<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Log Zhelebour Arsip - KABARIKA</title>
	<atom:link href="https://kabarika.id/topik/log-zhelebour/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarika.id/topik/log-zhelebour/</link>
	<description>Berkabar untuk Kebaikan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2026 08:58:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.1</generator>

<image>
	<url>https://kabarika.id/wp-content/uploads/2022/06/cropped-favi-1-90x90.png</url>
	<title>Log Zhelebour Arsip - KABARIKA</title>
	<link>https://kabarika.id/topik/log-zhelebour/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Soroti Ancaman AI dan Algoritma Digital, Promotor Rock Legendaris Log Zhelebour Bakal Gebrak Ajang Talent Search Terakhir</title>
		<link>https://kabarika.id/seni_budaya/2026/10/31/soroti-ancaman-ai-dan-algoritma-digital-promotor-rock-legendaris-log-zhelebour-bakal-gebrak-ajang-talent-search-terakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2026 08:58:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[Event Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Log Zhelebour]]></category>
		<category><![CDATA[Log Zhelebour vs Algoritma Digital]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Promotor Rock]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=59813</guid>

					<description><![CDATA[<p>KABARIKA.ID, MAKASSAR – Sosok legendaris di balik layar belantika musik cadas tanah air, Log Zhelebour—pria bernama asli Ong Oen Log yang dikenal luas sebagai produser rekaman, promotor konser ikonik, dan pelopor festival rock Indonesia—menyoroti redupnya panggung musik rock di tengah arus deras era digital yang pada tahun 2026 ini kian didominasi genre pop serta hip-hop. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/seni_budaya/2026/10/31/soroti-ancaman-ai-dan-algoritma-digital-promotor-rock-legendaris-log-zhelebour-bakal-gebrak-ajang-talent-search-terakhir/">Soroti Ancaman AI dan Algoritma Digital, Promotor Rock Legendaris Log Zhelebour Bakal Gebrak Ajang Talent Search Terakhir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KABARIKA.ID, MAKASSAR –</strong> Sosok legendaris di balik layar belantika musik cadas tanah air, Log Zhelebour—pria bernama asli Ong Oen Log yang dikenal luas sebagai produser rekaman, promotor konser ikonik, dan pelopor festival rock Indonesia—menyoroti redupnya panggung musik rock di tengah arus deras era digital yang pada tahun 2026 ini kian didominasi genre pop serta hip-hop.</p>
<p>Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 16 Maret 1959 yang akrab disapa Log ini mengungkapkan bahwa pesatnya perkembangan platform digital belum memberi ruang komparatif yang cukup bagi musisi maupun band rock pendatang baru untuk bersaing sehat dengan para pemusik yang lebih dulu memiliki basis penggemar mapan.</p>
<p>Suami dari Novianda Antasari ini menilai mekanika algoritma pada platform pemutar musik digital saat ini cenderung memprioritaskan rekomendasi lagu-lagu lama yang terbukti mengantongi jutaan stream. Implikasinya, talenta-talenta muda yang mengusung genre rock harus menguras energi ekstra keras demi memperkenalkan karya original mereka ke hadapan khalayak luas.</p>
<p>&#8220;Setiap hari ada ratusan ribu lagu baru diunggah ke platform digital. Namun, paling-paling hanya satu atau dua karya yang berhasil meledak ke permukaan, itu pun dampaknya tidak terlalu signifikan. Apalagi untuk genre rock atau metal, celah dan peluangnya jauh lebih sempit,&#8221; tutur Log dalam perbincangan hangat nan santai bersama media ini di Carita Cafe Hotel Claro, Jalan A.P. Pettarani, Makassar, sejak Jumat malam (30/10/2026) hingga Sabtu dini hari (31/10/2026).</p>
