<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lensa jurnalistik Arsip - KABARIKA</title>
	<atom:link href="https://kabarika.id/topik/lensa-jurnalistik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarika.id/topik/lensa-jurnalistik/</link>
	<description>Berkabar untuk Kebaikan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Jul 2026 04:11:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.1</generator>

<image>
	<url>https://kabarika.id/wp-content/uploads/2022/06/cropped-favi-1-90x90.png</url>
	<title>Lensa jurnalistik Arsip - KABARIKA</title>
	<link>https://kabarika.id/topik/lensa-jurnalistik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sepak Bola dan Putu Soppa</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/07/09/sepak-bola-dan-putu-soppa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 04:11:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=54940</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: 𝐒𝐮𝐟 𝐊𝐚𝐬𝐦𝐚𝐧 DEMAM Piala Dunia 2026 menjangkiti warung kopi hingga sudut kampus. Jutaan pasang mata lintas usia dan profesi mendadak jadi pengamat dadakan. Semua merasa berhak berkomentar. Anak-anak mengulas laga, remaja angkat bicara, dewasa melempar analisis. Laki-laki, perempuan, hingga kaum calabainisasi pun larut dalam perbincangan. Semalam saja, semua mendadak lebih paham taktik dibanding pelatih [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/07/09/sepak-bola-dan-putu-soppa/">Sepak Bola dan Putu Soppa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: 𝐒𝐮𝐟 𝐊𝐚𝐬𝐦𝐚𝐧</p>
<p>DEMAM Piala Dunia 2026 menjangkiti warung kopi hingga sudut kampus. Jutaan pasang mata lintas usia dan profesi mendadak jadi pengamat dadakan.</p>
<p>Semua merasa berhak berkomentar. Anak-anak mengulas laga, remaja angkat bicara, dewasa melempar analisis. Laki-laki, perempuan, hingga kaum calabainisasi pun larut dalam perbincangan.</p>
<p>Semalam saja, semua mendadak lebih paham taktik dibanding pelatih elite Eropa. Saat tim jagoan kalah, hujatan banjir bandang. Proses, kualitas lawan, hingga faktor keberuntungan mendadak tak berarti.</p>
<p>Saya bukan penggila bola. Saya justru lebih menikmati tingkah polah penonton ketimbang dramatisasi di lapangan.</p>
<p>Momen itu tertangkap mata sepulang dari Silaturahmi Nasional DDI di Pondok Pesantren Kaballangan, Pinrang.</p>
<p>Langkah saya terhenti di Lalle’ Macorawalie. Aroma gurih parutan kelapa dan manisnya pandan yang mengepul dari kukusan, menusuk hidung dari pinggir Jalan Jenderal Sudirman.</p>
<p>𝙥𝙪𝙩𝙪 soppa hijau daun pandan itu seketika menyihir mata saya untuk singgah.</p>
<p>Biasanya kuliner tradisional ini hanya putih atau hitam. Kini variannya bertambah, mungkin esok ada 𝙥𝙪𝙩𝙪 warna biru metalik atau silver titanium.</p>
<p>Saya memilih pojok gardu sederhana di pinggir jalan. Berharap aman dan tak terdeteksi radar pengintai siapa pun.</p>
<p>Celaka kalau Kanda Latif Salama’ sang pengader saya lewat, atau Rizal Rizang kawan sekelas di pesantren dulu singgah, “hancur reputasi”, bisa kena sidang pleno di meja 𝙥𝙪𝙩𝙪. Ai masiri’na!</p>
<p>Sialnya, belum sempat suapan pertama 𝙥𝙪𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙡𝙡𝙖 mendarat, rombongan bapak-bapak datang menyerbu. Ada yang wajahnya lesu, mirip pasien baru keluar dari RSUD Lasinrang.</p>
<p>Tim jagoan mereka baru saja tumbang. Bukan sekadar kalah, tapi baginya mappakasiri’-siri’.</p>
<p>Begitu akumulasi 𝙥𝙪𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙡𝙡𝙖 tersaji, logika mereka ikut korslet. Kudapan panas yang harusnya dikunyah anggun, langsung di-smackdown tujuh batang 𝙥𝙪𝙩𝙪 sekaligus ke dalam mulut. Persis orang kelaparan sepekan akibat turnamen sepak bola dunia FIFA.</p>
<p>Kisah duka nonton bareng pun tumpah. Ada yang kehilangan uang taruhan Rp50.000, ada yang merelakan dua rak telur ayam pindah tangan. Ayamnya tetap di kandang, telurnya pindah kubu.</p>
<p>Di tengah nestapa itu, ibu penjual 𝙥𝙪𝙩𝙪 di depan saya menjelma jadi gelandang tengah. Berkali-kali ia mengoper 𝙥𝙪𝙩𝙪 pandan ke piring saya. Terus-menerus tombonisasi.</p>
<p>&#8220;Kutambahkan ki&#8217;, Pak Na.&#8221;</p>
<p>Saya tak kuasa menolak operan mautnya. Na dotika’ kapang!<br />
Di akhir laga meja 𝙥𝙪𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙡𝙡𝙖, piring saya menang telak, tapi dompet jebol membawa kartu merah. Melo’ mopo!</p>
<p>Sepanjang jalan pulang ke Makassar, sebuah tanya mengusik: mengapa negeri sebesar ini masih sulit menembus panggung dunia?</p>
<p>Persoalannya bukan karena kita miskin bakat, melainkan miskin kesabaran merawat talenta.</p>
<p>Pembinaan bola kita persis cara bapak-bapak tadi makan 𝙥𝙪𝙩𝙪: ingin serba cepat, langsung 𝘯𝘢𝘵𝘪𝘣𝘰 pada hasil, tapi enggan membangun fondasi.</p>
<p>Negeri ini surplus komentator, tapi krisis pembina. Suara tribun riuh, media sosial penuh petuah, sementara lapangan latihan lebih sunyi dari kolom komentar.</p>
<p>Sunnatullah mengajarkan, hasil besar selalu lahir dari proses. Prestasi tidak tumbuh dari euforia sesaat, melainkan dari kesabaran dan ikhtiar yang dirawat.</p>
<p>Di atas hamparan rumput, bola itu bundar. Hari ini kalah, esok ada waktu bangkit. Jabatan, gelar, dan kasta sosial tak pernah ikut mencetak gol.</p>
<p>Yang menentukan hanyalah kemampuan, kerja sama, dan akhlak. Maka fair play bukan sekadar aturan, ia adalah cerminan karakter.</p>
<p>Percuma menggenggam trofi dari hasil tipu daya. Kemenangan itu mungkin dipuji manusia, tetapi kehilangan nilainya di hadapan Allah.</p>
<p>Peluit panjang menyudahi laga. Begitu azan berkumandang, semua kembali merapatkan saf. Tak ada lagi pendukung tim A atau tim B.</p>
<p>Yang tersisa hanyalah hamba-hamba Allah, berdiri tegak menghadap kiblat yang sama.</p>
<p>𝐌𝐚𝐤𝐚𝐬𝐬𝐚𝐫, 𝟎𝟗 𝐉𝐮𝐥𝐢 𝟐𝟎𝟐𝟔 (𝐒𝐅)</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/07/09/sepak-bola-dan-putu-soppa/">Sepak Bola dan Putu Soppa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>𝗥𝗔𝗠𝗔𝗗𝗔𝗡 𝗞𝗘-𝟮𝟳: 𝗙𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗔𝗽𝗽𝗿𝗼𝗮𝗰𝗵 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗚𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗙𝗶𝗻𝗶𝘀</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/03/17/%f0%9d%97%a5%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%94%f0%9d%97%97%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a1-%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%98-%f0%9d%9f%ae%f0%9d%9f%b3-%f0%9d%97%99%f0%9d%97%b6%f0%9d%97%bb%f0%9d%97%ae%f0%9d%97%b9/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 08:31:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Suf Kasman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=50767</guid>

					<description><![CDATA[<p>𝗢𝗹𝗲𝗵: 𝗦𝘂𝗳 𝗞𝗮𝘀𝗺𝗮𝗻 𝘋𝘰𝘴𝘦𝘯 𝘍𝘢𝘬𝘶𝘭𝘵𝘢𝘴 𝘋𝘢𝘬𝘸𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘜𝘐𝘕 𝘈𝘭𝘢𝘶𝘥𝘥𝘪𝘯 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳 HARI ini Ramadhan ke-27. Tersisa dua atau tiga hari lagi jika umur panjang untuk masuk garis finis. Ibarat perjalanan jauh, kini saya benar-benar sedang memasuki fase Final Approach. Sebuah tahapan krusial menuju pendaratan yang menentukan. Menatap arloji Bvlgari kesayanganku, muncul kesadaran mendalam. Waktu Ramadhan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/03/17/%f0%9d%97%a5%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%94%f0%9d%97%97%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a1-%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%98-%f0%9d%9f%ae%f0%9d%9f%b3-%f0%9d%97%99%f0%9d%97%b6%f0%9d%97%bb%f0%9d%97%ae%f0%9d%97%b9/">𝗥𝗔𝗠𝗔𝗗𝗔𝗡 𝗞𝗘-𝟮𝟳: 𝗙𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗔𝗽𝗽𝗿𝗼𝗮𝗰𝗵 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗚𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗙𝗶𝗻𝗶𝘀</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>𝗢𝗹𝗲𝗵: 𝗦𝘂𝗳 𝗞𝗮𝘀𝗺𝗮𝗻</p>
