<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lompatan Produktivitas Padi Arsip - KABARIKA</title>
	<atom:link href="https://kabarika.id/topik/lompatan-produktivitas-padi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarika.id/topik/lompatan-produktivitas-padi/</link>
	<description>Berkabar untuk Kebaikan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2026 22:52:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.1</generator>

<image>
	<url>https://kabarika.id/wp-content/uploads/2022/06/cropped-favi-1-90x90.png</url>
	<title>Lompatan Produktivitas Padi Arsip - KABARIKA</title>
	<link>https://kabarika.id/topik/lompatan-produktivitas-padi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sawah Masa Depan Telah Tiba: PM-AAS dan Lompatan Produktivitas Padi, Dari Sidrap untuk Indonesia</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/08/07/sawah-masa-depan-telah-tiba-pm-aas-dan-lompatan-produktivitas-padi-dari-sidrap-untuk-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2026 22:52:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Lompatan Produktivitas Padi]]></category>
		<category><![CDATA[PM-AAS]]></category>
		<category><![CDATA[Sawah Masa Depan]]></category>
		<category><![CDATA[Sidrap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=56101</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Muliadi Saleh Esais Reflektif &#124; Arsitek Kesadaran Hari ini, sawah telah menjelma menjadi ruang belajar tempat ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan petani bertemu dalam satu harmoni. Masa depan itu ternyata tidak datang dari kota-kota besar, melainkan dari hamparan padi yang menguning. Dan salah satu episentrumnya kini bernama Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Di tengah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/08/07/sawah-masa-depan-telah-tiba-pm-aas-dan-lompatan-produktivitas-padi-dari-sidrap-untuk-indonesia/">Sawah Masa Depan Telah Tiba: PM-AAS dan Lompatan Produktivitas Padi, Dari Sidrap untuk Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Muliadi Saleh</strong><br />
<em>Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran</em></p>
<p>Hari ini, sawah telah menjelma menjadi ruang belajar tempat ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan petani bertemu dalam satu harmoni. Masa depan itu ternyata tidak datang dari kota-kota besar, melainkan dari hamparan padi yang menguning. Dan salah satu episentrumnya kini bernama Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.</p>
<p>Di tengah berbagai tantangan perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, hadir secercah optimisme melalui Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS). Program yang dikembangkan Kementerian Pertanian ini membuktikan bahwa modernisasi bukan sekadar mengganti cangkul dengan mesin, tetapi mengubah cara berpikir dalam mengelola pertanian.</p>
<p>Buktinya nyata. Panen perdana PM-AAS di Kelurahan Majjeling, Kecamatan Maritengngae, Sidrap, pada Agustus 2026 mencatat produktivitas 11,2 ton gabah per hektare menggunakan varietas Inpari 48. Angka ini melampaui target dan menjadi salah satu capaian produktivitas tertinggi dalam penerapan PM-AAS. Sebelumnya, demonstrasi PM-AAS di Brebes, Jawa Tengah, menghasilkan 10,43 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare, hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata produktivitas petani setempat yang masih berkisar 5–6 ton per hektare.</p>
<p>Capaian lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan kerja keras. PM-AAS mengintegrasikan penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, mekanisasi pertanian, pemupukan berimbang, pengelolaan air melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD), serta pendampingan budidaya secara intensif.<br />
Teknologi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi sahabat petani dalam meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.</p>
<p>Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, produktivitas rata-rata padi nasional masih berada di kisaran 5,5 ton per hektare. Artinya, hasil PM-AAS di Sidrap hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional. Inilah lompatan produktivitas yang memberi harapan baru bagi cita-cita swasembada pangan Indonesia.</p>
<p>Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa PM-AAS merupakan strategi utama percepatan produksi pangan nasional yang telah melalui penelitian dan pengujian selama hampir dua tahun. Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, menargetkan penerapan PM-AAS mencapai 1 juta hektare pada 2026. Di Sulawesi Selatan sendiri, target implementasi mencapai 91 ribu hektare, sementara di Jawa Tengah ditargetkan 138.284 hektare. Modernisasi ini juga diperkuat melalui pelatihan bagi sekitar 4.000 petani dan 300 aparatur pertanian sepanjang tahun 2026.</p>
<p>Sidrap mengajarkan bahwa revolusi pertanian tidak selalu dimulai dari laboratorium, tetapi dapat lahir dari keberanian petani menerima perubahan. Ketika teknologi diterima sebagai mitra, sawah tidak hanya menghasilkan gabah lebih banyak, tetapi juga melahirkan kepercayaan diri baru. Petani tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan pelaku utama transformasi.</p>
<p>Sesungguhnya, kemajuan pertanian bukan hanya tentang mengejar angka produksi. Yang lebih penting adalah<br />
menghargai ilmu, menjaga tanah, menghemat air, dan memuliakan petani. Sebab ketahanan pangan tidak mungkin terwujud tanpa ketahanan pengetahuan.</p>
<p>Dari Sidrap, Indonesia belajar bahwa sawah masa depan bukanlah sawah yang kehilangan tradisinya, melainkan sawah yang mampu memadukan warisan leluhur dengan kecanggihan ilmu pengetahuan. Di sanalah bulir-bulir padi tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menumbuhkan harapan, menguatkan kedaulatan pangan, dan mengingatkan kita bahwa setiap panen adalah buah dari ikhtiar manusia yang disempurnakan oleh rahmat Allah.<br />
__________<br />
Muliadi Saleh: &#8220;Menulis Makna, Membangun Peradaban&#8221;.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/08/07/sawah-masa-depan-telah-tiba-pm-aas-dan-lompatan-produktivitas-padi-dari-sidrap-untuk-indonesia/">Sawah Masa Depan Telah Tiba: PM-AAS dan Lompatan Produktivitas Padi, Dari Sidrap untuk Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
