<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konflik Arsip - KABARIKA</title>
	<atom:link href="https://kabarika.id/topik/konflik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarika.id/topik/konflik/</link>
	<description>Berkabar untuk Kebaikan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Apr 2026 12:24:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.1</generator>

<image>
	<url>https://kabarika.id/wp-content/uploads/2022/06/cropped-favi-1-90x90.png</url>
	<title>Konflik Arsip - KABARIKA</title>
	<link>https://kabarika.id/topik/konflik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Konflik yang Dipelihara: Siapa Untung, Siapa Rugi?</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/04/15/konflik-yang-dipelihara-siapa-untung-siapa-rugi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 10:37:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Munawir Kamaluddin]]></category>
		<category><![CDATA[Siapa Rugi]]></category>
		<category><![CDATA[Siapa Untung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=51923</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Munawir Kamaluddin Ada manusia yang merasa besar ketika mampu mengalahkan orang lain, namun lupa bahwa ia sedang mengecilkan dirinya sendiri.Ada yang merasa menang saat lawannya terdiam, padahal sesungguhnya ia hanya sedang memperlihatkan ketidakmampuannya untuk memahami.Dan ada pula yang begitu sibuk menyerang, hingga tak sempat menyadari bahwa yang paling terluka… justru jiwanya sendiri. Konflik, dalam [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/04/15/konflik-yang-dipelihara-siapa-untung-siapa-rugi/">Konflik yang Dipelihara: Siapa Untung, Siapa Rugi?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Munawir Kamaluddin</strong></p>
<p>Ada manusia yang merasa besar ketika mampu mengalahkan orang lain, namun lupa bahwa ia sedang mengecilkan dirinya sendiri.Ada yang merasa menang saat lawannya terdiam, padahal sesungguhnya ia hanya sedang memperlihatkan ketidakmampuannya untuk memahami.Dan ada pula yang begitu sibuk menyerang, hingga tak sempat menyadari bahwa yang paling terluka… justru jiwanya sendiri.</p>
<p>Konflik, dalam makna yang paling sederhana adalah pertemuan antara dua kehendak yang tidak sejalan, dua cara pandang yang tidak bertemu, atau dua ego yang sama-sama ingin menang. Ia bukan selalu buruk, karena dari perbedaan lahir dinamika. Namun konflik menjadi berbahaya ketika tidak lagi dikelola dengan akal dan hati, melainkan dibiarkan dikendalikan oleh emosi, prasangka, dan ambisi.</p>
<p>Di situlah konflik berubah wajah, dari ruang dialog menjadi arena pertarungan, dari upaya mencari kebenaran menjadi panggung pembenaran diri. Kata-kata tidak lagi menjadi jembatan, tetapi senjata. Argumen tidak lagi menjadi cahaya, tetapi bara yang membakar. Dan manusia tidak lagi melihat sesamanya sebagai saudara, tetapi sebagai lawan yang harus dijatuhkan.</p>
<p>Realitas sosial hari ini memperlihatkan fenomena itu dengan begitu nyata. Perdebatan kehilangan adab, perbedaan menjadi alasan permusuhan, dan kritik berubah menjadi serangan pribadi. Orang tidak lagi sabar mendengar, tetapi tergesa untuk membalas. Tidak lagi mencari solusi, tetapi sibuk memenangkan persepsi.</p>
<p>Padahal, jika direnungkan lebih dalam, apa sebenarnya keuntungan dari konflik yang tak terkendali? Apa yang benar-benar dimenangkan?</p>
<p>Allah SWT. mengingatkan dengan sangat jernih:<br />
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ<br />
“Janganlah kalian berselisih, karena kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)</p>
<p>Ayat ini bukan sekadar larangan, tetapi sebuah analisis sosial yang tajam: bahwa konflik yang tidak dikelola akan melahirkan kelemahan kolektif. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun, justru habis untuk bertikai. Kekuatan yang seharusnya menyatu, justru tercerai oleh ego yang saling bertabrakan.</p>
<p>Rasulullah SAW. pun mengingatkan dengan nada yang sangat mendalam:<br />
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا<br />