<p>𝘋𝘰𝘴𝘦𝘯 𝘍𝘢𝘬𝘶𝘭𝘵𝘢𝘴 𝘋𝘢𝘬𝘸𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘜𝘐𝘕 𝘈𝘭𝘢𝘶𝘥𝘥𝘪𝘯 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳</p>
<p>HARI ini Ramadhan ke-27.<br />
Tersisa dua atau tiga hari lagi jika umur panjang untuk masuk garis finis.</p>
<p>Ibarat perjalanan jauh, kini saya benar-benar sedang memasuki fase Final Approach.<br />
Sebuah tahapan krusial menuju pendaratan yang menentukan.</p>
<p>Menatap arloji Bvlgari kesayanganku, muncul kesadaran mendalam.<br />
Waktu Ramadhan adalah navigasi utama menentukan keselamatan batin.</p>
<p>Local Time dunia sering menipu.<br />
Padahal waktu keberangkatan setiap hamba adalah kepastian absolut tak tertunda.</p>
<p>Waktu Ramadhan bukan deretan angka digital berkedip di layar ponsel.<br />
Ia adalah hakim paling jujur mengadili setiap detik napas di penghujung bulan suci.</p>
<p>Dulu, saya mungkin sering meremehkan filosofi waktu.<br />
Menganggapnya sebagai sumber daya tak habis-habisnya.</p>
<p>Kini, saya makin paham ada empat hal mustahil ditarik kembali.<br />
Batu telanjur dilempar, kata-kata lepas dari lidah, kesempatan emas terabaikan.<br />
Dan tentu saja waktu Ramadhan yang beranjak pergi tanpa menoleh.</p>
<p>Bicara soal relativitas, waktu Ramadhan memberikan pelajaran unik pada pintu kamar mandi.</p>
<p>Saat berada di dalam, lima menit terasa secepat kedipan mata.<br />
Tapi saat berdiri di luar menahan hajat, lima menit berasa bagai menunggu antrean panjang bawah terik matahari.</p>
<p>Baru-baru ini, saya menunggu antrean di depan pintu toilet.<br />
Pelan-pelan saya ketuk pintunya.</p>
<p>Muncul rasa was-was, jangan sampai pria berjanggut penuh tato yang keluar.<br />
Bisa bahaya jika dia tersinggung karena ketukan saya.</p>
<p>Sambil menunggu, perut sudah beraksi dengan bunyi kentut mirip dentum mercun tahun baru.<br />
Eh, ternyata yang keluar anak kecil usia kira-kira 3 tahun.<br />
Ketakutan saya ternyata salah alamat. Sontoloyo!</p>
<p>Begitulah sisa waktu Ramadhan kita hari ini.</p>
<p>Terasa singkat bagi mereka sibuk beribadah.<br />
Namun terasa abadi bagi mereka sekadar menunggu waktu berbuka tanpa amal saleh.</p>
<p>Teringat seorang kawan memajang jam dinding rusak di rumahnya.<br />
Katanya: “Biar saya selalu ingat… waktu boleh saja berhenti berdetak, tapi utang janji kepada Tuhan tetap harus dibayar lunas.”</p>
<p>Ini adalah tamparan bahwa cicilan amal di sisa waktu Ramadhan jauh lebih mendesak pembayarannya daripada tagihan bank.<br />
Saat cek dompet ternyata &#8220;kritis&#8221;, muncul pikiran getir.</p>
<p>Tidak sedikit orang begitu dermawan menghamburkan waktu untuk urusan dunia yang fana.<br />
Namun mendadak jadi kikir saat harus mengalokasikannya untuk urusan akhirat.</p>
<p>Pernah seorang ustaz ditanya: “Kenapa waktu Ramadhan terasa cepat sekali berlalu?”<br />
Jawabnya telak: “Karena yang kita kejar adalah pahala… bukan berburu diskon di pusat perbelanjaan Mall MP.”</p>
<p>Sindiran ini menampar batin yang sering lebih sibuk mengecek diskon baju daripada mengecek sisa umur.<br />
Padahal, penghujung waktu Ramadhan ibarat fasilitas first class muncul sekali setahun.</p>
<p>Kursi ini tidak bisa di-booking dengan uang, melainkan keringat amal saleh.<br />
Masalah waktu juga sering memicu drama komedi di meja sahur.</p>
<p>Alarm pagi berbunyi nyaring, lalu dengan cekatan saya matikan.<br />
Lima menit kemudian berteriak lagi, kembali saya bungkam.</p>
<p>Kesimpulannya sederhana: bukan alarmnya lemah.<br />
Tapi &#8220;mesin&#8221; iman menjemput berkah waktu Ramadhan sedang butuh servis besar.</p>
<p>Belum lagi penyakit era digital.<br />
Baru saja duduk membuka HP, tiba-tiba waktu dua jam hilang entah ke mana.</p>
<p>Kerap saya singgah di kafe-kafe, duduk ngopi sambil berniat merampungkan tulisan opini untuk esok harinya.<br />
Namun jujur, terkadang di sana saya lebih sering membuang waktu daripada menuju tujuan hakiki.</p>
<p>Waktu Ramadhan berjalan terus, saya pun ikut berjalan.<br />
Tapi terkadang langkah ini lebih banyak membuang waktu daripada mencapai target spiritual.</p>
<p>Padahal Waktu Ramadhan sebenarnya sangat adil.<br />
Semua orang dapat jatah 24 jam sama setiap hari.</p>
<p>Bedanya pada eksekusi: ada benar-benar memakai bekerja mengejar rida-Nya.<br />
Jangan biarkan amalan terabaikan hanya karena salah menghitung sisa waktu Ramadhan.</p>
<p>Tuhan sedang memberikan diskon ampunan besar-besaran bagi mereka pandai membagi waktu bersujud.<br />
Rugi besar jika hanya menjadi penonton saat rombongan hamba pilihan sukses mencapai finis tepat waktu.</p>
<p>Waktu Ramadhan laksana aliran air di sungai Jeneberang yang tak akan kembali ke hulu.<br />
Setiap detik terbuang adalah kerugian permanen tidak bisa ditutup kompensasi apa pun.</p>
<p>Mari manfaatkan sisa napas sebelum mencapai batas akhir waktu dunia.<br />
Sangat ironis jika kita begitu sibuk berburu tiket mudik untuk pulang ke kampung halaman.</p>
<p>Namun lupa mengecek kesiapan &#8220;tiket&#8221; untuk pulang ke kampung akhirat.</p>
<p>Jangan biarkan Ramadan lewat hanya sebagai angin lalu yang mendinginkan keringat.<br />
Sebab kita adalah pengembara di fase Final Approach.</p>
<p>Berjuanglah, agar perjalanan ini tidak berakhir dengan tangan hampa saat napas benar-benar habis.</p>
<p>𝗦𝗲𝗹𝗮𝘀𝗮, 𝟮𝟳 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗱𝗵𝗮𝗻 𝟭𝟰𝟰𝟳 𝗛/ 𝟭𝟳 𝗠𝗮𝗿𝗲𝘁 𝟮𝟬𝟮𝟲</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/03/17/%f0%9d%97%a5%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%94%f0%9d%97%97%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a1-%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%98-%f0%9d%9f%ae%f0%9d%9f%b3-%f0%9d%97%99%f0%9d%97%b6%f0%9d%97%bb%f0%9d%97%ae%f0%9d%97%b9/">𝗥𝗔𝗠𝗔𝗗𝗔𝗡 𝗞𝗘-𝟮𝟳: 𝗙𝗶𝗻𝗮𝗹 𝗔𝗽𝗽𝗿𝗼𝗮𝗰𝗵 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗚𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗙𝗶𝗻𝗶𝘀</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diplomasi Lidah: Mengejar Bahasa Surga </title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/03/16/diplomasi-lidah-mengejar-bahasa-surga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2026 13:48:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Suf Kasman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=50701</guid>

					<description><![CDATA[<p>𝗢𝗹𝗲𝗵: 𝗦𝘂𝗳 𝗞𝗮𝘀𝗺𝗮𝗻 𝘋𝘰𝘴𝘦𝘯 𝘍𝘢𝘬𝘶𝘭𝘵𝘢𝘴 𝘋𝘢𝘬𝘸𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘜𝘐𝘕 𝘈𝘭𝘢𝘶𝘥𝘥𝘪𝘯 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳 KEMBALI saya berdiri di mimbar Masjid Babussalam Pelabuhan Soekarno-Hatta siang ini. Wajah jamaah tampak teduh meski sedikit lelah di hari ke-26 Ramadan. Ini kali kedua saya menyampaikan tausiah di tempat ini selama bulan suci. Angin dari Pelabuhan Soekarno-Hatta berhembus pelan melalui celah pintu, membawa [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/03/16/diplomasi-lidah-mengejar-bahasa-surga/">Diplomasi Lidah: Mengejar Bahasa Surga </a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>𝗢𝗹𝗲𝗵: 𝗦𝘂𝗳 𝗞𝗮𝘀𝗺𝗮𝗻</p>
<p>𝘋𝘰𝘴𝘦𝘯 𝘍𝘢𝘬𝘶𝘭𝘵𝘢𝘴 𝘋𝘢𝘬𝘸𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘜𝘐𝘕 𝘈𝘭𝘢𝘶𝘥𝘥𝘪𝘯 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳</p>
