Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pergantian kepemimpinan di tubuh Badan Usaha Milik Negara sektor perkebunan menjadi salah satu momen penting yang patut dibaca dalam perspektif lebih luas. Ketika Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU., ASEAN Eng. yang akrab disapa Bro Rivai, resmi dipercaya sebagai Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya target produksi atau laporan keuangan. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan menghadirkan kepemimpinan yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang, serta mengubah potensi menjadi prestasi.

Di era ketika ketahanan pangan menjadi isu strategis dunia, perusahaan perkebunan negara tidak lagi hanya mengurus pohon-pohon yang tumbuh di hamparan kebun. Ia mengelola masa depan bangsa. Sawit, tebu, karet, kopi, teh, dan berbagai komoditas lainnya kini menjadi bagian dari geopolitik ekonomi global. Karena itu, memimpin PTPN I berarti memimpin salah satu simpul penting kedaulatan ekonomi Indonesia.

Bro Rivai datang bukan dari ruang kosong. Ia membawa bekal panjang yang ditempa oleh disiplin militer, kecermatan akademik, dan pengalaman birokrasi strategis. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati dibangun melalui proses yang panjang, bukan melalui jalan pintas.

Lulusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Hasanuddin ini kemudian memperluas cakrawala intelektualnya melalui tiga program magister di bidang Manajemen Strategis, Kajian Strategis Ketahanan Nasional, dan Ilmu Politik Hubungan Internasional, sebelum meraih gelar doktor di bidang Politik Kebijakan Pertahanan dari Universitas Indonesia. Deretan gelar tersebut bukan sekadar simbol akademik, melainkan cermin dari semangat belajar yang tidak pernah berhenti.

Lebih dari itu, rekam jejaknya menunjukkan kemampuan memadukan teori dengan praktik. Sebagai Perwira Tinggi TNI Angkatan Laut, salah seorang pelopor berdirinya Universitas Pertahanan RI, Staf Ahli Bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman di Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, hingga Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Laut, Bro Rivai telah terbiasa bekerja dalam lingkungan yang menuntut presisi, integritas, dan keputusan strategis.

Kini pengalaman tersebut memasuki ruang yang berbeda: dunia korporasi perkebunan.

Transformasi BUMN saat ini tidak lagi cukup diukur melalui efisiensi semata. Dunia menuntut keberlanjutan, inovasi, tata kelola yang baik (good corporate governance), digitalisasi, dan kemampuan membangun nilai tambah. Di sinilah tantangan terbesar seorang direktur utama sesungguhnya berada.

Pernyataan Bro Rivai bahwa fokusnya adalah memperkuat integrasi, meningkatkan produktivitas komoditas, serta memastikan penerapan prinsip keberlanjutan dan tata kelola perusahaan yang baik, menunjukkan arah kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kepemimpinan modern bukan lagi soal mengendalikan organisasi, melainkan mengorkestrasi seluruh sumber daya agar bergerak dalam satu irama menuju tujuan bersama.

Namun, sehebat apa pun seorang pemimpin, keberhasilan tidak pernah lahir dari kerja seorang diri. Organisasi besar dibangun oleh kolaborasi. Kepemimpinan terbaik adalah kepemimpinan yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru di setiap lini, membangun budaya kerja yang sehat, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi.

BUMN perkebunan sesungguhnya menyimpan potensi luar biasa. Selain sebagai penggerak ekonomi nasional, sektor ini juga menyangkut kesejahteraan jutaan petani, pekerja, masyarakat sekitar kebun, hingga stabilitas pasokan bahan baku industri. Karena itu, setiap keputusan yang lahir dari ruang direksi akan bergema jauh hingga ke pelosok desa.

Kepemimpinan yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar pemimpin yang pandai membuat keputusan, melainkan pemimpin yang mampu menghadirkan harapan. Harapan bahwa produktivitas dapat tumbuh tanpa mengorbankan lingkungan. Harapan bahwa keuntungan perusahaan dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat. Harapan bahwa perusahaan negara benar-benar menjadi milik rakyat, bukan sekadar milik negara.

Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu berpikir strategis sekaligus bertindak adaptif. Sosok dengan disiplin tinggi, wawasan luas, dan keberanian mengambil keputusan menjadi modal penting untuk membawa perusahaan-perusahaan negara tetap kompetitif.

Penunjukan Bro Rivai sebagai Direktur Utama PTPN I tentu bukan garis akhir, melainkan garis start. Amanah ini akan menemukan maknanya bukan pada hari pelantikan, melainkan pada jejak perubahan yang ditinggalkan. Sebab sejarah tidak pernah mengingat siapa yang pertama kali duduk di kursi kepemimpinan, tetapi selalu mengingat siapa yang berhasil membawa organisasi melampaui zamannya.

Di situlah hakikat estafet kepemimpinan.  Bukan sekadar meneruskan perjalanan, melainkan memastikan setiap langkah berikutnya membawa manfaat yang lebih besar bagi bangsa. (*)

Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.