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar.” (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Perhatikan… bahkan ketika seseorang berada di pihak yang benar, ia tetap dianjurkan untuk menahan diri dari perdebatan yang tidak produktif. Mengapa? Karena tidak semua kebenaran harus diperjuangkan dengan pertengkaran. Ada kebenaran yang justru lebih mulia ketika disampaikan dengan kelembutan, atau bahkan dengan diam yang bijak.</p>
<p>Lebih dalam lagi, konflik yang didorong oleh ego sering kali tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah bentuk, dari kata menjadi luka, dari luka menjadi dendam, dari dendam menjadi siklus permusuhan yang tak berujung.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata:<br />
أَوَّلُ الْغَضَبِ جُنُونٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ<br />
“Awal dari kemarahan adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan.”</p>
<p>Betapa banyak konflik yang dimulai dari hal kecil, tetapi membesar karena ketidakmampuan mengendalikan diri. Dan betapa banyak penyesalan yang datang terlambat, ketika hubungan telah rusak, kepercayaan telah hilang, dan hati telah terlanjur terluka.</p>
<p>Dalam konteks moral, fenomena ini menunjukkan adanya kemerosotan karakter. Nilai-nilai kesabaran tergeser oleh sikap reaktif. Kejujuran digantikan oleh pembenaran. Dan ukhuwah dikalahkan oleh ambisi untuk diakui.</p>
<p>Manusia lebih sibuk terlihat benar daripada menjadi benar. Lebih ingin menang di hadapan manusia daripada benar di hadapan Allah.</p>
<p>Padahal Allah telah memberikan arah yang begitu indah:<br />
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ<br />
“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)</p>
<p>Ini bukan sekadar ajaran moral, tetapi strategi membangun peradaban. Bahwa keburukan tidak dilawan dengan keburukan. Bahwa kekerasan tidak disembuhkan dengan kekerasan. Dan bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita mengalahkan orang lain, tetapi ketika kita mampu mengalahkan diri sendiri.</p>
<p>Lalu siapa sebenarnya pemenang dalam konflik?, Bukan mereka yang paling keras suaranya. Bukan mereka yang paling tajam kata-katanya.<br />
Bukan pula mereka yang mampu menjatuhkan lawannya.</p>
<p>Pemenang sejati adalah mereka yang mampu menahan diri ketika marah, yang mampu memaafkan ketika disakiti, dan yang mampu tetap adil ketika diperlakukan tidak adil.</p>
<p>Rasulullah SAW. bersabda:<br />
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ<br />
“Orang kuat itu bukan yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Di sinilah kita mulai memahami bahwa konflik bukan hanya persoalan eksternal, tetapi refleksi dari kondisi batin. Ketika hati gelisah, ia mudah tersulut. Ketika jiwa kosong, ia mudah menyerang. Dan ketika iman melemah,ego mengambil alih.</p>
<p>Maka pemulihan harus dimulai dari dalam. Dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dari kesediaan untuk menundukkan ego. Dan dari ketulusan untuk kembali kepada nilai-nilai Ilahiyah.Allah berfirman:</p>
<p>قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا • وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا<br />
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)</p>
<p>Pemulihan jiwa (tazkiyatun nafs) melahirkan ketenangan. Dari ketenangan lahir kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan lahir kemampuan untuk melihat bahwa tidak semua konflik harus dimenangkan, sebagian cukup diselesaikan, sebagian lagi cukup diredam.</p>
<p>Pada akhirnya, dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai bertengkar, tetapi lebih banyak manusia yang mampu meredakan. Tidak membutuhkan lebih banyak perdebatan, tetapi lebih banyak pemahaman. Tidak membutuhkan lebih banyak kemenangan semu, tetapi lebih banyak kedamaian yang nyata.</p>
<p>Karena sesungguhnya, dalam setiap konflik yang tak terkendali, semua orang kehilangan sesuatu.<br />
Tetapi dalam setiap upaya perdamaian, semua orang mendapatkan kembali dirinya.</p>
<p>Dan di situlah kita menemukan jawaban yang paling jujur, bahwa yang benar-benar menang… bukan yang menjatuhkan, tetapi yang menguatkan. Bukan yang menyerang, tetapi yang merangkul.<br />
Bukan yang menguasai, tetapi yang mampu menenangkan.</p>
<p>Sebab dari hati yang damai, lahir dunia yang damai. Dan dari jiwa yang bijak, tumbuh peradaban yang bermartabat.</p>
<p>#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏</p>