<p>KEMBALI saya berdiri di mimbar Masjid Babussalam Pelabuhan Soekarno-Hatta siang ini. Wajah jamaah tampak teduh meski sedikit lelah di hari ke-26 Ramadan. Ini kali kedua saya menyampaikan tausiah di tempat ini selama bulan suci.</p>
<p>Angin dari Pelabuhan Soekarno-Hatta berhembus pelan melalui celah pintu, membawa aroma laut Makassar yang khas. Ramadan tinggal tiga atau empat hari lagi—waktu krusial bagi siapa saja yang sedang berburu keselamatan.</p>
<p>Dalam renungan itu saya kembali teringat pada satu tema pernah saya ulas sebelumnya: lidah.</p>
<p>Siang ini saya mencoba membedahnya lebih fokus. Kendati materi ini saya sampaikan dengan sedikit jenaka dan humor, sesungguhnya ada pesan penting di dalamnya: salah satu kunci keselamatan berada pada sepotong daging tak bertulang itu.</p>
<p>Lidah adalah instrumen diplomasi paling sakti untuk mengetuk pintu surga. Apalagi jika ia akrab melafalkan bahasa Arab—bahasa Al-Qur’an kelak menjadi percakapan penghuni surga.</p>
<p>Rasulullah ﷺ bersabda:<br />
“Cintailah orang Arab karena tiga hal: karena aku orang Arab, karena Al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa penghuni surga adalah bahasa Arab.” (HR. Thabrani)</p>
<p>Khalifah Umar bin Khattab lebih menegaskan, “Pelajarilah bahasa Arab, karena ia bagian dari agamamu.” Dengan bahasa inilah Al-Qur’an dan hadis dipahami lebih jernih.</p>
<p>Bahasa Arab tidak sesulit dibayangkan. Jika dipelajari pelan-pelan, justru terasa sederhana—bahkan kadang mengundang senyum.</p>
<p>Misalnya begini.</p>
<p>Satu rumah: baitun.<br />
Dua rumah: baitaini.</p>
<p>Kalau rumahnya banyak dan pusing menghitungnya… ya sudah, sebut saja BTN.</p>
<p>Contoh lain.</p>
<p>Satu jiwa: nafsun.<br />
Dua jiwa: nafsāni atau nafsayn.<br />
Banyak jiwa: anfus.</p>
<p>Kalau banyak koruptor mati… itu bukan anfus, melainkan mampus.</p>
<p>Begitu juga dengan kata ganti orang.</p>
<p>Satu laki-laki: anta.<br />
Satu perempuan: anti.<br />
Bencong Calabai: Anto’.</p>
<p>Namun di balik kelakar itu, kadang ada kisah lucu lahir dari setengah-setengah belajar bahasa Arab.</p>
<p>Seorang jamaah haji pernah mencoba mempraktikkan bahasa Arab saat dicukur rambutnya di sekitar pelataran Masjidil Haram, Mekkah.<br />
Ia hanya tahu satu kata: qalīl—artinya sedikit.</p>
<p>Ia berkata kepada tukang cukur,<br />
“Qalīl ya, Syeikh!”</p>
<p>Maksudnya: potong sedikit saja ya.</p>
<p>Masalahnya, tukang cukur itu tidak benar-benar memahami maksud kalimat tersebut. Ia hanya menangkap satu kata: qalīl—sedikit. Ia pun mengangguk mantap.</p>
<p>Hasilnya, rambut si jamaah hampir habis. Tersisa benar-benar… qalīl (mirip cukurnya temannya Unyil).</p>
<p>Di situlah ia sadar: belajar bahasa Arab memang penting. Tetapi memastikan tukang cukur juga paham… kadang lebih penting.</p>
<p>Namun sedikit-sedikit bahasa Arab kadang punya “kesaktian” tersendiri.</p>
<p>Seorang jamaah pernah tersesat di sekitar Masjidil Haram. Ia mendekati seorang Arab lalu melafalkan ayat:</p>
<p>“Ihdinas shirathal mustaqim…”<br />
Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.</p>
<p>Orang Arab itu mengira ia diminta menunjukkan jalan lurus. Ia pun menunjuk arah jalan. Jamaah tersebut akhirnya sampai tujuan.</p>
<p>Ada pula kisah komplain rice cooker rusak. Biasanya orang langsung marah kepada penjual. Namun ada cara lebih santun.</p>
<p>Ia membawa kembali rice cooker itu ke toko, meletakkannya di meja, lalu berkata dengan nada duka:</p>
<p>“Rice cooker ini innalillahi wa inna ilaihi raji‘un.”</p>
<p>Penjual langsung panik. Ia mengira ada musibah besar. Setelah diperiksa, ternyata “meninggal dunia” hanyalah elemen pemanas nasi.</p>
<p>Suasana marah berubah menjadi tawa. Barang diganti baru tanpa debat panjang.</p>
<p>Bahkan lebih dekat lagi, di negeri ini pun saya pernah mendengar kisah lucu di SPBU. Seorang wisatawan Arab yang menyewa mobil datang untuk mengisi bensin, lalu bertanya kepada petugas dengan bahasa Arab. Kebetulan saat itu bensin sedang habis.</p>
<p>Petugas menjawab singkat,<br />
“Habis, Tuan.”</p>
<p>Di telinga orang Arab itu, ucapan tersebut terdengar seperti lafaz Arab:<br />
“Abisun Tuanun.”</p>
<p>Ia mengangguk serius, seolah baru menemukan istilah nahwu edisi Nusantara.</p>
<p>Tak lama kemudian orang Arab itu kembali meminta bensin. Namun petugas SPBU tetap menjawab,<br />
“Habis, Tuan.”</p>
<p>Orang Arab itu pun semakin bingung.</p>
<p>Untungnya petugas SPBU tiba-tiba teringat kebiasaannya setelah selesai mengaji. Dengan nada khidmat ia menutup percakapan itu dengan ucapan:</p>
<p>“Shadaqallahul ‘azhim.”</p>
<p>Seakan-akan baru selesai membaca satu halaman mushaf.</p>
<p>Namun tujuan belajar bahasa Arab tentu bukan sekadar humor. Bahasa ini adalah jalan memahami kandungan Al-Qur’an dan hadis secara lebih utuh.</p>
<p>Di sisa Ramadan ini, mari memberi ruang bagi lidah untuk lebih akrab dengan bahasa wahyu—untuk zikir, doa, dan menjaga kehormatan sesama.</p>
<p>Semoga lidah kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga semakin fasih melafalkan kalimat-kalimat tayyibah.</p>
<p>Siapa tahu, dari kebiasaan kecil itu, lidah kita sedang belajar mengetuk pintu surga—dengan bahasa kelak menjadi bahasa para penghuninya.</p>
<p>𝗦𝗲𝗻𝗶𝗻, 𝟮𝟲 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗱𝗵𝗮𝗻 𝟭𝟰𝟰𝟳 𝗛/ 𝟭𝟲 𝗠𝗮𝗿𝗲𝘁 𝟮𝟬𝟮𝟲.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/03/16/diplomasi-lidah-mengejar-bahasa-surga/">Diplomasi Lidah: Mengejar Bahasa Surga </a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>𝗠𝗜𝗠𝗕𝗔𝗥 𝗔𝗟-𝗠𝗔𝗥𝗞𝗔𝗭 𝗔𝗟-𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠𝗜: 𝗨𝗸𝗵𝘂𝘄𝗮𝗵 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺𝗶𝘆𝗮𝗵</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/03/15/%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%95%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a5-%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9f-%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a5%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%94%f0%9d%97%ad-%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9f/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2026 07:13:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Suf Kasman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=50664</guid>

					<description><![CDATA[<p>𝗢𝗹𝗲𝗵: 𝗦𝘂𝗳 𝗞𝗮𝘀𝗺𝗮𝗻 𝘋𝘰𝘴𝘦𝘯 𝘍𝘢𝘬𝘶𝘭𝘵𝘢𝘴 𝘋𝘢𝘬𝘸𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘜𝘐𝘕 𝘈𝘭𝘢𝘶𝘥𝘥𝘪𝘯 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳 BERDIRI di mimbar Masjid Al-Markaz Al-Islami pada Subuh ke-25 Ramadan ini, batin terasa kerdil di hadapan masjid termegah di kawasan timur Indonesia. Panitia mendaulat saya menyampaikan tausiah tentang “Ukhuwah Islamiyah”—tema terdengar sangat surgawi di telinga, tetapi sering membuat napas tersengal saat harus membumikannya dalam [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/03/15/%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%95%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a5-%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9f-%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a5%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%94%f0%9d%97%ad-%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9f/">𝗠𝗜𝗠𝗕𝗔𝗥 𝗔𝗟-𝗠𝗔𝗥𝗞𝗔𝗭 𝗔𝗟-𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠𝗜: 𝗨𝗸𝗵𝘂𝘄𝗮𝗵 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺𝗶𝘆𝗮𝗵</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>𝗢𝗹𝗲𝗵: 𝗦𝘂𝗳 𝗞𝗮𝘀𝗺𝗮𝗻</p>
