KABARIKA.ID, WASHINGTON — Partai Demokrat memanfaatkan insiden tewasnya tiga tentara Amerika Serikat (AS) dalam serangan Iran, untuk mendesak Presiden Donald Trump agar segera membatalkan keputusannya melanjutkan kembali perang dengan Iran, di tengah kekhawatiran luas mengenai jumlah korban yang terus bertambah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada saat pasukan AS melancarkan gelombang serangan kesepuluh secara berturut-turut terhadap sejumlah target di Iran, kekhawatiran atas kematian personel militer AS mengancam akan mempersulit langkah penyelesaian eskalasi konflik tersebut.
Perang kembali berkobar setelah Trump pekan lalu membatalkan nota kesepahaman yang telah disepakati dengan Iran pada bulan Juni silam.
Pentagon merilis nama dua tentara yang tewas dalam serangan Iran terhadap pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania pada hari Jumat (17/07/2026).
Keduanya adalah Letnan Satu Tyler James Feehan (25 tahun) asal Ewa Beach, Hawaii, dan Prajurit Isabella Gonzales (19 tahun) asal Carrollton, Texas.
Anggota militer ketiga tewas di Irak utara pada hari Sabtu (18/07/2026) dalam insiden yang disebut Komando Pusat AS sebagai “peledakan terkendali” terhadap amunisi yang belum meledak.
Jenazah yang diduga merupakan anggota militer keempat yang tewas, ditemukan selama akhir pekan di Yordania.

Chris Murphy, senator Demokrat dari Connecticut, menuduh Trump telah kehilangan kendali atas perang ini hingga ke tingkat yang mengkhawatirkan.
“Bagi kita yang memantau perkembangan perang Iran dari jam ke jam, situasi memburuk dengan sangat cepat. Skala serangan dan ancaman eskalasi meningkat dengan pesat,” ,” tulis Murphy di media sosial.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa AS tidak akan gentar menghadapi jatuhnya korban jiwa.
“Selamat jalan, para pahlawan. Pengorbanan mereka justru semakin memperkuat tekad kita,” tulisa Hegseth di media sosial.
Iran telah bersumpah untuk melancarkan serangan balasan terhadap sekutu AS di kawasan Teluk, yang mereka cap sebagai kolaborator karena menyediakan fasilitas logistik untuk serangan ke wilayah Iran.
Dalam percakapan telepon singkat dengan NewsNation, Trump menyebut kematian tersebut sebagai hal yang sangat menyedihkan dan mengatakan bahwa para anggota militer itu gugur demi pengabdian kepada negara kita.
Namun, ia menghadapi desakan bertubi-tubi dari pihak Demokrat agar meninggalkan sikap agresifnya, sementara pihak Republik tetap memberikan dukungan.
“Perang di Iran yang merupakan pilihan gegabah dan memakan banyak biaya telah menjadi bencana bagi rakyat Amerika. Semoga Tuhan senantiasa melindungi pasukan kita yang telah ditempatkan dalam bahaya secara sia-sia,” tulis Hakeem Jeffries, pemimpin Demokrat di DPR AS.
Mark Warner, wakil ketua komite intelijen Senat dari Partai Demokrat (Virginia), mengatakan ada ratusan personel AS yang terluka parah.
Warner menambahkan, merupakan hal yang luar biasa jika jumlah korban tidak lebih tinggi dari itu.
“Inilah yang terjadi ketika Anda memulai memilih perang. Dan sebagai anggota ‘Gang of Eight’, saya bisa katakan dengan tegas bahwa tidak ada ancaman mendesak dari Iran,” ujarnya kepada program “Face the Nation” di CBS.
Chris Van Hollen, senator Demokrat dari Maryland yang telah mengajukan resolusi kewenangan perang (war powers resolution) untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran, kecuali mendapat persetujuan Kongres.
“Perang yang tidak masuk akal ini seharusnya tidak pernah dimulai dan harus diakhiri sekarang,” tulisa Van Hollen pada Selasa (21/07/2026).
