Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika masih sebagian generasi muda memandang pertanian sebagai profesi kelas dua, para miliarder dunia justru berbondong-bondong menjadikannya investasi utama. Mereka tidak sedang mengejar romantisme pedesaan, melainkan membaca arah zaman. Di tengah ancaman krisis iklim, pertumbuhan penduduk, dan ketidakpastian geopolitik, mereka menyadari bahwa pangan adalah kekuatan baru peradaban.

Bill Gates menguasai ratusan ribu hektare lahan pertanian di Amerika Serikat dan berinvestasi pada benih tahan perubahan iklim. Mark Zuckerberg membangun peternakan modern berbasis teknologi. Jack Ma mengembangkan inovasi pertanian dan perikanan berkelanjutan. Jeff Bezos mendanai riset pangan masa depan, sementara Warren Buffett menempatkan modalnya pada pertanian yang berorientasi keberlanjutan.

Mereka memahami satu hal penting bahwa siapa yang menguasai pangan, akan memiliki masa depan.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Sesungguhnya, Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang sering kurang adalah keberanian melihat pertanian sebagai industri strategis abad ke-21.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan lahan pertanian terluas ke-15 di dunia. Luas lahan baku sawah nasional mencapai 7,46 juta hektare, membentang dari Sumatra hingga Papua dengan sentra produksi utama di Pulau Jawa. Di balik bentangan sawah itu, terdapat 15,55 juta rumah tangga usaha pertanian sebagaimana tercatat dalam Sensus Pertanian 2023. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret jutaan keluarga yang menjaga denyut kehidupan bangsa.

Indonesia juga dianugerahi kekayaan komoditas yang sulit ditandingi banyak negara. Padi, jagung, dan ubi kayu menopang ketahanan pangan nasional. Kelapa sawit menjadikan Indonesia produsen CPO terbesar di dunia. Kakao, kopi, karet, teh, rempah-rempah, hingga beragam komoditas hortikultura menjadi penyumbang devisa sekaligus menghidupi jutaan petani.

Lebih dari itu, sektor pertanian terus membuktikan dirinya sebagai bantalan ekonomi nasional. Ketika banyak sektor bergejolak, pertanian tetap berdiri kokoh melalui produksi, hilirisasi, dan ekspor nonmigas yang terus meningkat. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menunjukkan tren positif, menegaskan bahwa pertanian bukan sekadar sektor tradisional, tetapi fondasi ekonomi Indonesia.

Namun, potensi sebesar itu belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan global.

Tantangan kita bukan lagi soal kesuburan tanah, melainkan kesuburan gagasan. Pertanian masih terlalu sering dipersepsikan sebagai pekerjaan fisik, padahal kini telah bertransformasi menjadi industri berbasis inovasi. Kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), drone, sensor digital, bioteknologi, smart farming, hingga analitik data telah mengubah wajah pertanian dunia.

Karena itu, masa depan pertanian Indonesia tidak cukup hanya dengan memperluas lahan. Yang jauh lebih penting adalah memperluas cara berpikir. Anak-anak muda harus mulai melihat pertanian sebagai ruang lahirnya perusahaan rintisan, pusat inovasi, dan bisnis bernilai tinggi.

Memulai agribisnis pun tidak harus dengan ribuan hektare lahan. Pekarangan rumah, kebun hidroponik, greenhouse, pertanian vertikal, peternakan modern, atau budidaya bioflok dapat menjadi titik awal. Kuncinya adalah memilih komoditas bernilai tinggi, menerapkan teknologi, membangun rantai pasok yang efisien, dan memastikan pasar sebelum menanam.

Di sinilah Indonesia memiliki peluang emas. Bonus demografi, kemajuan teknologi digital, serta besarnya pasar domestik merupakan kombinasi yang dapat melahirkan generasi baru agropreneur Indonesia.

Jika para miliarder dunia datang ke pertanian karena melihat masa depan, maka Indonesia semestinya lebih percaya diri. Sebab kita tidak hanya memiliki modal finansial, tetapi juga modal ekologis, sosial, budaya, dan sumber daya alam yang jauh lebih kaya.

Pangan bukan hanya urusan mengenyangkan perut. Pangan adalah soal kedaulatan, martabat, dan keberlanjutan sebuah bangsa. Negara yang mampu memberi makan rakyatnya akan lebih siap menghadapi berbagai krisis global.

Sudah saatnya kita berhenti memandang pertanian sebagai sektor yang tertinggal. Justru dari sawah, kebun, peternakan, dan tambak itulah masa depan Indonesia sedang ditanam. Ketika dunia mulai berlomba menguasai pangan, Indonesia tidak boleh sekadar menjadi penonton. Kita harus tampil sebagai pemain utama yang memimpin, bukan mengikuti.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya menguasai teknologi, tetapi oleh mereka yang mampu menjamin kehidupan. Dan kehidupan selalu bermula dari pangan. (*)

Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”