<p>𝘋𝘰𝘴𝘦𝘯 𝘍𝘢𝘬𝘶𝘭𝘵𝘢𝘴 𝘋𝘢𝘬𝘸𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘜𝘐𝘕 𝘈𝘭𝘢𝘶𝘥𝘥𝘪𝘯 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳</p>
<p>BERDIRI di mimbar Masjid Al-Markaz Al-Islami pada Subuh ke-25 Ramadan ini, batin terasa kerdil di hadapan masjid termegah di kawasan timur Indonesia.</p>
<p>Panitia mendaulat saya menyampaikan tausiah tentang “Ukhuwah Islamiyah”—tema terdengar sangat surgawi di telinga, tetapi sering membuat napas tersengal saat harus membumikannya dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Ukhuwah adalah seni mencintai karena iman. Ia janji berjalan seiring dan saling menanggung beban dalam keadaan apa pun.</p>
<p>Dari podium ini, pesan sederhana: jangan hapus persaudaraan hanya karena satu kesalahan kecil. Sebaliknya, hapuslah satu kesalahan demi utuhnya persaudaraan.</p>
<p>Hakikat persaudaraan adalah memberi. Namun ego sering membuat manusia bingung—siapa harus memulai.</p>
<p>Mari menengok sejarah emas.</p>
<p>Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar bukan karena fanatisme suku atau kepentingan politik. Mereka diikat tali iman (Ukhuwah Islamiyah)—tak terlihat, tetapi lebih kuat dari baja maraging.</p>
<p>Bayangkan hangatnya sambutan penduduk Madinah saat kaum Muhajirin tiba di kota itu. Jika diterjemahkan ke dialek lokal, kira-kira begini:</p>
<p>“Selamat datang saudaraku, Deceng Enre’ki Ri Bola Tejjali’, Tettappere Banna Mase-Mase.”</p>
<p>Silakan naik ke rumah kami; mungkin tanpa permadani mewah, tetapi penuh kasih tulus.</p>
<p>Lalu terjadi “kompetisi sedekah” paling ekstrem sepanjang sejarah. Kaum Anshar berlomba menawarkan tempat tinggal bagi saudara baru.</p>
<p>Seseorang berseru lantang, “Siapa mau tinggal di rumahku? Saya punya dua kebun kurma, ambil satu!”</p>
<p>Belum selesai kalimat itu, orang lain menimpali, “Tinggal di rumahku saja! Saya punya dua ekor unta, ambil satu!”</p>
<p>Ada pula tawaran paling heroik sekaligus mengejutkan: rela menceraikan salah seorang istrinya agar dapat dinikahi saudaranya datang tanpa membawa apa-apa.</p>
<p>Tawaran menginap bukan sekadar tempat tidur, tetapi berbagi seluruh aset hidup.</p>
<p>Jujur, pikiran nakal sempat melintas: andai hidup di zaman itu, mungkin opsi terakhir paling menggiurkan inilah yang saya pilih.</p>
<p>Namun sayang, takdir menempatkan kita di Ramadan zaman sekarang—zaman ketika sekadar meminta izin parkir di depan pagar rumah orang, meski hanya sebentar, kadang dibalas wajah kecut penuh kecurigaan.</p>
<p>Al-Qur’an merekam kedermawanan luar biasa kaum Anshar dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:</p>
<p>“…mereka mengutamakan orang lain meskipun diri sendiri sedang membutuhkan…”</p>
<p>Ada pula kisah Ibnu Umar tentang hadiah sop kepala kambing.</p>
<p>Saat Ibnu Umar pulang ke rumah dalam keadaan perut keroncongan, aroma gurih sop kepala kambing langsung menyergap hidung. Ketika hendak menyantapnya, tiba-tiba terlintas wajah tetangganya.</p>
<p>“Si fulan lebih butuh,” kata beliau.</p>
<p>Sop kepala kambing itu pun dikirim ke rumah tetangga—meski cacing dalam perut sedang berdisko bertempo cepat karena lapar.</p>
<p>Tetangga itu merasa masih ada orang lain lebih layak menikmatinya. Hadiah itu dikirim ke rumah A. Tetangga A merasa tetangga B lebih pantas menikmati, maka dikirim ke B. Jiran B menerima dengan syukur, tetapi hati nurani berbisik jiran C baru saja dilanda kesulitan, maka sop berpindah tangan ke C.</p>
<p>Tak berhenti di situ, tetangga C merasa keluarga D memiliki anak kecil lebih membutuhkan nutrisi, sehingga mangkuk itu diantar ke pintu rumah D. Sop terus berputar, melintasi ambang pintu satu ke pintu lain hingga tujuh rumah.</p>
<p>Tebak akhirnya?</p>
<p>Sop itu kembali ke meja makan pertama—rumah Ibnu Umar.</p>
<p>Itulah ukhuwah Islamiyah: bergerak melingkar, membawa berkah kembali kepada pengirim awal.</p>
<p>Kalau sop kepala kambing itu mampir ke meja makanku, tanpa banyak pikir langsung ku-smackdown. Yang tersisa tinggal tulangnya—untuk kucing tetangga.</p>
<p>Coba lihat suasana buka puasa bersama di sekitar kita.</p>
<p>Usai Magrib, sebagian orang menyerbu meja prasmanan seperti pasukan baru turun dari medan perang tujuh hari tanpa makan. Piring tampak super bocco (penuh): nasi, rendang, sate, ayam kecap, udang, capcay, sandwich—semua menumpuk seperti proyek pembangunan raksasa di atas piring.</p>
<p>Pernah terlihat seseorang mengincar potongan besar dalam panci kari ayam. Aromanya menggoda selera iman.</p>
<p>Ia mengambil potongan terbesar tenggelam dalam kuah kental, yakin itu paha paling empuk.</p>
<p>Begitu digigit penuh harap—ternyata lengkuas raksasa. Hemk, melo’ mopo. Cedde’ Congkiri’ Isi Palsunna!</p>
<p>Di situlah iman Ramadan benar-benar diuji.</p>
<p>Ingin marah, tapi sedang di rumah orang yang mengundang buka puasa.<br />
Ingin dibuang, malu dilihat tamu lain.</p>
<p>Sambil mengunyah serat pahit itu, ia membatin kesal:</p>
<p>“Ini juga tukang masak, kenapa lengkuas sebesar kepalan tangan dimasukkan ke panci kari? Sontoloyo!”</p>
<p>Ajaibnya, orang malang itu kembali antre untuk kedua kalinya—semangat seperti pejuang ’45. Kali ini targetnya jelas: menukar lengkuas tadi dengan ayam sungguhan.</p>
<p>Beginilah jika nafsu mendahului nalar. Salah sasaran—lengkuas disangka paha kari, bahkan sempat dibayangkan sebagai paha ayam kalkun.</p>
<p>Namun dari meja prasmanan itu sering dipetik pelajaran: selera boleh berbeda, selera makan boleh berisik, tetapi persaudaraan harus tetap rukun.</p>
<p>Ukhuwah Islamiyah ibarat bunga dengan warna berbeda dalam satu taman luas.</p>
<p>Ada merah, kuning, ungu—semua berbeda, tetapi tetap tumbuh dalam tanah sama.</p>
<p>Begitu pula manusia. Watak berbeda, selera berbeda, bahkan humor pun kadang berbeda.</p>
<p>Ramadan waktu terbaik merawat taman itu: membuang hasad, dendam, dan takabur yang dapat merusak akar persaudaraan.</p>
<p>Ada guyonan lama: selama presiden laki-laki, lambang negara tetap “Burung Garuda”.</p>
<p>Kalau presidennya perempuan, mungkin berubah menjadi “Kacang Garuda”.</p>
<p>Kalau presidennya bencong—calabai kotek? Jangan kaget bila lambangnya bukan kacang garuda, bukan pula burung garuda—tapi loyo burungna!</p>
<p>Intinya, di tanah air ini kita bersaudara. Namun ukhuwah Islamiyah memiliki lem jauh lebih kuat karena diikat kalimat syahadat yang sama.</p>
<p>Ikatan itu tidak selalu tampak dalam hal besar. Kadang hadir dalam sikap paling sederhana.</p>
<p>Sebagai muslim, ada modal “5S”: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun.</p>
<p>Jangan pelit mengobral salam. Setiap jabat tangan tulus dapat menggugurkan dosa di sela-sela jari. Itulah praktik kecil ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Subuh ini, dari mimbar Masjid Al-Markaz Al-Islami, diingatkan kembali bahwa persaudaraan tidak lahir dari kesamaan wajah atau suku, tetapi dari iman yang sama.</p>
<p>Semoga saat melangkah turun dari tangga masjid megah kebanggaan masyarakat Makassar ini, kita pulang membawa sesuatu lebih berharga: semangat baru mencintai saudara seiman.</p>
<p>Sebab ukhuwah bukan sekadar kumpul makan bersama atau duduk satu saf dalam shalat. Ia jembatan paling kokoh menuju rida Allah—dan syafaat yang diharapkan pada hari akhir kelak.</p>
