-monyet/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Suwardi Thahir]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Sep 2024 11:20:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[cacar monyet]]></category>
		<category><![CDATA[dpr-ri]]></category>
		<category><![CDATA[virus Mpox]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=22253</guid>

					<description><![CDATA[<p>KABARIKA.ID, JAKARTA &#8212; Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengimbau kepada masyarakat yang memiliki anak untuk selalu memperhatikan kondisi kesehatan anak-anaknya. Mengingat, kata Rahmad, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyebut anak-anak berisiko lebih tinggi terkena penyakit Cacar Monyet atau Mpox (MonkeyPox) dalam kondisi parah dibandingkan orang dewasa. “Walaupun bukan berarti masyarakat harus takut atau panik, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/berita/2024/09/09/waspada-anak-anak-berisiko-lebih-tinggi-terkena-cacar-monyet/">Waspada! Anak-anak Berisiko Lebih Tinggi Terkena Cacar Monyet</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KABARIKA.ID, JAKARTA &#8212; Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengimbau kepada masyarakat yang memiliki anak untuk selalu memperhatikan kondisi kesehatan anak-anaknya.</p>
<p>Mengingat, kata Rahmad, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyebut anak-anak berisiko lebih tinggi terkena penyakit Cacar Monyet atau Mpox (MonkeyPox) dalam kondisi parah dibandingkan orang dewasa.</p>
<p>“Walaupun bukan berarti masyarakat harus takut atau panik, tapi mengantisipasi lebih baik daripada mengobati. Pastikan anak-anak kita terjaga dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Sebisa mungkin hindari dulu tempat ramai atau kerumunan,” imbau Rahmad dalam keterangannya, Senin (9/9/2024).</p>
<p>Data WHO menunjukkan, rasio kematian kasus Mpox pada anak-anak di bawah usia satu tahun mencapai 8,6 persen. Ini lebih tinggi dibandingkan kematian dari 2,4 persen pasien berusia 15 tahun ke atas.</p>
<p>&#8220;Tapi masyarakat tidak perlu merasa cemas dan khawatir berkepanjangan karena penyakit ini bisa diobati. Ikuti informasi resmi dari Pemerintah dan perbanyak literasi mengenai Mpox seperti gejala awal dan cara penanganannya,” kata Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.</p>
<p>Ia berharap tidak gampang percaya pada informasi di media sosial yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Cari informasi dari sumber-sumber terpercaya.</p>
<p>Mengutip Save The Children, penularan Mpox terhadap anak bisa lebih cepat karena sistem kekebalan tubuhnya masih lemah.</p>
<p>Biasanya, anak-anak mudah tertular penyakit saat di sekolah yang memiliki banyak aktivitas kontak fisik.</p>
<p>&#8220;Untuk melindungi anak anak dan keluarga yang mungkin terkena suspek, perlu ada perlindungan berlapis. Lingkungan pendidikan juga harus berpartisipasi melakukan upaya-upaya pencegahan virus Mpox,” sebut Rahmad.</p>
<p>Untuk itu, Pemerintah diingatkan untuk melakukan kolaborasi dan koordinasi antara stakeholder terkait. Selain itu, menurut Rahmad, Pemerintah harus memastikan vaksin yang ada di Indonesia sudah mencukupi agar Mpox tidak mewabah di Indonesia.</p>
<p>“Kasus penularan Mpox pada anak-anak di Afrika menjadi pelajaran berharga buat Indonesia. DPR mendukung upaya Pemerintah yang saat ini masih fokus pada vaksinasi terhadap warga dengan risiko tinggi sembari mewaspadai kemungkinan penularan pada anak-anak,” urainya.</p>
<p>Rahmad mengatakan, Pemerintah tidak bisa sendiri dalam menangani penyakit Mpox. Sehingga penting bagi Pemerintah untuk bekerja sama dan bergotong royong dengan pihak-pihak terkait.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/berita/2024/09/09/waspada-anak-anak-berisiko-lebih-tinggi-terkena-cacar-monyet/">Waspada! Anak-anak Berisiko Lebih Tinggi Terkena Cacar Monyet</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