Jeanne Shaheen, anggota senior partai tersebut di komite hubungan luar negeri Senat, menyerukan agar AS kembali ke jalur diplomasi.
“Presiden harus menegosiasikan pengakhiran perang yang membawa bencana ini,” tulis Shaheen di media sosial.
Sementara itu, Ted Lieu, anggota DPR dari California yang juga vokal menyuarakan pembatasan wewenang Trump melalui resolusi kewenangan perang.
“Kita membutuhkan pihak Republik untuk bergabung dengan kita dalam mengesahkan Resolusi Kewenangan Perang sekarang,” tulisnya.
Koran The New York Times melaporkan bahwa pasukan Iran melancarkan tiga serangan terhadap target militer AS di Yordania pekan lalu, sebelum serangan mematikan pada hari Jumat, yang tidak diungkapkan oleh Pentagon.
Surat kabar tersebut menyebutkan bahwa Pentagon juga tidak mengungkapkan adanya puluhan korban serta kerusakan yang diakibatkan oleh serangan-serangan sebelumnya itu.
Korban jiwa terbaru ini menjadikan jumlah personel militer AS yang tewas sejak dimulainya perang pada 28 Februari mencapai setidaknya 17 orang. Diperkirakan lebih dari 1.700 warga sipil Iran telah tewas.
Baik DPR maupun Senat telah mengesahkan resolusi mengenai wewenang perang, yang mengharuskan presiden meminta persetujuan Kongres setelah 60 hari permusuhan berlangsung, dengan tujuan membatasi langkah Trump.
Namun, Gedung Putih berpendapat bahwa belum genap 60 hari pertempuran berlangsung terus-menerus karena penghitungan waktu sempat terhenti setelah gencatan senjata awal pada bulan April, yang bertahan selama beberapa minggu, meski dengan kondisi rapuh.
Sementara itu, Partai Republik tetap secara terbuka mendukung Trump, meskipun hasil jajak pendapat menunjukkan dukungan terhadap perang tersebut maupun cara Trump menanganinya berada di tingkat rendah dan terus merosot.
Survei Washington Post-Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap penanganan konflik oleh Trump berada di angka 29%, lebih rendah dibandingkan dukungan 33% terhadap kinerjanya dalam mengelola ekonomi, yang kini terguncang akibat lonjakan harga bahan bakar sebagai dampak perang.
Sebuah pernyataan dari Partai Republik di New Mexico menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban jiwa baru tersebut, namun menuduh Partai Demokrat berusaha memanfaatkannya demi kepentingan politik.
“Terlepas dari seberapa keras Partai Demokrat mencoba mempolitisasi hal ini, tindakan Presiden Trump di Iran telah membuat negara kita lebih aman dari rezim teroris yang telah menyebabkan kematian dan pembantaian jutaan orang tak berdosa di seluruh dunia, termasuk warga Amerika,” demikian pernyataan partai Republik.
James Comer, anggota DPR dari Kentucky yang juga salah satu pendukung paling setia Trump di Capitol Hill, mengatakan kepada Fox News bahwa respons militer atas tewasnya para personel militer tersebut sangatlah penting.
“Saya rasa tidak ada pihak yang menginginkan terjadinya konflik militer apa pun di Iran, namun begitulah kenyataan dunia tempat kita hidup saat ini. Kita harus merespons, dan kita harus merespons dengan cepat serta kekuatan penuh, itulah yang sedang dilakukan oleh Presiden Trump,” ujar Comer.
Riley Moore, seorang anggota Partai Republik dari West Virginia, mengatakan kepada Fox bahwa presisi serangan terhadap pangkalan di Yordania itu mengindikasikan bahwa Iran memperoleh informasi penentuan target dari Rusia atau Tiongkok.
Ia mendesak sekutu AS di kawasan Teluk yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk turut membantu.
“Langkah kita selanjutnya juga mencakup bagaimana kita akan bekerja sama dengan mitra-mitra GCC di kawasan tersebut, karena situasi ini bisa berkembang menjadi konflik regional yang memicu ketidakstabilan,” ujar Moore. (rus)