<p>𝗔𝗵𝗮𝗱, 𝟮𝟱 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗱𝗵𝗮𝗻 𝟭𝟰𝟰𝟳 𝗛/ 𝟭𝟱 𝗠𝗮𝗿𝗲𝘁 𝟮𝟬𝟮𝟲</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/03/15/%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%95%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a5-%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9f-%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%94%f0%9d%97%a5%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%94%f0%9d%97%ad-%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9f/">𝗠𝗜𝗠𝗕𝗔𝗥 𝗔𝗟-𝗠𝗔𝗥𝗞𝗔𝗭 𝗔𝗟-𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠𝗜: 𝗨𝗸𝗵𝘂𝘄𝗮𝗵 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺𝗶𝘆𝗮𝗵</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ibu Tiri, Algojo di Bursa Ramadan</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/02/24/ibu-tiri-algojo-di-bursa-ramadan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2026 22:05:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Algojo]]></category>
		<category><![CDATA[Bursa Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Tiri]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Suf Kasman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=49777</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Suf Kasman Ramadan memasuki hari kelima. Jutaan jiwa berlomba menanam amal di bursa langit. Pada saat sama, seorang ibu tiri justru membuka lapak dosa paling kelam. Aku menelusuri serpihan tayangan media sosial. Potongan fakta kukumpulkan tanpa perlu berangkat ke Sukabumi. Tanah Jawa Barat terasa basah oleh darah malaikat kecil bernama Nisa—korban kebengisan ibu tiri. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/02/24/ibu-tiri-algojo-di-bursa-ramadan/">Ibu Tiri, Algojo di Bursa Ramadan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Suf Kasman</strong></p>
<p>Ramadan memasuki hari kelima. Jutaan jiwa berlomba menanam amal di bursa langit. Pada saat sama, seorang ibu tiri justru membuka lapak dosa paling kelam.</p>
<p>Aku menelusuri serpihan tayangan media sosial. Potongan fakta kukumpulkan tanpa perlu berangkat ke Sukabumi. Tanah Jawa Barat terasa basah oleh darah malaikat kecil bernama Nisa—korban kebengisan ibu tiri.</p>
<p>Nafas bocah itu terhenti di tangan perempuan bergelar ibu tiri. Gelar pelindung berubah menjadi topeng kebiadaban. Ibu tiri, seharusnya menghadirkan hangat pelukan, justru menghadirkan dingin kuburan.</p>
<p>Jika Cinderella hidup dalam dongeng penindasan oleh ibu tiri, Nisa menghadapi rajapati dari ibu tiri nyata. Tragedi ini menjadi arang pekat di hamparan suci bulan mulia.</p>
<p>Di layar gawai, raga mungil tampak melepuh tersiram air panas—derita akibat tangan ibu tiri. Luka-luka itu seperti isyarat: bara neraka seakan turun ke bumi melalui amarah ibu tiri tanpa nurani. Aku terdiam. Amarah bercampur duka menyelubungi batin.</p>
<p>Puasa bagi ibu tiri tersebut tampak sekadar lakon menahan lapar dan dahaga. Tanpa ruh pengendalian diri. Tanpa kesadaran membersihkan kerak dosa dalam dada. Ibadah berubah menjadi kosmetik spiritual di wajah ibu tiri berhati beku.</p>
<p>Masjid penuh oleh pemburu rida Ilahi. Di sudut lain, ibu tiri berhati serigala memutus napas anak tak berdaya. Ironi keberagamaan terasa getir. Ritual megah berdiri berdampingan dengan tindakan ibu tiri melampaui batas kemanusiaan.</p>
<p>Ramadan hadir sebagai madrasah empati. Bulan suci semestinya melembutkan hati ibu tiri, menumbuhkan kasih, menumbuhkan sabar. Namun pada kasus ini, ibu tiri justru menajamkan amarah. Aku memandang tragedi ibu tiri ini sebagai cermin retak peradaban keluarga.</p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an, Surah An-Nisa ayat 93, ancaman tertera tegas: pembunuhan sengaja berbalas Jahanam; murka, laknat, serta azab besar menanti pelaku. Peringatan itu berlaku bagi siapa pun, termasuk ibu tiri kehilangan nurani.</p>
<p>Alarm sahur semestinya mengingatkan kefanaan. Bukan sekadar tanda mengisi perut kosong bagi ibu tiri atau siapa saja. Aku melihat kegagalan memahami makna menahan diri: amarah ibu tiri dibiarkan liar, empati terkubur dalam kesombongan kuasa atas anak lemah.</p>
<p>Masyarakat fasih berbicara takwa. Namun rintihan dari balik tembok sering luput dari perhatian. Bisa jadi jerit korban ibu tiri terdengar berhari-hari. Bisa jadi pula diabaikan demi rasa sungkan.</p>
<p>Aku tidak ingin berhenti pada kecaman terhadap ibu tiri. Audit psikologis keluarga perlu menjadi kesadaran kolektif. Pernikahan menuntut kesiapan mental, kedewasaan emosi, kemampuan mengasuh jiwa baru—terutama bagi calon ibu tiri. Status hukum tanpa kematangan batin hanya melahirkan ibu tiri rapuh, mudah meledak, mudah menyakiti.</p>
<p>Tetangga pun perlu keberanian moral. Saat terdengar tangis tak wajar akibat ulah ibu tiri, langkah cepat lebih mulia daripada diam berkepanjangan. Nyawa manusia terlalu mahal untuk ditukar rasa sungkan.</p>
<p>Aku menuntut penegakan hukum paling tegas bagi ibu tiri sang algojo. Keadilan wajib berdiri kokoh di atas pusara Nisa. Tragedi ibu tiri ini harus menjadi peringatan keras: siapa pun bermain dengan titipan Ilahi akan berhadapan dengan hukum dunia serta hisab akhirat.</p>
<p>Senin, 05 Ramadan 1447 H / 23 Februari 2026.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/02/24/ibu-tiri-algojo-di-bursa-ramadan/">Ibu Tiri, Algojo di Bursa Ramadan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RENUNGAN DAKWAH: Di Antara Hujan Makassar–Pinrang</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/02/21/renungan-dakwah-di-antara-hujan-makassar-pinrang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2026 06:53:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Suf Kasman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=49666</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: 𝐒𝐮𝐟 𝐊𝐚𝐬𝐦𝐚𝐧 Aku meninggalkan Makassar menuju Pinrang untuk menyampaikan tausiyah Ramadhan. Bulan puasa bernapas di dada umat—membawa harap sekaligus ujian. Niat terpasang. Materi tersusun rapi. Waktu terjadwal disiplin. Namun di tengah perjalanan, langit mendadak pecah tanpa aba-aba. Hujan turun seperti tumpahan dari langit retak. Deras. Tegas. Tanpa jeda. Jalan berubah menjadi cermin hitam—licin dan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/02/21/renungan-dakwah-di-antara-hujan-makassar-pinrang/">RENUNGAN DAKWAH: Di Antara Hujan Makassar–Pinrang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: 𝐒𝐮𝐟 𝐊𝐚𝐬𝐦𝐚𝐧</p>
<p>Aku meninggalkan Makassar menuju Pinrang untuk menyampaikan tausiyah Ramadhan.</p>
<p>Bulan puasa bernapas di dada umat—membawa harap sekaligus ujian.</p>
<p>Niat terpasang. Materi tersusun rapi. Waktu terjadwal disiplin. Namun di tengah perjalanan, langit mendadak pecah tanpa aba-aba.</p>
<p>Hujan turun seperti tumpahan dari langit retak. Deras. Tegas. Tanpa jeda.</p>
<p>Jalan berubah menjadi cermin hitam—licin dan berbahaya. Setiap kilometer terasa seperti ujian tak boleh diremehkan—seperti puasa: menahan lapar, menahan diri, menahan ego, bahkan menahan amarah tersembunyi.</p>
<p>Wiper kaca bergerak cepat, menyapu air penutup pandangan. Ia bekerja tanpa keluhan. Tanpa pengakuan. Berhenti sedetik saja, kaca menjadi buram, arah pun samar, dan bahaya mengintai di depan. “Mesa’ Ki’ Malleppo!”</p>
<p>Di situlah renungan dakwah datang.</p>
<p>Bukankah Ramadhan demikian?</p>
<p>Ia menyapu karat hati lama mengendap, meredam gejolak kerap tak terkendali, menjernihkan pandangan batin mulai rabun oleh ambisi dunia.</p>
<p>Gagal menjaga latihan ini, kejernihan berubah keruh. Kelurusan tampak bengkok. Cahaya semula terang perlahan meredup.</p>
