KABARIKA.ID, WASHINGTON — Perundingan gencatan senjata secara tidak langsung antara Israel dan Hamas yang dimediasi Amerika Serikat (AS), Qatar, dan Mesir di Doha, Qatar, sejak 6 Juli lalu, belum mencapai titik terang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed bin Mohammed Al Ansari mengatakan pada Selasa (15/07/2025), bahwa perundingan tersebut masih terus berlangsung, dan tanpa tenggat waktu.
Guna mengatasi kebuntuan dalam perundingan tersebut, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani pagi ini, Kamis (17/07/2025) WIB atau Rabu malam (16/07/2025) waktu AS, di Gedung Putih.
“Trump akan menjamu pemimpin Qatar untuk makan malam di Gedung Putih pada Rabu malam (16/07/2025). Pada hari Minggu (13/07/2025), Trump mengatakan ia berharap perundingan untuk kesepakatan gencatan senjata akan diperbaiki minggu ini,” kata sumber di Gedung Putih, seperti dilansir Arabnews.
Menurut sumber tersebut, fokus utama pembicaraan Trump dengan Al-Thani adalah upaya mendesak kemajuan gencatan senjata di Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera.

Para negosiator Israel dan Hamas telah mengambil bagian dalam putaran terakhir perundingan gencatan senjata di Doha sejak 6 Juli lalu.
Mereka membahas proposal yang didukung AS untuk gencatan senjata 60 hari yang mengatur pembebasan sandera secara bertahap, penarikan pasukan Israel dari sebagian wilayah Gaza, dan diskusi tentang cara mengakhiri konflik.
Utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, berharap pada negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung di Qatar, mediator utama antara kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan.
Para mediator dari AS, Qatar, dan Mesir telah berupaya untuk mencapai kesepakatan, namun Israel dan Hamas berbeda pendapat mengenai sejauh mana penarikan diri Israel dari wilayah kantong Palestina yang terkepung.
Pertempuran antara Israel dan Hamas yang dipicu serangan mendadak Hamas ke Israel bagian selatan pada akhir Oktober 2023, kini telah berubah menjadi aksi genosida dan wilayah Gaza menjadi ladang pembantaian.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan darat dan udara militer Israel ke Gaza memasuki hari ke-650 per hari ini, Kamis (17/07/2025) telah menewaskan lebih dari 58.479 warga Palestina dan melukai 139.355 orang lainnya.
Serangan tersebut juga menyebabkan krisis kelaparan, memaksa seluruh penduduk Gaza mengungsi, dan memicu tuduhan genosida di Mahkamah Internasional dan kejahatan perang di Mahkamah Kriminal Internasional.
Gencatan senjata dua bulan sebelumnya berakhir ketika serangan Israel menewaskan lebih dari 400 warga Palestina pada 18 Maret 2025.
Presiden Trump tahun ini mengusulkan pengambilalihan Gaza oleh AS, namun rencana itu dikecam secara global oleh para ahli hak asasi manusia, PBB, dan Palestina sebagai tindakan “pembersihan etnis”. (rus)