<p>SEMOGA BERMANFAAT<br />
Al-Faqir. Munawir Kamauddin</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/04/15/konflik-yang-dipelihara-siapa-untung-siapa-rugi/">Konflik yang Dipelihara: Siapa Untung, Siapa Rugi?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BABAK AKHIR DUALISME PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI)</title>
		<link>https://kabarika.id/berita/2025/06/16/babak-akhir-dualisme-persatuan-wartawan-indonesia-pwi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Suwardi Thahir]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2025 07:14:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Alumni Unhas]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Dahi]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik]]></category>
		<category><![CDATA[PWI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=37402</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Rusman Madjulekka (Jurnalis Berdomisili di Jakarta). KABARIKA.ID&#8211;SEBAGAI orang yang pernah bergabung, semula saya ikut sedih dan prihatin dengan konflik internal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Meski begitu, saya percaya konflik seperti ini juga ada di semua organisasi, bahkan di organisasi umat beragama sekalipun. Yang jadi masalah bukan organisasinya, tetapi orang-orangnya yang mengurus. Konflik itu bermula [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/berita/2025/06/16/babak-akhir-dualisme-persatuan-wartawan-indonesia-pwi/">BABAK AKHIR DUALISME PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Oleh Rusman Madjulekka (Jurnalis Berdomisili di Jakarta).</strong></p>
<p dir="ltr"><a href="http://KABARIKA.ID">KABARIKA.ID</a>&#8211;SEBAGAI orang yang pernah bergabung, semula saya ikut sedih dan prihatin dengan konflik internal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Meski begitu, saya percaya konflik seperti ini juga ada di semua organisasi, bahkan di organisasi umat beragama sekalipun. Yang jadi masalah bukan organisasinya, tetapi orang-orangnya yang mengurus.</p>
<p dir="ltr">Konflik itu bermula ketika Hendry Hendry Ch Bangun terpilih sebagai Ketua Umum PWI melalui Kongres Bandung, 27 September 2023.</p>
<p dir="ltr">Namun kurang dari setahun, awal 2024, PWI dilanda konflik internal berkaitan dengan pengelolaan dana pendidikan dari Kementerian BUMN.</p>
<p dir="ltr">Konflik yang tak berkesudahan berbuntut Kongres Luar Biasa (KLB) di Jakarta, 18 Agustus 2024 dengan  memilih  Zulmansyah Sakedang secara aklamasi sebagai Ketua Umum.</p>
<p dir="ltr">Dibalik keprihatinan itu, setidaknya masih terselip rasa optimis. Saya menduga konflik ini tak berlangsung lama. Akan menemukan jalan menuju proses rekonsiliasi. Sebab akarnya bukan perpecahan ideologi seperti era BM Diah vs Rosihan Anwar, tapi menurut tokoh pers Dahlan Iskan, rebutan kursi layak piring pecah.</p>
<p dir="ltr">Dengan kata lain, ada gula ada semut. Banyak semut mesti berpotensi saling sikut. Itu seakan sudah jadi hukum alam. Terjadi dimana-mana.</p>
<p dir="ltr">Sebenarnya arti gula sejak dulu itu tidak hanya bermakna uang. Dan tak selalu uang jadi pemicu utama pertengkaran dunia. Tapi, gula bisa juga bermakna pengaruh sosial atau jabatan. Meskipun pengaruh itu hanya sebatas lingkungan untuk satu komunitas, sekelompok orang ataupun sekelompok yang satu profesi.  Buktinya, saling sikut antar sesama terjadi juga di kalangan profesi dokter, advokat, dan lainnya.</p>
<p dir="ltr">Sebelum kursi dan piring “melayang” kemana-mana, Dewan Pers mengambil langkah sigap dengan cepat menyegel kantor pusat PWI di Jakarta dan mengosongkan kursi keanggotaannya.</p>
<p dir="ltr">Beberapa kali upaya rekonsiliasi dilakukan sejumlah tokoh pers kelas dewa melalui pendekatan personal tapi menemui jalan buntu. Belakangan ada jalan yang diinisiasi Dewan Pers sangat baik: “Kesepakatan Jakarta”. Isi naskah kesepakatan yang “mendamaikan” kedua kubu itu adalah digelarnya “Kongres Persatuan” PWI di Jakarta paling lambat 30 Agustus 2025. Termasuk sepakat menyelesaikan semua masalah yang berlarut di arena kongres tersebut.</p>