<p>Aspal licin dari Pangkep ke Parepare memaksaku menurunkan kecepatan. Tak ada ruang untuk gegabah.</p>
<p>Lubang jalan bersembunyi di balik genangan. Dari jauh tampak rata, padahal menyimpan kejutan.</p>
<p>Tiba-tiba ban depan menghantam lubang tak terlihat. Mobil terguncang keras. Jantung terhentak. Sedikit saja salah kendali: ban pecah, velg bengkok, kemudi rusak—perjalanan bisa tamat sebelum tujuan tercapai.</p>
<p>Begitu pula kelalaian di bulan suci Ramadhan. Ia jarang datang sebagai dosa besar. Ia menyamar sebagai hal kecil dianggap biasa. Sekali menghantam, pahala dirajut susah payah dapat retak seketika.</p>
<p>Perjalanan ke Bumi Lasinrang ini menampar kesadaranku: dakwah bukan sekadar tiba lalu berbicara. Ia menjaga kendali saat badai datang. Ia merendahkan ego ketika alam menunjukkan siapa Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Hujan tak pernah salah alamat. Ia turun sesuai ketetapan-Nya (QS. Ar-Ra’d: 17).</p>
<p>Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah pengendalian diri—tempat jiwa ditempa agar lebih jernih dan takwa diteguhkan.</p>
<p>Aku melaju lebih pelan. Lebih sadar. Lebih berkonsentrasi.</p>
<p>Satu kelengahan kecil di jalan raya bisa berakhir fatal. Satu keteledoran mikro dalam puasa Ramadhan dapat mengosongkan ruh ibadah tanpa terasa.</p>
<p>Di antara derasnya hujan Makassar–Pinrang, aku belajar: dunia hanyalah lintasan licin menuntut kewaspadaan.</p>
<p>Wiper menjelma nurani. Rem menegaskan takwa. Setir mengarahkan akal. Ramadhan menjadi bengkel ruh—memperbaiki semuanya sebelum perjalanan panjang menuju-Nya usai.</p>
<p>Sebelum memberi tausiyah kepada orang lain, perjalanan ini lebih dahulu menjadi tausiyah bagi diriku sendiri.</p>
<p>Sebab bahaya terbesar bukan hujan deras di luar kendaraan—<br />
melainkan kabut perlahan menutup hati, tanpa kita sadari.</p>
<p>*Sabtu, 03 Ramadhan 1447 H / 21 Februari 2026*<br />
*SK*</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/02/21/renungan-dakwah-di-antara-hujan-makassar-pinrang/">RENUNGAN DAKWAH: Di Antara Hujan Makassar–Pinrang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>𝐆𝐄𝐑𝐁𝐀𝐍𝐆 𝟐𝟎𝟐𝟔: 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐬𝐚𝐛𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐁𝐚𝐝𝐚𝐢 𝐍𝐞𝐠𝐞𝐫𝐢</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2025/12/28/%f0%9d%90%86%f0%9d%90%84%f0%9d%90%91%f0%9d%90%81%f0%9d%90%80%f0%9d%90%8d%f0%9d%90%86-%f0%9d%9f%90%f0%9d%9f%8e%f0%9d%9f%90%f0%9d%9f%94-%f0%9d%90%8c%f0%9d%90%ae%f0%9d%90%a1%f0%9d%90%9a%f0%9d%90%ac/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2025 00:48:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah di Negeri Badai]]></category>
		<category><![CDATA[Suf Kasman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=47597</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: 𝐒𝐮𝐟 𝐊𝐚𝐬𝐦𝐚𝐧 TAK TERASA, sisa tiga hari lagi tiba di gerbang tahun 2026—bukan sekadar pergantian angka, melainkan ujian iman nyata 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶 kian keras. Di sinilah keegoan ditimbang, dan nurani dipanggil menentukan arah. Seharusnya, di detik-detik peralihan tahun ini, ada perayaan persatuan ridha Tuhan Semesta Alam: harapan memancar laksana mentari pagi, senyum [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/12/28/%f0%9d%90%86%f0%9d%90%84%f0%9d%90%91%f0%9d%90%81%f0%9d%90%80%f0%9d%90%8d%f0%9d%90%86-%f0%9d%9f%90%f0%9d%9f%8e%f0%9d%9f%90%f0%9d%9f%94-%f0%9d%90%8c%f0%9d%90%ae%f0%9d%90%a1%f0%9d%90%9a%f0%9d%90%ac/">𝐆𝐄𝐑𝐁𝐀𝐍𝐆 𝟐𝟎𝟐𝟔: 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐬𝐚𝐛𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐁𝐚𝐝𝐚𝐢 𝐍𝐞𝐠𝐞𝐫𝐢</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: 𝐒𝐮𝐟 𝐊𝐚𝐬𝐦𝐚𝐧</p>
<p>TAK TERASA, sisa tiga hari lagi tiba di gerbang tahun 2026—bukan sekadar pergantian angka, melainkan ujian iman nyata 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶 kian keras.</p>
<p>Di sinilah keegoan ditimbang, dan nurani dipanggil menentukan arah.</p>
<p>Seharusnya, di detik-detik peralihan tahun ini, ada perayaan persatuan ridha Tuhan Semesta Alam: harapan memancar laksana mentari pagi, senyum lahir dari hati bersih, serta langkah bergerak dalam irama syukur.</p>
<p>Namun, kenyataan berbicara sebaliknya.</p>
<p>Bara kebencian sesama anak negeri masih menyala, saling serang-menyerang terus bergaung, 𝘚𝘪𝘱𝘱𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘳𝘪’, 𝘚𝘪𝘣𝘣𝘰𝘯𝘺𝘯𝘺𝘢𝘬!</p>
<p>Mereka bertengkar mirip 𝘈𝘴𝘶 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘦𝘯𝘨 𝘕𝘢 𝘊𝘰𝘬𝘪 𝘉𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨—sedikit-sedikit mau baku hantam, lupa bahwa di butala negeri ini bukan panggung pertarungan, melainkan ruang untuk saling meneduhkan dan menenteramkan.</p>
<p>Api itu pun semakin menyebar ke ruang sosial, merusak percakapan publik, mengeruhkan hubungan antarwarga, dan menipiskan rasa percaya selama ini menjadi penyangga kebersamaan saat bertahan 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶.</p>
<p>Anehnya, hampir semua orang mendadak jadi komentator kesiangan—bahkan penjual pisang di pasar mengulas &#8216;kondisi bangsa&#8217;. Meski lidahnya terpeleset; niat hati menyebut istilah &#8216;termul-termul&#8217;, yang meluncur justru &#8216;termos-termos&#8217;.</p>
<p>Dari kegaduhan semacam inilah retakan menjadi nyata. Ia menjalar ke generasi sedang tumbuh—kebencian di antara &#8216;tunas bangsa&#8217; bukan lagi sekadar isu, melainkan pemandangan harian konkret 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶.</p>
<p>Jalan menuju perpecahan semakin terbuka lebar ketika sebagian pihak masih betah memeluk kubu dan kepentingannya sendiri.</p>
<p>Banyak bisikan ketus terdengar, 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘨𝘢𝘥𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘶𝘻𝘻𝘦𝘳 𝘳𝘢𝘩𝘪𝘮𝘢𝘬𝘶𝘮𝘶𝘴𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯.<br />
Jika tak sanggup menertibkan pasukan 𝘣𝘶𝘻𝘻𝘦𝘳 dan 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘶𝘭 𝘙𝘦𝘱𝘶𝘣𝘭𝘪𝘬 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢 pembuat bising itu, silakan minggir—beri kuasa kami selesaikan secara adat.</p>
<p>Kecuali, jika mereka menghadang dengan preman brewok bertato sangar usai cabut gigi, 𝘞𝘰𝘪 𝘓𝘰𝘣𝘶𝘤𝘤𝘶𝘪 𝘓𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘢𝘬𝘬𝘢𝘤𝘰𝘣𝘣𝘶…!</p>
<p>Di titik ini, persatuan &#8216;Padamu Negeri&#8217; koyak—bukan oleh lawan, melainkan oleh tangan-tangan sendiri menyulut api di lumbung rumahnya.</p>
<p>Saat kewarasan dikorbankan demi ambisi 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶, kekecewaan menjelma duri menghujam jantung Ibu Pertiwi.<br />
Gotong royong dulu diagungkan, kini layu tergilas sinisme dan tatapan penuh curiga.</p>
<p>Negeri ini bagai panggung tanpa sutradara; arena gaduh kehilangan kendali.</p>
<p>Di rimba digital, debat kusir ramai suara namun hampa makna.<br />
Kebenaran kian terpojok, sementara sang 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘥 kepalsuan bermanuver melepaskan jerat, disokong kuasa modal dan jejaring pengaruh di sekelilingnya.</p>
<p>Begitu lancang hukum dipermainkan, ditarik ke sana kemari demi memuaskan syahwat kekuasaan. Mereka bersuara kritis dibungkam dan dijebloskan ke jeruji besi, sementara sang penjilat justru diberi panggung terhormat.</p>
<p>Luka-luka sosial ini bukan sekadar kabar burung; ia nyata, mengendap menjadi nanah ketidakpercayaan melelahkan 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶.</p>
