KABARIKA.ID, JAKARTA-Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Wilayah Jabodetabek kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kapasitas dan jejaring kepemimpinan alumni melalui Leadership Forum 2026 yang digelar pada Sabtu (8/8/2026) di Learning Theater, Bulog Corporate University, Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengusung tema “Executive Insights: Menjadi Pemimpin BUMN yang Berintegritas, Adaptif, dan Berdaya Saing”, forum yang dihadiri kurang lebih 150 orang tersebut mempertemukan sejumlah alumni Unhas yang kini memegang posisi strategis di BUMN, korporasi, maupun institusi pendidikan.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU., ASEAN Eng., Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara I, Dr.Ir.Alimuddin Baso,ST, MBA, Direktur Pemasaran Korporat PT Pertamina Subholding Downstream, Dr.dr.Andi Afdal Abdullah, MBA, AAK, Direktur Operasi Perum Bulog serta Prof. M.Yusuf Direktur Kealumnian Universitas Hasanuddin, . Sementara forum dipandu Sekretaris IKA Unhas Jabodetabek, Dr.Ir.Firmansyah Arifin, MBA. IPM.
Leadership Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman, perspektif dan praktik kepemimpinan dari para eksekutif yang memiliki pengalaman panjang di lingkungan pemerintahan, BUMN dan korporasi.
Alimuddin Baso: Integritas Harus Berjalan Bersama Tata Kelola yang Baik

Salah satu pesan penting datang dari Alimuddin Baso. Dalam paparannya, alumni Teknik Mesin UNHAS angkatan 1987 ini menekankan bahwa kepemimpinan memiliki peran fundamental dalam mengelola korporasi maupun lembaga negara.
Menurut Alimuddin, tantangan kepemimpinan tidak hanya menyangkut kemampuan mengambil keputusan bisnis, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin membangun tata kelola, budaya organisasi dan integritas yang mampu menopang keberlanjutan perusahaan.
“Aspek leadership sangat dibutuhkan dalam konteks memimpin korporasi, sama halnya ketika kita memimpin di kementerian maupun lembaga,” ujar Alimuddin Baso yang juga menyandang gelar Doktor di bidang Hukum ini dengan lugas.

Berbagi pengalaman sejak bergabung dengan Pertamina, Alimuddin mengungkapkan bahwa proses integrasi bisnis di lingkungan BUMN tidak semata menyangkut aspek legal dan substansi bisnis. Faktor budaya organisasi atau culture menjadi bagian penting yang menentukan keberhasilan integrasi.
Karena itu, menurutnya, penguatan governance, risk and compliance (GRC) merupakan fondasi yang tidak dapat ditawar.
“Integrasi bisnis terkadang mengalami diskursus pada aspek culture. Namun, kami meyakini bahwa penguatan governance, risk, and compliance adalah modal dasar yang wajib dipenuhi,” tegasnya.
Alimuddin juga mengingatkan bahwa pemimpin harus mampu menjadi role model bagi organisasi. Keteladanan tidak cukup disampaikan melalui instruksi, tetapi harus ditunjukkan melalui perilaku sehari-hari.
“Modal kita jika ingin menjadi role model pemimpin adalah kita sendiri yang harus memberi contoh. Kita perkuat kompetensi generasi muda serta dukung dengan budaya kerja yang sehat,” ujarnya.
Abdul Rivai Ras: Leadership Adalah Talenta yang Bisa Diasah

Sementara itu, Abdul Rivai Ras membawa perspektif berbeda mengenai bagaimana seorang pemimpin dibentuk. Dengan pengalaman panjang selama 32 tahun di lingkungan TNI Angkatan Laut serta pengalaman di sejumlah kementerian dan lembaga negara, Alumni Teknik Arsitektur Unhas angkatan 1986 ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan administratif atau manajerial.
“Kepemimpinan itu bukan sekadar manajemen, tetapi bagaimana kita menginspirasi perubahan, meningkatkan hasil, dan memotivasi orang lain. Leadership adalah talenta yang bisa diasah dan ditempa melalui pengalaman, bukan hanya dari pendidikan formal,” ungkapnya.
Menurut Rivai, seorang pemimpin membutuhkan kombinasi antara pengalaman, keberanian, visi strategis dan kemampuan mengeksekusi gagasan. Pendidikan formal memberikan fondasi, tetapi pengalaman menghadapi berbagai persoalan nyata menjadi ruang penting untuk menempa kualitas kepemimpinan.
Dalam konteks BUMN, ia menekankan sedikitnya tiga kemampuan yang perlu dimiliki calon pemimpin, yakni pemahaman strategi, kemampuan eksekusi dan keberanian mengambil peluang.
Pemimpin harus mampu melihat masa depan dan menerjemahkannya menjadi strategi perusahaan. Namun strategi yang baik tidak akan memberikan hasil tanpa sistem organisasi yang mampu mengeksekusinya.
Rivai juga mengajak generasi muda untuk berani masuk ke arena kompetisi yang belum terlalu padat. Menurutnya, keberanian mengambil peluang menjadi salah satu faktor yang dapat membedakan antara mereka yang hanya mengikuti arus dengan mereka yang mampu menciptakan perubahan.
Menariknya, pengalaman Rivai di sektor pertahanan juga membawanya pada pembahasan mengenai ketahanan pangan. Ia melihat pangan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari ketahanan nasional.
“Logistics cannot win a battle, but without logistics, a battle cannot be won,” ujarnya, menggambarkan betapa strategisnya aspek logistik dalam menentukan ketahanan sebuah negara.
Dalam konteks Indonesia, pangan dipandang sebagai salah satu instrumen strategis yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi, inflasi hingga stabilitas sosial.
Andi Afdal: IKA Unhas Harus Menjadi Rumah Pembelajaran Kepemimpinan
Ketua IKA Unhas Jabodetabek Andi Afdal Abdullah dalam sambutannya menegaskan bahwa Leadership Forum bukan sekadar agenda seremonial organisasi alumni.
Menurutnya, forum tersebut merupakan bagian dari upaya IKA Unhas Jabodetabek menghadirkan ruang pembelajaran bagi alumni untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring dan memperkuat kontribusi dalam pembangunan nasional.