<p dir="ltr">Kesepakatan itu dicapai melalui negosiasi maraton di Jakarta, Jumat (16/5/2025) malam yang dilakukan Dahlan Dahi selaku anggota Dewan Pers. Negosiasi berlangsung sekitar empat jam. Dahlan duduk di tengah-tengah kedua Ketum PWI yang berkonflik, menjadi mediator. Negosiasi berlangsung sangat alot di beberapa poin, disertai debat panas. Namun, beberapa kali terdengar suara tawa yang keras.</p>
<p dir="ltr">Kedewasaan emosional dan keikhlasan kedua petinggi PWI itulah, menurut Dahlan, yang memuluskan proses negosiasi. Keduanya menepikan ego masing-masing dan ingin meninggalkan legacy yang baik kepada generasi muda PWI.</p>
<p dir="ltr">“Bang Hendry dan Bang Zul tegas dan konsisten dengan prinsip masing-masing. Tapi kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk pers Indonesia, untuk PWI, menjadi titik temu. Keduanya juga bersahabat. Negosiasi dimulai dari sana,” kata Dahlan.</p>
<p dir="ltr">Hendry dan Zulmansyah menuangkan poin-poin kesepakatan dalam dokumen bermaterai yang diberi nama “Kesepakatan Jakarta”.</p>
<p dir="ltr">“Semua harus melihat ke depan dengan semangat persatuan, Ini semua untuk mengembalikan PWI yang sempat tertahan program kerjanya akibat perpecahan selama setahun,” kata Hendry.</p>
<p dir="ltr">PWI dengan anggota <a href="tel:30000">30.000</a>, tersebar di 39 provinsi, dan memiliki anggota bersertifikat sekitar <a href="tel:20000">20.000</a> ingin terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. Dan program peningkatan kompetensi dan kapasitas anggota dapat kembali berjalan baik.</p>
<p dir="ltr">“Ini hasil yang luar biasa dan merupakan sejarah untuk PWI. Semoga PWI kembali guyub dan bersatu sesuai namanya Persatuan Wartawan Indonesia, baik di PWI pusat maupun di daerah,” kata Zulmansyah.</p>
<p dir="ltr">Selanjutnya, untuk menyelenggarakan “Kongres Persatuan”, kedua kubu sepakat membentuk panitia bersama, terdiri tujuh orang steering committee (OC) yang terdiri atas ketua, wakil ketua, sekretaris, dan empat orang anggota. Steering Committee (SC) juga dibentuk bersama.</p>
<p dir="ltr">Hendry dan Zulmansyah juga menyepakati poin paling penting, yakni calon ketua umum.  “Seluruh anggota biasa PWI berhak mencalonkan diri menjadi calon Ketua Umum PWI. Bila terdapat hambatan pencalonan karena masalah administratif atau hal lain yang muncul karena konflik PWI, maka hambatan itu akan ditiadakan/dihapuskan melalui mekanisme yang memungkinkan dengan semangat ketulusan, keikhlasan, dan persaudaraan sesuai prinsip-prinsip deklarasi ini,” demikian tertuang dalam “Kesepakatan Jakarta”.</p>
<p dir="ltr">Setiap konflik memang butuh penengah. Seperti layanya pertandingan harus ada wasit. Rebutan apapun sepanjang itu ada disuatu tempat yang ada penguasanya harusnya gampang diselesaikan, kecuali penengahnya ikut  bermain.</p>
<p dir="ltr">Siapa sosok ‘juru damai” itu yang juga berfungsi sebagai wasit yang netral. Kerjanya begitu cepat. Bahkan melebihi kereta cepat whoosh. Padahal ia baru dua hari dilantik jadi anggota Dewan Pers <a href="tel:20252028">2025-2028</a>.</p>
<p dir="ltr">Saya mengenal Dahlan Dahi sejak mahasiswa. Putra kelahiran Wanci di Wakatobi, pulau di pelosok Sulawesi Tenggara. Ayahnya imam masjid di kampungnya. Dahlan menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan. Semua saudaranya juga kuliah di Unhas.</p>
<p dir="ltr">Sekitar 33 tahun silam, kami sama-sama sebagai mahasiswa. Saya dan Dahlan satu angkatan tahun 1990 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Hanya beda program studi. Dia politik saya komunikasi.</p>
<p dir="ltr">Sejak mahassiwa Dahlan aktif di koran kampus. Ia dikenal &#8220;pemberontak&#8221; keras. Ia akan melawan semua ketidakbenaran dan ketidakadilan yang terpapar di hadapannya. Tak peduli yang dilawannya sedang berkuasa. Tapi kali ini ia menjelma menjadi “penengah” yang kalem.</p>
<p dir="ltr" style="text-align: left">Kita menyaksikan bulan racun. Memang hanya hitungan bulan, racun itu segera berubah jadi “madu”. Tepatnya pada Agustus 2025 akan ada “Kongres Persatuan” yang mengakhiri sengketa dualisme kepengurusan PWI. *** (<strong>Rusman Madjulekka, jurnalis berdomisili di Jakarta).</strong></p>
<p dir="ltr">
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/berita/2025/06/16/babak-akhir-dualisme-persatuan-wartawan-indonesia-pwi/">BABAK AKHIR DUALISME PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
