Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah selalu lahir dua kali. Pertama, ketika sebuah gagasan diperjuangkan dengan keyakinan. Kedua, ketika hasilnya diakui sebagai kenyataan. Di antara dua peristiwa itulah, seorang pemimpin diuji bukan oleh tepuk tangan, melainkan oleh kemampuan mengubah cita-cita menjadi fakta.

Hari ini, Indonesia sedang menyaksikan lahirnya salah satu babak penting dalam sejarah pangannya. Swasembada pangan tidak lagi hanya menjadi slogan yang berulang setiap pergantian pemerintahan, melainkan mulai menjelma menjadi kenyataan yang dapat diukur melalui peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan, stabilitas harga, serta berkurangnya ketergantungan pada impor berbagai komoditas strategis.

Di balik perubahan itu, terdapat kepemimpinan yang bekerja dengan orientasi hasil, disiplin eksekusi, dan keberanian mengambil keputusan. Nama itu adalah Andi Amran Sulaiman.
Ia memimpin bukan sekadar dengan instruksi, tetapi dengan sebuah paradigma bahwa pertanian adalah fondasi kedaulatan bangsa. Sebab sebuah negara mungkin mampu membeli senjata, membangun gedung pencakar langit, bahkan menguasai teknologi tinggi. Namun tanpa pangan, seluruh kemajuan itu dapat runtuh dalam hitungan hari.
Karena itulah, pembangunan pertanian sesungguhnya adalah pembangunan peradaban.

Keberhasilan swasembada tidak lahir secara kebetulan. Ia merupakan hasil dari kerja yang sistematis. Modernisasi alat dan mesin pertanian diperluas. Irigasi diperbaiki. Benih unggul diperbanyak. Distribusi pupuk terus dibenahi. Pendampingan petani diperkuat. Digitalisasi pelayanan pertanian mulai diterapkan. Pengawasan terhadap berbagai program dilakukan lebih ketat agar setiap rupiah anggaran benar-benar menghasilkan peningkatan produksi.

Orientasi birokrasi di Kementerian Pertanian Republik Indonesia pun mengalami perubahan mendasar. Ukuran keberhasilan tidak lagi berhenti pada banyaknya program yang dilaksanakan, melainkan pada dampak nyata yang dirasakan petani dan masyarakat. Kultur kerja bergeser dari administratif menuju produktif; dari rutinitas menuju inovasi; dari sekadar menyelesaikan pekerjaan menuju menghasilkan perubahan.

Transformasi kepemimpinan inilah yang menjadikan kementerian bergerak sebagai organisasi pembelajar yang adaptif terhadap tantangan zaman.
Di tengah perubahan iklim global, gangguan rantai pasok, konflik geopolitik, hingga ancaman krisis pangan dunia, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang semakin menguat. Ketika banyak negara menghadapi tekanan pangan, Indonesia mampu memperkuat produksi domestik sebagai benteng utama.

Keberhasilan tersebut tidak luput dari perhatian dunia. Food and Agriculture Organization bersama berbagai lembaga internasional berulang kali menyoroti pentingnya penguatan sistem pangan nasional sebagai bagian dari ketahanan global. Berbagai organisasi profesi, akademisi, komunitas pertanian, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah memberikan apresiasi terhadap berbagai langkah transformasi sektor pertanian yang dinilai berhasil memperkuat optimisme menuju kemandirian pangan.

Di dalam negeri, penghargaan demi penghargaan diberikan kepada Menteri Pertanian sebagai bentuk pengakuan atas kepemimpinan yang menghasilkan perubahan nyata. Namun sesungguhnya, penghargaan tertinggi bukanlah medali ataupun piagam.

Penghargaan terbesar adalah ketika petani kembali percaya bahwa sawah mereka memiliki masa depan.
Ketika anak-anak muda mulai melihat pertanian sebagai profesi yang bermartabat.

Ketika harga pangan stabil sehingga masyarakat kecil dapat hidup lebih tenang.

Ketika desa kembali menjadi pusat produksi, bukan sekadar tempat yang ditinggalkan.

Semua itu adalah penghargaan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar seremoni.

Namun perjalanan ini belum selesai.
Swasembada bukanlah garis akhir. Ia adalah pintu masuk menuju cita-cita yang lebih besar: menjadikan Indonesia sebagai superpower pangan dunia.
Untuk mencapainya, seluruh kekuatan bangsa harus bergerak bersama. Negara perlu menjaga konsistensi kebijakan lintas pemerintahan sehingga pembangunan pertanian tidak bergantung pada pergantian kepemimpinan. Dunia pendidikan harus melahirkan inovasi teknologi yang menjawab kebutuhan petani. Dunia usaha perlu memperkuat investasi di sektor hilir agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri. Organisasi profesi, komunitas, media massa, dan masyarakat sipil harus terus membangun optimisme serta budaya mencintai produk pertanian nasional.

Sementara itu, rakyat memiliki peran yang tidak kalah penting: menghargai petani, mengurangi pemborosan pangan, mencintai hasil bumi sendiri, dan menjadikan ketahanan pangan sebagai gerakan bersama, bukan semata urusan pemerintah.

Indonesia memiliki hampir seluruh prasyarat untuk menjadi lumbung pangan dunia: tanah yang subur, sinar matahari sepanjang tahun, keanekaragaman hayati, sumber daya manusia yang melimpah, dan pasar domestik yang besar. Yang diperlukan adalah kesinambungan kepemimpinan, konsistensi kebijakan, inovasi berkelanjutan, serta semangat kolektif seluruh anak bangsa.

Sejarah membuktikan bahwa bangsa besar tidak dibangun hanya oleh mereka yang pandai berpidato, tetapi oleh mereka yang mampu memastikan rakyatnya tidak kelaparan.
Karena itu, keberhasilan membangun swasembada pangan patut dijaga sebagai agenda nasional. Ia harus melampaui kepentingan politik, melampaui siklus kekuasaan, dan menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.

Kelak, jika Indonesia benar-benar berdiri sebagai superpower pangan dunia, sejarah mungkin akan mencatat bahwa perubahan besar itu bermula dari keberanian menjadikan pertanian sebagai prioritas utama pembangunan bangsa. Dan setiap sejarah besar selalu dimulai dari satu keyakinan sederhana: bahwa kedaulatan pangan adalah kedaulatan negara. (*)
__________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.