“Kami ingin IKA Unhas bukan hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga menjadi rumah pembelajaran, tempat para alumni saling berbagi pengalaman, gagasan dan inspirasi. Leadership Forum ini adalah salah satu ikhtiar kita untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas, keberanian dan kepedulian terhadap bangsa.”
Andi Afdal menilai tantangan yang dihadapi BUMN dan dunia usaha semakin kompleks. Perubahan teknologi, dinamika geopolitik, tekanan ekonomi global, tuntutan efisiensi serta ekspektasi masyarakat terhadap tata kelola perusahaan menuntut hadirnya pemimpin yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip.
“Kita membutuhkan pemimpin yang mampu bergerak cepat mengikuti perubahan, tetapi tidak kehilangan kompas nilai. Adaptif bukan berarti mudah berubah prinsip. Justru pemimpin yang adaptif adalah mereka yang mampu menyesuaikan strategi tanpa mengorbankan integritas”, kata alumni Fakultas Kedokteran Unhas Angkatan 1991 ini.
Ia juga berharap pengalaman para pembicara dapat menjadi inspirasi bagi alumni, khususnya generasi muda Unhas, agar berani mengambil peran lebih besar di berbagai sektor strategis.
“Kami ingin alumni Unhas hadir di berbagai ruang pengabdian, baik di BUMN, pemerintahan, dunia usaha, akademik maupun sektor lainnya. Yang kita bangun bukan sekadar karier individual, tetapi kepemimpinan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.Kedepan, kami akan melaksanakan kegiatan serupa paling tidak 3 bulan sekali”, pungkasnya antusias.
Prof. Muhammad Yusuf: Alumni Harus Menjadi Kekuatan Strategis Almamater dan Bangsa
Dari perspektif almamater, Direktur Kealumnian Universitas Hasanuddin, Prof. Ir. Muhammad Yusuf, S.Pt., Ph.D., IPU, menyambut positif penyelenggaraan Leadership Forum IKA Unhas Jabodetabek. Menurutnya, forum semacam ini merupakan bentuk nyata bagaimana jejaring alumni dapat dikembangkan menjadi kekuatan strategis bagi universitas sekaligus memberikan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat dan bangsa.
Prof. Muhammad Yusuf menilai keberadaan alumni tidak semestinya berhenti pada hubungan emosional dengan almamater. Alumni memiliki pengalaman, kompetensi, jejaring dan posisi strategis yang dapat menjadi modal penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi serta memperluas dampak Unhas di tengah masyarakat.
“Alumni bukan hanya bagian dari masa lalu sebuah perguruan tinggi, tetapi merupakan kekuatan strategis untuk masa depan. Ketika alumni yang tersebar di berbagai sektor dapat terhubung, berkolaborasi dan saling menguatkan, maka dampaknya akan jauh lebih besar bagi almamater maupun bangsa,” ujarnya.
Ia mengapresiasi IKA Unhas Jabodetabek yang menghadirkan para eksekutif alumni untuk berbagi pengalaman kepemimpinan. Menurutnya, pengalaman praktis para alumni yang telah berada di posisi strategis merupakan sumber pembelajaran yang sangat berharga, khususnya bagi generasi alumni yang sedang membangun karier dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin.
“Leadership Forum seperti ini penting karena menghadirkan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Para alumni dapat berbagi pengalaman nyata, bagaimana mengambil keputusan, menghadapi perubahan, mengelola organisasi, menjaga integritas dan membangun kepercayaan,” katanya bersemangat.
Dari Alumni untuk Indonesia
Leadership Forum 2026 memperlihatkan bahwa jejaring alumni dapat menjadi kekuatan strategis ketika dikembangkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
IKA Unhas Jabodetabek sebelumnya menegaskan bahwa forum tersebut memang dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan pengalaman praktis para pemimpin dengan semangat kolaborasi antaralumni.
Lebih dari sekadar membicarakan bagaimana menjadi seorang leader, forum ini memperluas diskusi tentang pemimpin seperti apa yang dibutuhkan Indonesia.
Leadership Forum IKA Unhas Jabodetabek dapat menjadi bagian dari proses panjang menyiapkan generasi pemimpin yang kompeten, berintegritas, adaptif dan berdaya saing, sekaligus tetap memiliki keberpihakan pada kepentingan bangsa.
Bagi IKA Unhas Jabodetabek, forum tersebut juga menegaskan satu pesan penting: alumni tidak berhenti menjadi alumni ketika meninggalkan kampus. Justru setelah berada di tengah masyarakat, alumni memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan pengetahuan, pengalaman dan jejaringnya bagi kemajuan almamater dan Indonesia.