<p>Log menjabarkan, preferensi publik saat ini memang sangat didikte oleh musik pop dan hip-hop yang merajai algoritma pemutar musik digital. Sementara itu, ekosistem musik rock kini cenderung bertahan di ranah penikmat setia dari generasi pendahulu, sehingga menciptakan tantangan pembinaan regenerasi yang cukup krusial bagi band-band pendatang baru.</p>
<p>Kondisi ketimpangan tersebut menjadi benteng tebal bagi grup band rock baru yang bercita-cita mengarungi industri musik modern dan membangun popularitas lewat kanal-kanal berbasis internet.</p>
<p>AI Generatif Dinilai Mengancam Kreativitas Musisi</p>
<p>Di luar rintangan algoritma platform digital, maestro promotor ini turut mengawasi secara tajam dampak penetrasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif yang kian merambah proses produksi industri musik global.</p>
<p>Ia menggarisbawahi bahwa kecanggihan AI kini memungkinkan siapa saja untuk meracik, memproduksi, dan merilis karya audio tanpa perlu memiliki fondasi keahlian mendasar sebagai pencipta lagu, penyanyi, maupun pemusik instrumen.</p>
<p>Kendati menawarkan kemudahan instan, maraknya penggunaan AI dianggap menyimpan ancaman serius terhadap integritas bisnis dan perlindungan hak cipta, mengingat sistem AI bekerja dengan mengumpulkan, mengekstrak, dan menggabungkan cetak biru karakter musik dari karya-karya asli yang sudah ada sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Fenomena ini menimbulkan komplikasi pelik dalam tata kelola bisnis musik. Banyak pihak merilis lagu berbasis AI yang sebenarnya diproduksi dengan mengambil serta meramu identitas karya orang lain. Praktik semacam ini sangat merugikan hak-hak intelektual penyanyi dan musisi sejati,&#8221; tegasnya penuh prihatin.</p>
<p>Log juga menautkan hal tersebut dengan gelombang protes dari sederet label rekaman raksasa yang menolak keras komersialisasi musik AI di platform streaming. Menurutnya, label pencetak bakat merasa dirugikan karena karya artis sungguhan harus beradu porsi royalti dengan produk digital instan yang sama sekali tidak melibat pemikiran manusia, olah vokal asli, maupun ketangkasan instrumen secara langsung.</p>
<p>Ia memproyeksikan, eskalasi persoalan ini akan memicu gelombang tuntutan hukum agar para pengelola platform streaming segera melakukan pembersihan (takedown) terhadap lagu-lagu berbasis AI yang melanggar hak cipta serta merusak ekosistem ekonomi para pencipta karya original.</p>
<p>Siapkan Kontes Musik Rock melalui Live Streaming</p>
<p>Merrespons berbagai tantangan berat di era digital tersebut, Log Zhelebour membocorkan rencananya untuk merancang sebuah ajang kompetisi pencarian bakat musik rock spektakuler—yang diproyeksikan sebagai ajang mahakarya terakhirnya di panggung penyelenggaraan event musik tanah air.</p>
<p>Dalam rancangannya, kompetisi bergengsi ini akan membagi medan persaingan ke dalam dua kategori utama, yakni kategori musisi internasional dan musisi lokal.</p>
<p>Mengusung adaptasi zaman, ajang ini meninggalkan pola kompetisi konvensional dengan mengadopsi format live streaming secara penuh melalui platform YouTube serta kanal digital siaran langsung lainnya secara interaktif.</p>
<p>Lewat terobosan visual tersebut, masyarakat tidak sekadar menjadi penonton pasif, melainkan dilibatkan langsung untuk menyaksikan performa para peserta sekaligus berpartisipasi memberikan apresiasi berdasarkan respons dan jumlah pemirsa (viewership).</p>
<p>&#8220;Dewan juri profesional akan membedah dan menilai aspek komposisi serta kualitas teknik penampilan para peserta. Namun, untuk menentukan karya atau grup band mana yang paling memikat hati publik, sepenuhnya kami serahkan pada penilaian masyarakat melalui indikator jumlah penonton serta daya tarik angka view,&#8221; beber Log.</p>
<p>Melalui formula anyar ini, Log Zhelebour menaruh harapan besar agar gerbang popularitas kembali terbuka lebar bagi pencipta lagu dan band rock lokal untuk melambungkan karya terbaik mereka ke panggung publik yang jauh lebih meluas.</p>
