KABARIKA.ID, JAKARTA — Merespons serangan Amerika Serikat (AS) terhadap tiga lokasi nuklir Iran, pada Minggu dini hari (22/06/2025) waktu setempat, parlemen Iran menyetujui usulan penutupan lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin mengatakan, Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak mentah yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia. Setiap hari, sekitar 20-30 persen minyak mentah global melewati jalur ini.
Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Israel dan Iran saat ini, menyebabkan Iran mengancam untuk menutup Selat Hormuz.
Jika penutupan itu benar-benar dilakukan oleh otoritas Iran, maka akan membawa risiko serius bagi stabilitas pasokan energi dunia, termasuk Indonesia.
“Blokade Selat Hormuz akan menyebabkan terganggunya pasokan minyak dan memicu kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar TB Hasanuddin, Senin (23/6/2025) di Jakarta.
Harga minyak mentah Brent telah naik dari 65 Dolar AS per barrel di awal Juni, menjadi 73 Dolar AS pada pertengahan Juni 2025.
Kalau Iran menutup selat ini, lanjut TB Hasanuddin, maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap harga minyak dan LNG ke depan.
Bahkan ada spekulasi bahwa harga minyak mentah bisa naik di atas 90 Dolar AS per barrel.
Walaupun hingga saat ini, kedua negara belum menargetkan serangan ke fasilitas-fasilitas migas, namun potensi serangan tetap ada dan ini mengancam suplai minyak mentah dunia.
Iran diketahui memiliki cadangan minyak nomor delapan di dunia dan cadangan gas nomor empat di dunia. Diperkirakan 3 persen suplai minyak mentah di dunia akan terganggu.

Sebagai negara importir minyak utama dari Timur Tengah, Indonesia diperkirakan akan terdampak dalam beberapa hal, antara lain: pembengkakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada APBN, kenaikan harga BBM domestik, serta inflasi akibat tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Selain itu, Indonesia juga mengalami hambatan pasokan energi lain, yaitu LPG yang diimpor dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) yang melewati Selat Hormuz.
“Peningkatan biaya logistik juga akan terjadi jika Indonesia harus mencari jalur alternatif untuk suplai energi,” katanya.
Dalam menghadapi situasi ini, TB Hasanuddin menyarankan langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh Indonesia, seperti diversifikasi sumber energi ke energi terbarukan, mengupayakan diplomasi energi dengan negara-negara di luar Teluk Persia, serta memperkuat cadangan energi strategis dan mempercepat pembangunan kilang minyak dalam negeri.
Hal ini penting agar Indonesia terhindar dari krisis energi, jika eskalasi konflik makin tinggi.
Mengenai eskalasi konflik pasca serangan AS ke Iran, TB Hasanuddin mengingatkan potensi peningkatan konflik jika Iran melakukan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak, Suriah, Qatar, atau UEA.
“Kemungkinan eskalasi juga meningkat jika Iran menyerang kapal perang atau tanker minyak di Teluk Persia. Penguatan kelompok militan pro-Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak juga dapat melancarkan serangan asimetris terhadap AS, Israel, dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah,” ujar TB Hasanuddin.
Purnawirawan TNI itu menegaskan bahwa situasi ini berpotensi menyebabkan perang terbuka antara negara-negara besar dunia, seperti Rusia, China, Inggris, Prancis, dan AS, apabila polaritas konflik terus meningkat.
Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran bersiap menutup Selat Hormuz setelah AS menyerang tiga fasilitas nuklir di negara itu pada Minggu (22/06/2025), jika hal itu diperlukan.
Ancaman itu disampaikan sebagai cara untuk menangkal tekanan negara-negara Barat yang kini mencapai puncaknya setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran.
Keputusan untuk menutup Selat Hormuz belum final dan belum dilaporkan secara resmi, namun parlemen Iran telah mengadopsi rancangan undang-undang berkaitan dengan rencana itu. (*/mr)
