KABARIKA.ID, MAKASSAR — Saat tenggat waktu pekerjaan menumpuk, segera muncul kekhawatiran yang menghantui. Kita sering menganggap kecemasan sebagai tantangan yang murni bersifat psikologis, sesuatu yang bisa diatasi hanya dengan sedikit tekad.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, tubuh kita tidak memisahkan aspek psikologis dari fisik. Otak Anda bukanlah sebuah pulau yang terisolasi, dan kecemasan tidak hanya terperangkap di dalam kepala Anda.

Kecemasan memicu serangkaian perubahan biokimia cepat yang mengalir melalui aliran darah dan memengaruhi tubuh dengan cara yang dapat diukur.

Penelitian baru yang dilakukan oleh Lewis Fall, dosen senior fisiologi manusia di Universitas South Wales, Inggris, bersama rekan-rekannya berhasil merekam hubungan pikiran-tubuh ini secara langsung (real-time).

Dengan melibatkan sukarelawan sehat dalam uji stres laboratorium, mereka menemukan bahwa stres mental akut bertindak sebagai katalis kimiawi langsung.

Lewis Fall, dosen senior fisiologi manusia di Universitas South Wales, Inggris. (Foto: southwales.ac.uk)

“Dalam hitungan menit, stres tersebut meningkatkan produksi molekul yang sangat reaktif yang dikenal sebagai radikal bebas. Molekul-molekul ini kemudian mengubah cara terbentuknya gumpalan darah,” ujar Fall.

Dengan kata lain, stres psikologis dapat mengubah struktur darah Anda secara fisik, membuatnya lebih rentan terhadap pembekuan.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa stres kronis berdampak buruk terhadap jantung.

Berbagai studi populasi berskala besar secara konsisten mengidentifikasi stres emosional sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Namun, hal yang belum sepenuhnya jelas adalah bagaimana tepatnya emosi berubah menjadi perubahan biologis yang dapat meningkatkan risiko kardiovaskular tersebut.

Saat kita mengalami stres psikologis, keseimbangan homeostasis tubuh yang sangat presisi, yaitu sistem yang menjaga aliran darah tetap normal sekaligus siap mencegah pendarahan saat dibutuhkan, menjadi terganggu.

Darah memasuki kondisi yang disebut para ilmuwan sebagai keadaan hiperkoagulabel, yang berarti darah menjadi lebih rentan membeku.

Meski demikian, mekanisme di balik proses ini masih menjadi bahan perdebatan ilmiah.

Sebagian ahli berpendapat bahwa stres mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, sehingga memicu peradangan yang meluas.

Ahli lain menduga bahwa stres menyebabkan darah menjadi lebih pekat seiring dengan meningkatnya tekanan darah. Pendapat ini dikenal sebagai hipotesis hemokonsentrasi.

“Saya dan rekan-rekan memiliki dugaan berbeda: bahwa penyebab utamanya adalah stres oksidatif. Ini merupakan lonjakan radikal bebas yang dipicu oleh respons stres dasar tubuh, yang bertindak sebagai sakelar utama (master switch) di hulu yang secara langsung mengubah sifat struktural darah,” papar Fall.

Menguji Dampak Stres

Untuk menyelidiki pendapat ini, Fall dan timnya melakukan studi crossover terkontrol secara acak yang melibatkan delapan pria muda sehat berusia antara 18 hingga 30 tahun.

Jumlah kelompok tersebut mungkin tampak sangat kecil, namun eksperimen yang meneliti perubahan biologis pada manusia dalam kondisi laboratorium yang sangat terkontrol merupakan hal yang rumit, memakan banyak tenaga, dan berbiaya tinggi.

Alih-alih mencari tren populasi secara umum, penelitian seperti ini dirancang untuk mengungkap mekanisme dasar yang terjadi di dalam tubuh.

“Setiap peserta mengunjungi laboratorium kami dua kali dengan selang waktu satu minggu. Pada satu kunjungan, mereka duduk dengan tenang dan beristirahat. Pada kunjungan lainnya, mereka menjalani Trier social stress test (tes stres sosial Trier), yaitu standar emas dalam penelitian untuk memicu stres psikologis akut. Urutan kunjungan mereka ditentukan secara acak,” jelas Fall.

Tes ini sengaja dibuat tidak nyaman karena mencerminkan tekanan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta diberi waktu lima menit untuk menyiapkan pidato sebelum menyampaikannya di hadapan kamera dan panel juri yang memasang wajah tanpa ekspresi. Tepat sebelum mereka mulai berbicara, catatan mereka diambil.

Segera setelah itu, mereka diminta menyelesaikan tantangan berhitung mental, yaitu menghitung mundur dari angka 2003 dengan selisih 17. Setiap kali melakukan kesalahan, mereka harus mengulanginya dari awal.

Fall dan rekannya mengambil sampel darah setiap partisipan tepat sebelum dan sesudah kedua sesi tersebut.

“Untuk mengukur radikal bebas, kami menggunakan teknik yang sangat sensitif yang disebut spektroskopi resonansi paramagnetik elektron. Kami juga menganalisis struktur gumpalan darah saat terbentuk, yang memungkinkan kami mengamati bagaimana stres memengaruhi darah pada tingkat mikroskopis,” kata Fall.

Perubahan Biologis

Hasilnya sangat mencolok. Selama sesi istirahat yang tenang, komposisi kimia darah partisipan tetap stabil.

Namun, setelah uji stres, dua hal terjadi secara bersamaan: kadar radikal bebas meningkat dan struktur gumpalan darah berubah total.

Para peneliti mengamati peningkatan radikal bebas askorbat, sebagai penanda stres oksidatif bagi mereka, yang menunjukkan bahwa stres emosional dengan cepat meningkatkan stres oksidatif di dalam tubuh.

Pada saat yang sama, gumpalan darah yang terbentuk menjadi lebih besar, lebih padat, dan lebih rapat dengan fibrin, yaitu serat protein yang membentuk kerangka struktural gumpalan darah.

Para peneliti itu juga menemukan bukti bahwa stres mengaktifkan bagian dari sistem koagulasi tubuh yang dikenal sebagai jalur intrinsik.

Yang mungkin sama pentingnya, mereka tidak menemukan bukti bahwa stres mengubah viskositas atau kekentalan darah. Hal ini menantang pendapat bahwa stres terutama bekerja dengan cara memekatkan darah.

Sebaliknya, temuan mereka menunjukkan bahwa stres mengubah kualitas dan arsitektur gumpalan darah itu sendiri.

Hal ini memberikan bukti baru bahwa stres psikologis, bahkan dalam durasi singkat, dapat memicu perubahan biologis cepat yang berkaitan dengan peningkatan potensi pembekuan darah.

“Tentu saja, penelitian kami tidak berarti bahwa presentasi yang menegangkan atau hari yang berat di tempat kerja akan langsung menyebabkan serangan jantung atau stroke. Penyakit kardiovaskular jauh lebih kompleks daripada itu,” tegas Fall.

Temuan mereka memberikan petunjuk penting mengenai bagaimana stres psikologis memengaruhi tubuh, namun harus ditafsirkan dengan kehati-hatian yang tepat.

Sebab, penelitian ini hanya melibatkan delapan pria muda yang sehat, penelitian berskala lebih besar yang melibatkan wanita, Lansia, dan penderita penyakit kardiovaskular diperlukan untuk menentukan seberapa luas temuan ini dapat diterapkan.

Temuan ini juga dapat mengarah pada pendekatan baru untuk mengurangi risiko kardiovaskular. (rus)