<p>Ia turut menegaskan bahwa agenda besar ini kemungkinan besar bakal menjadi titik balik sekaligus tirai penutup dari jejak panjang dedikasinya sebagai promotor dan penyelenggara event musik nasional.</p>
<p>Jadikan Event Terakhir sebagai Penutup Perjalanan</p>
<p>Log memaparkan bahwa keputusannya untuk cukup lama vakum dari hiruk-pikuk panggung musik didasari oleh pilihannya untuk menepi di tengah arus transisi industri musik menuju era serba digital.</p>
<p>Oleh sebab itu, agenda kompetisi berbasis live streaming yang sedang dirancangnya ini mengusung bobot emosional dan makna personal yang sangat mendalam baginya, yakni sebagai panggung pengabdian terakhir untuk memfasilitasi talenta-talenta muda berbakat.</p>
<p>Meski demikian, sang promotor kawakan ini masih menyimpan rapat rincian teknis terkait jadwal pasti pelaksanaannya maupun mekanisme pendaftaran bagi para calon peserta.</p>
<p>Langkah ini menegaskan komitmen lahiriah Log Zhelebour dalam membendung kepunahan regenerasi band rock, memberi panggung layak bagi karya manusia asli di tengah gempuran tren musik populer dan ancaman teknologi AI.</p>
<p>Di sela-sela bincang-bincang santai tersebut, Log memanfaatkan momen kehadirannya di Makassar untuk bernostalgia bersama sahabat lamanya, James Wehantouw—wartawan senior yang sejak tahun 1985 dipercayakan menjadi mitra Event Organizer (EO) andalan bagi seluruh perhelatan tur konser dan festival musik garapan Log di wilayah Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tenggara.</p>
<p>Dimintai pandangannya mengenai sosio-rekam jejak Log Zhelebour, James yang kini mengemban amanah sebagai Bendahara PWI Sulsel sekaligus Pemimpin Redaksi/Perusahaan dua media digital (Pedomanrakyat.co.id dan Sorotmakassar.com) mengenang bagaimana sang promotor mengawali kariernya sebagai DJ diskotik pada era akhir 1970-an, sebelum menjelma menjadi empu penyelenggara konser rock dan produser rekaman kawakan.</p>
<p>Log mengukuhkan namanya di jajaran papan atas industri musik nasional setelah memprakarsai ajang legendaris Festival Musik Rock Se-Indonesia—sebuah kawah candradimuka yang sukses digelar sebanyak 11 edisi (1984–2007) dan menjadi rahim lahirnya nama-nama besar serta penyanyi cadas papan atas tanah air.</p>
<p>James menuturkan, melalui bendera Bieffe Enterprises yang ia pimpin kala itu dalam menyokong hajatan Log di Sulsel dan Sultra, deretan nama besar yang sukses melambung dan diorbitkan Log meliputi Nicky Astria, Nike Ardilla, Ita Purnamasari, Mel Shandy, Elpamas, Power Metal, Boomerang, hingga Jamrud.</p>
<p>Selain itu, panggung spektakuler yang digebrak Log di belasan kota besar Indonesia kerap melibatkan deretan legenda rock Nusantara seperti SAS, God Bless, Gong 2000, Achmad Albar, Arthur Kaunang, Renny Jayusman, Silvia Sartje, dan Ikang Fawzi, hingga mendatangkan band raksasa dunia seperti Sepultura, Mr. Big, White Lion, Helloween, dan Skid Row.</p>
<p>&#8220;Tak hanya tangguh di lapangan sebagai penyelenggara konser dan festival, Log juga membangun imperium bisnis musik yang utuh melalui Log Zhelebour Production, label Logiss Records (yang didirikan bersama Iwan Sutadi Sudartha dan Billboard Records pada 1989), serta lini pendukung teknis seperti Log Sound, Log Artist Management, Log Stage, Log Lighting, hingga Log Show Promotor,&#8221; pungkas James mengakhiri kenangannya. (*)</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/seni_budaya/2026/10/31/soroti-ancaman-ai-dan-algoritma-digital-promotor-rock-legendaris-log-zhelebour-bakal-gebrak-ajang-talent-search-terakhir/">Soroti Ancaman AI dan Algoritma Digital, Promotor Rock Legendaris Log Zhelebour Bakal Gebrak Ajang Talent Search Terakhir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
