KABARIKA.ID, TEL AVIV — Ibu kota Israel, Tel Aviv dan sejumlah kota besar lainnya lumpuh akibat ratusan ribu orang turun ke jalan berdemonstrasi, pada Minggu (17/08/2025) dari pagi hingga larut malam, menuntut diakhirinya perang Gaza dan mengembalikan seluruh sandera yang masih ditahan oleh Hamas di Gaza.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Forum sandera mengatakan 500.000 orang menghadiri unjuk rasa, dan lebih dari satu juta orang berunjuk rasa di seluruh negeri. Dalam unjuk rasa tersebut, para mantan tawanan mendesak Presiden Trump untuk menekan Israel agar mengakhiri penderitaan dan berdamai.
Hingga Minggu malam ratusan ribu orang masih memadati pusat kota Tel Aviv. Maklum, Minggu malam itu adalah penutup hari protes dan pemogokan nasional yang menuntut pemerintah Israel untuk mengakhiri perang di Gaza dan membebaskan para sandera yang masih ditawan oleh pejuang Palestina.
Unjuk rasa sehari penuh itu menjadi salah satu yang terbesar sejak perang dimulai hampir dua tahun lalu.
Menurut Forum Sandera dan Keluarga Hilang, demonstrasi tersebut dihadiri lebih dari setengah juta orang, meskipun tidak ada perkiraan resmi dari pihak kepolisian mengenai jumlah massa.
Forum tersebut juga memperkirakan sekitar satu juta orang telah berpartisipasi dalam protes di seluruh negeri sepanjang hari, ketika kelompok dan organisasi protes bergabung untuk menggelar hari pembangkangan sipil besar-besaran setelah kabinet pemerintahan PM Netanyahu, pada awal bulan ini, memutuskan untuk menguasai Kota Gaza, meskipun ada peringatan dari pejabat keamanan tinggi bahwa hal ini akan membahayakan para sandera.
Selain di Tel Aviv, protes besar lainnya berlangsung di Yerusalem, Haifa, Beersheba, dan beberapa kota kecil lainnya. Para demonstran memblokir jalan raya dan jalan tol, dengan tuntutan yang sama.
Aksi demonstran yang berlangsung pada Minggu siang, pengunjuk rasa juga melakukan aksi di luar rumah sejumlah menteri pemerintah, termasuk rumah Menteri Urusan Strategis Ron Dermer di Yerusalem, Menteri Kehakiman Yariv Levin di Modiin, Menteri Ekonomi Nir Barkat di ibu kota, Menteri Pendidikan Yoav Kisch di Hod Hasharon dan Wakil Menteri Luar Negeri, Sharren Haskel di Kfar Saba.
Tuntutan Keluarga Sandera
Protes tersebut diserukan oleh Dewan Oktober, yakni kelompok beranggotakan keluarga sandera dan mereka yang tewas pada 7 Oktober, serta para penyintas serangan.

Para peserta aksi menuntut diakhirinya perang di Gaza dan pemulangan 50 sandera yang ditawan di sana.
Mereka memprakarsai protes setelah kabinet awal bulan ini memutuskan untuk merebut Kota Gaza, meskipun ada peringatan dari IDF bahwa hal itu akan membahayakan para sandera.
Video aksi demonstrasi pada Minggu pagi hingga siang dapat dilihat di sini
Sebelum demonstrasi besar-besaran Minggu malam dimulai, setidaknya 38 orang telah ditangkap di seluruh negeri ketika para aktivis memblokir jalan dan dalam beberapa kasus bentrok dengan petugas yang mencoba membukanya kembali.
Hari protes tersebut bertepatan dengan aksi mogok besar-besaran, yang diikuti oleh ratusan pemerintah daerah, pelaku bisnis, universitas, perusahaan teknologi, dan organisasi lainnya, meskipun serikat buruh pusat Israel, Histadrut, tidak ikut serta dalam aksi tersebut.