<p>Saudaraku sebangsa dan setanah air!</p>
<p>Sudahilah fragmen negatif ini.</p>
<p>Musuh nyata: kezaliman, politik adu domba, kerakusan oligarki, hingga serbuan Tenaga Kerja Asing China merampok hasil bumi Indonesia—semua itu perlahan mengikis kepercayaan publik 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗻𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶.</p>
<p>𝘈𝘭𝘢 𝘬𝘶𝘭𝘭𝘪 𝘩𝘢𝘭,</p>
<p>Saat fajar 2026 menyingsing, marilah bermuhasabah—membersihkan hati dan kembali menjahit persatuan nyaris koyak, demi negeri lebih waras dan beradab.</p>
<p>𝟐𝟖 𝐃𝐞𝐬𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟓</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/12/28/%f0%9d%90%86%f0%9d%90%84%f0%9d%90%91%f0%9d%90%81%f0%9d%90%80%f0%9d%90%8d%f0%9d%90%86-%f0%9d%9f%90%f0%9d%9f%8e%f0%9d%9f%90%f0%9d%9f%94-%f0%9d%90%8c%f0%9d%90%ae%f0%9d%90%a1%f0%9d%90%9a%f0%9d%90%ac/">𝐆𝐄𝐑𝐁𝐀𝐍𝐆 𝟐𝟎𝟐𝟔: 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐬𝐚𝐛𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐁𝐚𝐝𝐚𝐢 𝐍𝐞𝐠𝐞𝐫𝐢</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>𝕃𝕖𝕟𝕤𝕒 𝕁𝕦𝕣𝕟𝕒𝕝𝕚𝕤𝕥𝕚𝕜 𝕀𝕤𝕝𝕒𝕞𝕚: Santri: Indahnya Dunia Pesantren</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2025/10/22/%f0%9d%95%83%f0%9d%95%96%f0%9d%95%9f%f0%9d%95%a4%f0%9d%95%92-%f0%9d%95%81%f0%9d%95%a6%f0%9d%95%a3%f0%9d%95%9f%f0%9d%95%92%f0%9d%95%9d%f0%9d%95%9a%f0%9d%95%a4%f0%9d%95%a5%f0%9d%95%9a%f0%9d%95%9c-26/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2025 01:59:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hari santri]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=44743</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: 𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣 HARI 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 NASIONAL diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Hari ini ditetapkan untuk mengenang kontribusi besar para 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Memang penting mengenang Hari 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 Nasional, tentu bertujuan meneladani nilai-nilai 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 seperti keikhlasan, pengabdian, dan nasionalisme, untuk terus diaktualisasikan dalam membangun bangsa. Saya teringat ketika masih jadi 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 di [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/10/22/%f0%9d%95%83%f0%9d%95%96%f0%9d%95%9f%f0%9d%95%a4%f0%9d%95%92-%f0%9d%95%81%f0%9d%95%a6%f0%9d%95%a3%f0%9d%95%9f%f0%9d%95%92%f0%9d%95%9d%f0%9d%95%9a%f0%9d%95%a4%f0%9d%95%a5%f0%9d%95%9a%f0%9d%95%9c-26/">𝕃𝕖𝕟𝕤𝕒 𝕁𝕦𝕣𝕟𝕒𝕝𝕚𝕤𝕥𝕚𝕜 𝕀𝕤𝕝𝕒𝕞𝕚: Santri: Indahnya Dunia Pesantren</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: 𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣</p>
<p>HARI 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 NASIONAL diperingati setiap tanggal 22 Oktober.<br />
Hari ini ditetapkan untuk mengenang kontribusi besar para 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Memang penting mengenang Hari 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 Nasional, tentu bertujuan meneladani nilai-nilai 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 seperti keikhlasan, pengabdian, dan nasionalisme, untuk terus diaktualisasikan dalam membangun bangsa.</p>
<p>Saya teringat ketika masih jadi 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 di Pondok Pesantren DDI Kaballangan Pinrang era 1980an.</p>
<p>Kami diajar Anregurutta K.H. Abdurrahman Ambo’ Dalle’. Salah seorang ulama kharismatik dan tokoh pendidikan Islam di Sul-Sel.<br />
Kami pun dididik para Mu’allim terbaik jebolan Timur-Tengah di Pesantren DDI tsb.</p>
<p>Masya Allah, berkesan sekali menjadi 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 di Pondok Pesantren DDI Kaballangan waktu itu.</p>
<p>Selaku 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶, kami menjalani pendidikan agama secara intensif dan terintegrasi di setiap aspek kehidupan sehari-hari, bukan hanya di dalam kelas.</p>
<p>Rutinitas ini mencakup kegiatan belajar yang terstruktur mulai dari ibadah, pengajian kitab, shalat berjamaah di masjid Al-Washilah, muhadharah (latihan ceramah), hingga belajar Ilmu Nahwu Sharaf (Kitab Kuning).</p>
<p>Belajar di Pondok Pesantren DDI Kaballangan sungguh asyik, karena menawarkan pendalaman ilmu agama secara komprehensif, suasana Islami yang kondusif, dan kesempatan untuk membentuk kesalehan individual.</p>
<p>Selain itu, ada beragam kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, seni, drumband, rekreasi di Lapésandorang yang membuat 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 belajar tidak membosankan.</p>
<p>Banyak masyarakat menjustice Pesantren adalah pabrik “Orang Shaleh berakhlak mulia”.<br />
Mereka melihat anak 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 membiasakan ibadah dan jauh dari pergaulan negatif, sehingga<br />
tidak sedikit orang tua menitip anaknya untuk menjadi 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 di Pondok Pesantren. Cau’i Mampi’i Ana’na, Malinrang Tédong Bonga.<br />
**</p>
<p>Di sela-sela menjadi 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 di Pondok Pesantren DDI Kaballangan waktu itu, kami aktif juga menghadiri &#8220;ANCABA&#8221;.</p>
<p>Apa itu ANCABA?<br />
Anak 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 Candu Baca Doang.</p>
<p>Bila ada salah seorang masyarakat yang meninggal dunia, kami punya group &#8220;ANCABA&#8221; pergi mengkhatamkan Al-Quran di rumah duka.</p>
<p>Apa untungnya ikut ANCABA usai shalat Isyah?</p>
<p>Anak 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 Candu Baca Doang yang turut menyertai itu, usai menghibahkan bacaan Al-Quran 30 juz di rumah duka, mereka dihadiahi bungkusan Kue 𝘱𝘭𝘶𝘴 Angpao.<br />
Isi amplopnya mulai Rp 5.000-10.000 (Sepuluh Ribu Rupiah), tergantung kemampuan ekonomi keluarga almarhum.</p>
<p>Angka Rp 5.000-10.000 kala itu lumayan banyak, bisa menghidupi 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 2-3 minggu ke depan. Wedding si Mappacéndé-Céndé Tau é.</p>
<p>Berkah keseringan khatam Al-Qur’an di rumah duka: Malengngo’ Baca é, Mabbarakka’ Poléangngé, Mario Nyawa e.</p>
<p>Masya Allah, baru berstatus 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 di Pondok Pesantren sudah bisa menghasilkan akumulasi fulus.<br />
Gegara ANCABA RI (Anak 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 Candu Baca Doang Republik Indonesia).</p>
<p>Hampir setiap malam, usai shalat Isyah kami pasukan ANCABA mencari kabar kematian warga (takziah) untuk segera meluncur ke lokasi.</p>
<p>Bila melihat mobil pete-pete parkir di sekitar masjid Al-Washilah. Monri Pi Nasala pasti mobil jemputan ANCABA lagi itu.</p>
<p>Pendeknya, komunitas ANCABA ketat menjagai, mengawasi, serta memperhatikan setiap mobil pete-pete masuk pesantren. Apalagi bila sopir angkutannya ‘kajili-jili’ mencari sesuatu. Ai mencari tim ANCABA lagi itu.</p>
<p>Pernah sebuah mobil kijang pick up berhenti di sekitar masjid, tiba² diseruduk kerumunan 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶, dikiranya “mobil jemputan ANCABA”. Mirip supporter PSM berdiri di bak pick up.</p>
<p>Padahal, mobil kijang pick up tsb stop karena sopirnya pergi menziarahi anaknya di Pesantren. Wuaddduuu, Lanta&#8217; Golo&#8217; De&#8217; Musita.<br />
Siri’-Siri’ é Mana.</p>
<p>Pada umumnya, mayoritas 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 bila melihat mobil jemputan ANCABA, mau semua ikut.<br />
