<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Merusak Kebahagiaan Arsip - KABARIKA</title>
	<atom:link href="https://kabarika.id/topik/merusak-kebahagiaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabarika.id/topik/merusak-kebahagiaan/</link>
	<description>Berkabar untuk Kebaikan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Jun 2026 17:45:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.1</generator>

<image>
	<url>https://kabarika.id/wp-content/uploads/2022/06/cropped-favi-1-90x90.png</url>
	<title>Merusak Kebahagiaan Arsip - KABARIKA</title>
	<link>https://kabarika.id/topik/merusak-kebahagiaan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>NGOMEL: Kebiasaan Sepele Yang Merusak Kebahagiaan</title>
		<link>https://kabarika.id/opini/2026/07/01/ngomel-kebiasaan-sepele-yang-merusak-kebahagiaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arman Fuady]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2026 17:42:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kebiasaan Sepele]]></category>
		<category><![CDATA[Merusak Kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Munawir Kamaluddin]]></category>
		<category><![CDATA[NGOMEL]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabarika.id/?p=54649</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Munawir Kamaluddin Rumah tangga tidak selalu retak karena perselingkuhan, kemiskinan, atau konflik besar. Tidak sedikit keluarga yang perlahan kehilangan kehangatan hanya karena satu kebiasaan yang dianggap sepele: Terlalu sering mengomel. Omelan hadir hampir setiap hari. Ibu mengomel karena rumah belum rapi, pakaian masih berserakan, dapur berantakan, anak-anak sulit diatur, pembantu dianggap kurang cekatan, atau [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/07/01/ngomel-kebiasaan-sepele-yang-merusak-kebahagiaan/">NGOMEL: Kebiasaan Sepele Yang Merusak Kebahagiaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Munawir Kamaluddin</strong></p>
<p>Rumah tangga tidak selalu retak karena perselingkuhan, kemiskinan, atau konflik besar. Tidak sedikit keluarga yang perlahan kehilangan kehangatan hanya karena satu kebiasaan yang dianggap sepele: <strong>Terlalu sering mengomel.</strong></p>
<p>Omelan hadir hampir setiap hari. Ibu mengomel karena rumah belum rapi, pakaian masih berserakan, dapur berantakan, anak-anak sulit diatur, pembantu dianggap kurang cekatan, atau suami dinilai kurang peduli terhadap urusan rumah.</p>
<p>Di sisi lain, ayah mengomel karena pengeluaran rumah tangga semakin besar, penghasilan terasa tidak mencukupi, anak-anak dianggap boros, listrik dan air terbuang percuma, rumah tidak tertata sesuai keinginannya, atau kebiasaan penghuni rumah tidak sejalan dengan harapannya. Semua berawal dari hal-hal kecil, tetapi jika terus berulang, perlahan berubah menjadi sumber kelelahan bagi seluruh penghuni rumah.</p>
<p>Lebih menyedihkan lagi, omelan sering kali bukan semata-mata lahir karena kesalahan anggota keluarga, melainkan karena tekanan hidup yang terus menghimpit. Harga beras, minyak goreng, gas, listrik, biaya sekolah, kebutuhan dapur, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat membuat ibu pusing mengatur uang belanja agar cukup hingga akhir bulan. Ayah pun memikul beban yang sama karena harus memenuhi kebutuhan keluarga dengan penghasilan yang terkadang tidak bertambah sebanding dengan naiknya biaya hidup.</p>
<p>Akibatnya, persoalan ekonomi yang belum terselesaikan sering terbawa ke dalam rumah. Kesalahan kecil anak menjadi besar, rumah yang kurang rapi menjadi pemicu kemarahan, makanan yang tersisa dipersoalkan, lampu yang lupa dimatikan menjadi alasan untuk meninggikan suara, bahkan pembantu pun menjadi sasaran kekesalan.</p>
<p>Padahal, apakah omelan dapat menurunkan harga kebutuhan pokok?, apakah kemarahan mampu menambah rezeki, ataukah justru menghilangkan ketenangan yang selama ini menjadi kekuatan sebuah keluarga?</p>
<p>Ironisnya, hampir semua omelan sebenarnya lahir dari niat yang baik. Ibu ingin rumah bersih dan tertata, ayah ingin keluarganya hidup hemat, disiplin, dan berkecukupan. Namun ketika nasihat dibungkus dengan emosi, nada tinggi, dan kata-kata yang menyakitkan, yang sampai ke hati bukan lagi pesannya, melainkan lukanya. Anak-anak tidak lagi menikmati nasihat orang tuanya, pasangan merasa kurang dihargai, dan pembantu bekerja bukan karena hormat, tetapi karena takut. Bukankah rumah dibangun untuk menjadi tempat kembali yang paling menenangkan, bukan tempat yang membuat setiap penghuninya merasa tertekan?</p>
<p>Allah SWT. Telah berfirman:<br />
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا<br />
&#8220;Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 83).</p>
<p>Rasulullah SAW. Juga bersabda:<br />
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan karena kelembutan sesuatu yang tidak diberikan karena kekerasan.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Karena itu, sebelum mengomel kepada pasangan, anak, atau pembantu, berhentilah sejenak dan bertanyalah kepada diri sendiri, apakah omelanku akan menyelesaikan masalah atau justru menambah masalah?. Apakah keluargaku membutuhkan kemarahanku, atau justru membutuhkan ketenangan, pelukan, penghargaan, dan solusi?. Bisa jadi yang mereka perlukan bukan bentakan, melainkan pengertian, bukan celaan, melainkan bimbingan, bukan suara yang keras, melainkan hati yang lembut.</p>
<p>Sesungguhnya rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah yang bebas dari persoalan ekonomi atau berbagai kekurangan, tetapi rumah yang mampu mengubah keluhan menjadi musyawarah, kemarahan menjadi kelembutan, dan tekanan hidup menjadi kekuatan untuk saling menguatkan. Sebab, yang paling dirindukan oleh setiap anggota keluarga bukanlah rumah yang paling mewah, melainkan rumah yang dipenuhi ketenangan, senyuman, doa, penghargaan, dan kasih sayang. Jangan sampai omelan yang kita anggap biasa justru menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan yang selama ini kita perjuangkan. Karena sering kali, yang merusak sebuah rumah bukan besarnya masalah, melainkan lisan yang tidak pernah belajar melembutkan hati.</p>
<p>#Wallahu A&#8217;lam Bishawab🙏<br />
SEMOGA BERMANFAAT<br />
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin</p>
<p>Artikel <a href="https://kabarika.id/opini/2026/07/01/ngomel-kebiasaan-sepele-yang-merusak-kebahagiaan/">NGOMEL: Kebiasaan Sepele Yang Merusak Kebahagiaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabarika.id">KABARIKA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