Berbicara di hadapan ratusan ribu orang yang hadir dalam unjuk rasa di Lapangan Hostages di Tel Aviv, Ofir Braslavaski, ayah dari dua sandera menuduh pemerintah Israel menelantarkan putra-putra mereka karena alasan politik.
Braslavaski, ayah dari sandera Rom Braslavski, mengatakan bahwa ia menyaksikan putranya semakin kurus kering, dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Video Braslavski dan sandera Evyatar David dirilis minggu lalu, menunjukkan mereka tampak kurus kering dan sangat tertekan.
“Seluruh negeri menyaksikan, semua pemimpin menyaksikan, tetapi kabinet memilih untuk memperluas perang dan meninggalkan mereka. Orang Rom, saya tidak punya waktu, para sandera tidak punya waktu,” ujar Braslavski.
Yehuda Cohen, ayah dari sandera Nimrod Cohen, menggemakan tuduhan terhadap pemerintah.
“Negara ini tidak akan kembali normal sampai para sandera dikembalikan melalui kesepakatan komprehensif dan perang berakhir. Jika pemerintahan Netanyahu tidak bersedia melakukan ini, maka mereka harus mundur dan menyerahkannya kepada orang yang lebih bertanggung jawab,” tegas Cohen.
Orang tua sandera lainnya yang berorasi pada aksi unjuk rasa tersebut, adalah Einav Zangauker. Putranya bernama Matan masih disandera di Gaza.
Setelah menyaksikan video kondisi putranya yang masih disandera, Zangauker mengatakan bahwa pemerintah telah mengubah perang yang adil ini menjadi perang tanpa akhir.
“Kita tidak memiliki pemerintahan yang layak, tetapi kita memiliki negara yang paling layak di dunia. Kita menuntut kesepakatan yang komprehensif dan diakhirinya perang. Kita menuntut apa yang pantas kita dapatkan, yaitu anak-anak kita! Dan kita akan terus menuntutnya sampai kita mendapatkannya,” tegas Zangauker.
Video aksi demonstrasi pada Minggu malam dapat dilihat di sini
Pertemuan Sengit di Jalan
Setelah berorasi, ratusan orang berbaris ke markas partai Likud di dekatnya, di mana mereka menyalakan api unggun dan bentrok dengan polisi.
Polisi menghentikan para demonstran untuk mencapai pintu masuk gedung Metzudat Ze’ev, dan video yang diunggah di media sosial menunjukkan petugas polisi saling dorong dengan keras terhadap para demonstran yang menabuh drum dan meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah.
Sepanjang hari Minggu, ketika para pengunjuk rasa memblokir jalan-jalan utama, jalan raya, dan persimpangan di hampir setiap kota di negara itu, beberapa insiden tercatat di mana para pengemudi mengkonfrontasi atau bahkan menyerang para demonstran yang menghalangi jalan mereka.
Para pejabat mengunjungi Lapangan Hostages
Mantan menteri pertahanan, Yoav Gallant mengunjungi Lapangan Hostages untuk memberikan dukungan kepada keluarga dari 50 sandera yang masih ditawan Hamas.
Di tengah aksi demonstrasi, Gallant bertemu dengan beberapa kerabat, termasuk Idit dan Kobi Ohel, orang tua dari sandera Alon Ohel.

Gallant yang dipecat oleh Netanyahu pada bulan November 2024, menuduh PM Netanyahu dan kabinetnya menolak kesepakatan gencatan senjata yang akan menyebabkan kembalinya lebih banyak sandera yang masih hidup.
Saat itu, Gallant mengatakan bahwa ia yakin dirinya dipecat, antara lain, karena desakannya untuk mengamankan pembebasan para sandera dari Gaza.
Selain itu, beberapa tokoh dan politisi penting lainnya mengunjungi lapangan tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir kepada keluarga korban, termasuk Presiden Isaac Herzog, Pemimpin Oposisi Yair Lapid, mantan Presiden Reuven Rivlin, dan Ketua Histadrut Arnon Bar-David. (rus)