Sementara setiap mobil angkutan hanya memuat 12 orang penumpang (𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶).</p>
<p>Makanya, Yassilotténgi Ménre’ Oto É.</p>
<p>Kebetulan saya partner A. Malla’ yang lincah bagai Lenrong sungai Lasape’ yang suka lucu-lucu. Kegesitan A. Malla’ itulah kumanfaatkan minta tempat kosong satu. Wow Palasi Lanra&#8217;é.</p>
<p>Apalagi A. Malla’ waktu kecilnya sering memanjat pohon mangga Macan yang banyak semut rangrang (arélla).<br />
Teknik memanjat itulah dia gunakan Makkadongé’ Téa Leppe’ bila mobil pete-pete diserbu 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 ut ANCABA.</p>
<p>Pernah kami pergi ANCABA satu mobil pete-pete memuat 20 orang.<br />
Karena beberapa 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 yang berada dalam mobil tidak mau turun mengalah.<br />
Biasanya 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 yang enggan mundur, 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 senior.</p>
<p>Kalamanna Makkatenni Masse&#8217; Tettong Mabbancang.<br />
Kiru&#8217; Bida’na, Mappenynyak Songko’na.</p>
<p>Akhirnya, mobil pete-petenya pergi Karettu’-rettu’.<br />
Laju roda melamban, napas penumpang ANCABA pun kian sesak.</p>
<p>Oto Toa Gondolo&#8217; Ban na,<br />
Marakoko’ Oning na,</p>
<p>Masya Allah, Sungguh indah pernah menjadi 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 di Pondok Pesantren DDI Kaballangan Pinrang.</p>
<p>Selamat Hari 𝗦𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 Nasional.<br />
Semoga langkahmu menjadi penerang peradaban dunia.</p>
<p>𝟮𝟮 𝗢𝗸𝘁𝗼𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟱</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/10/22/%f0%9d%95%83%f0%9d%95%96%f0%9d%95%9f%f0%9d%95%a4%f0%9d%95%92-%f0%9d%95%81%f0%9d%95%a6%f0%9d%95%a3%f0%9d%95%9f%f0%9d%95%92%f0%9d%95%9d%f0%9d%95%9a%f0%9d%95%a4%f0%9d%95%a5%f0%9d%95%9a%f0%9d%95%9c-26/">𝕃𝕖𝕟𝕤𝕒 𝕁𝕦𝕣𝕟𝕒𝕝𝕚𝕤𝕥𝕚𝕜 𝕀𝕤𝕝𝕒𝕞𝕚: Santri: Indahnya Dunia Pesantren</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>𝗜&#8217;𝗧𝗜𝗞𝗔𝗙: 𝗜𝗡𝗗𝗔𝗛𝗡𝗬𝗔 𝗠𝗘𝗥𝗘𝗡𝗨𝗡𝗚 𝗗𝗜 𝗠𝗔𝗦𝗝𝗜𝗗</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2025/03/21/%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a7%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%94%f0%9d%97%99-%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a1%f0%9d%97%97%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9b%f0%9d%97%a1%f0%9d%97%ac%f0%9d%97%94-%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%98/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Suwardi Thahir]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2025 10:02:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[merenung]]></category>
		<category><![CDATA[ramadann]]></category>
		<category><![CDATA[suf kasma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=32550</guid>

					<description><![CDATA[<p>𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣 KABARIKA.ID&#8211;BUKANKAH merenung (tafakur) sesaat di rumah Allah, lebih baik daripada ibadah setahun? Termaktub dalam kitab Al-Munqizh Min Al-Dhalal-nya Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Merenung dan menenangkan diri lewat i&#8217;tikaf di masjid, terbuka kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Saatnya melakukan kontemplasi secara menyeluruh, termasuk menakar kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Dengan beritikaf pada sepuluh malam [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/03/21/%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a7%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%94%f0%9d%97%99-%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a1%f0%9d%97%97%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9b%f0%9d%97%a1%f0%9d%97%ac%f0%9d%97%94-%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%98/">𝗜&#8217;𝗧𝗜𝗞𝗔𝗙: 𝗜𝗡𝗗𝗔𝗛𝗡𝗬𝗔 𝗠𝗘𝗥𝗘𝗡𝗨𝗡𝗚 𝗗𝗜 𝗠𝗔𝗦𝗝𝗜𝗗</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣</p>
<p>KABARIKA.ID&#8211;BUKANKAH merenung (tafakur) sesaat di rumah Allah, lebih baik daripada ibadah setahun? Termaktub dalam kitab Al-Munqizh Min Al-Dhalal-nya Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali.</p>
<p>Merenung dan menenangkan diri lewat i&#8217;tikaf di masjid, terbuka kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Saatnya melakukan kontemplasi secara menyeluruh, termasuk menakar kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.</p>
<p>Dengan beritikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan di masjid, semua berharap hidayah-Nya datang pada malam Lailatul Qadar.</p>
<p>Para malaikat berbondong-bondong turun ke bumi pada malam kemuliaan itu, hingga bumi sulit menampung saking membludaknya malaikat ingin menebar ion-ion Rahmat-Nya.</p>
<p>Menurut sebagian ulama, banyaknya malaikat merambah bumi, boleh jadi lebih banyak malaikat ketimbang jumlah butiran pasir di dunia. Ck ck ck..<br />
Êga pa!</p>
<p>Mengapa mesti masjid dijadikan distrik perenungan i’tikaf?</p>
<p>Ketahuilah, masjid merupakan tempat bertanam benih dan bibit amaliah yang amat pantas &amp; layak.</p>
<p>Masjid mintakat menabur damai rahmat berkah ayat-ayat Allah.<br />
Masjid sebagai sajadah sujud yang tak pernah lelah oleh al-Murrasyahun surga.</p>
<p>Syahdan, masjid adalah pelabuhan bersimpuh dalam ketaatan kepada Allah SWT.</p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Pergilah istirahat ke masjid sekaligus mengingat kebesaran-Nya melalui i&#8217;tikaf.</p>
<p>Kini, momen untuk berkontemplasi dan merenung alias bermakrifat.</p>
<p>Kecuali,<br />
Bagi yang belum bisa beri&#8217;tikaf di masjid.</p>
<p>Tetap merenunglah di mana saja kamu berada seperti pengembala berikut ini.</p>
<p>Suatu hari yang panas, seorang penggembala berteduh di bawah pohon kersen.</p>
<p>Di tengah sepoi² angin, tiba-tiba ia melihat pohon kersen dan buah labu yang berdekatan.</p>
<p>Ia merenungi labu besar tumbuh di tanaman merambat, sementara buah kersen kecil tumbuh di pohon besar.</p>
<p>&#8220;Saya tidak bisa mengerti jalan Allah ini!&#8221; Isi perenungan si Peternak.</p>
<p>Sisêlê’i jê’..!!<br />
Mestinya buah kersen berpindah ke tunas labu, dan buah labu ke pohon kersen baru indah kelihatannya, sedap dipandang mata.</p>
<p>&#8220;Kok Allah membiarkan kersen kecil tumbuh di pohon besar dan labu pada tanaman merambat yang halus?&#8221; tilikan dan angan-angan si penggembala.</p>
<p>Berselang beberapa menit, tiba-tiba satu butir kersen jatuh tepat mengenai hidung penynya’na si penggembala.</p>
<p>Dia terperanjat kaget, lalu bangkit meninggalkan tempat rebahannya.</p>
<p>Seketika itu langsung menengadahkan tangan seraya berdoa.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku Ya Rabb, Engkau Maha bijaksana. Apa yang terjadi andai labu tumbuh di pohon kersen mengenai batang hidungku, Nappakku Marenne’ Cui-cui, Mappenynyak ni Inge’ku,” demikian hasil perenungan sang penggembala.</p>
<p>𝟮𝟭 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗱𝗵𝗮𝗻 𝟭𝟰𝟰𝟲 𝗛</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2025/03/21/%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a7%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%9e%f0%9d%97%94%f0%9d%97%99-%f0%9d%97%9c%f0%9d%97%a1%f0%9d%97%97%f0%9d%97%94%f0%9d%97%9b%f0%9d%97%a1%f0%9d%97%ac%f0%9d%97%94-%f0%9d%97%a0%f0%9d%97%98/">𝗜&#8217;𝗧𝗜𝗞𝗔𝗙: 𝗜𝗡𝗗𝗔𝗛𝗡𝗬𝗔 𝗠𝗘𝗥𝗘𝗡𝗨𝗡𝗚 𝗗𝗜 𝗠𝗔𝗦𝗝𝗜𝗗</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
