Oleh: Iqbal Djawad

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyak negara termasuk Indonesia masih melihat budidaya udang sebagai kegiatan perikanan yang bergantung pada alam. Lain halnya dengan Jepang yang secara bertahap sejak pasca rekonstruksi dan industrialisasi (1945-1970) telah mengubah paradigma tersebut menjadi sistem manufaktur biologis, di mana setiap input, proses, dan output diukur serta sejatinya bisa dikendalikan.

Pada era itu kebutuhan protein meningkat pesat. Jepang melakukan modernisasi besar-besaran di sektor perikanan dan akuakultur yang diikuti dengan pola pikir yang kemudian menjadi ciri khas Jepang: sektor pangan harus dikelola dengan disiplin industri termasuk budidaya udang yaitu Kuruma Ebi (Penaeus japonicus)

Prinsip-prinsip yang terkenal dalam manufaktur Jepang—standarisasi, pengendalian mutu, pengukuran proses, dan perbaikan berkelanjutan—mulai meresap ke sektor budidaya udang.

Mungkin inilah alasan kenapa ketika belajar di Jepang tahun 1990, Professor di Laboratoriun Fisiologi Hewan Air, Universitas Hiroshima selalu mengingatkan saya untuk selalu membaca dan ikut mempelajari sejarah budidaya perikanan di Jepang. Beliau juga mengatakan bahwa sejatinya udang bukan sekedar dibudidayakan sampai panen, tetapi harus diproduksi melalui sistem yang terus diperbaiki seperti pabrik yang tidak pernah berhenti.

Di Jepang, terdapat cara pandang yang menarik. Mereka tidak melihat budidaya udang sekadar sebagai kegiatan farming yang bergantung pada alam, tetapi sebagai sebuah sistem produksi yang harus dikelola dengan disiplin layaknya manufacturing.

Perbedaan cara berpikir ini menghasilkan pendekatan yang sangat berbeda terhadap kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan. Ketika banyak orang melihat tambak sebagai lahan budidaya, Jepang melihatnya sebagai pabrik biologis yang menghasilkan produk bernilai tinggi.

Dalam dunia manufacturing Jepang, setiap proses memiliki standar yang jelas, parameter yang terukur, dan target yang konsisten. Filosofi yang sama diterapkan pada sektor budidaya udang. Air, pakan, benur, kesehatan udang, hingga proses panen diperlakukan sebagai bagian dari rantai produksi yang harus dikendalikan. Tujuannya bukan hanya menghasilkan lebih banyak udang, tetapi menghasilkan udang dengan kualitas yang dapat direkognisi oleh pasar sebagai makanan premium dan sehat.

Pendekatan ini mengajarkan bahwa keberhasilan bukanlah hasil keberuntungan. Dalam budidaya udang kegagalan sering dianggap sebagai akibat cuaca, penyakit, atau faktor alam lainnya. Namun dalam pola pikir manufacturing, setiap kegagalan dipelajari sebagai sumber data untuk memperbaiki sistem. Ketika terjadi penurunan produktivitas, fokusnya bukan mencari kambing hitam, melainkan mengidentifikasi akar masalah dan membangun mitigasi yang berdamai dengan semesta untuk mencegah masalah yang sama terulang kembali.

Budidaya udang semi dan super intensif membutuhkan ketelitian yang sama seperti industri otomotif atau elektronik. Kualitas air harus dipantau secara rutin, pakan harus diberikan berdasarkan kebutuhan aktual, dan kesehatan udang harus diamati melalui data yang akurat. Jepang menunjukkan bahwa disiplin terhadap detail-detail kecil sering kali menghasilkan perbedaan besar pada hasil akhir. Mereka menganggap kesuksesan tidak lahir dari satu keputusan besar, tetapi dari ribuan keputusan kecil yang dilakukan dengan benar setiap hari.

Filosofi kaizen, atau perbaikan berkelanjutan, juga menjadi pelajaran berharga. Setiap siklus budidaya udang sejatinya memberi kesempatan kepada kita untuk belajar. Produktivitas yang baik hari ini bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Selalu ada ruang untuk meningkatkan efisiensi pakan, memperbaiki kualitas air, mengurangi risiko penyakit, atau meningkatkan kualitas panen. Kemajuan yang dilakukan sedikit demi sedikit akan menghasilkan lompatan besar dalam jangka panjang.

Yang tidak kalah pentingnya bagaimana Jepang memberi perhatian khusus terhadap modal manusia yang mereka miliki. Teknologi memang penting, tetapi keberhasilan tetap bergantung pada kompetensi, disiplin, dan rasa tanggung jawab para pelaku usaha beserta modal manusianya. Operator tambak, teknisi, dan manajer produksi dipandang sebagai bagian penting dari sistem yang harus terus belajar dan berkembang. Dengan demikian, pembangunan modal manusia menjadi investasi yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur.

Dalam konteks budidaya udang Indonesia, pelajaran terbesar dari Jepang adalah perubahan pola pikir. Tambak bukan sekadar tempat memelihara udang hingga panen, melainkan sebuah sistem produksi yang harus dirancang, diukur, dievaluasi, dan disempurnakan secara terus-menerus. Ketika farming atau budidaya mulai dikelola dengan semangat manufacturing, produktivitas meningkat, risiko menurun, dan daya saing menjadi lebih kuat. Dari situlah lahir industri udang yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga membangun masa depan yang berkelanjutan bagi bangsa. (*)