KABARIKA.ID, SEMARANG – Adriano Jeconia Padama atau akrab disapa Dede, mahasiswa baru Program Studi S1 Hubungan Internasional (HI) Universitas Diponegoro (UNDIP), kembali ke kampus setelah empat hari berada di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), bersama rombongan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dede sebelumnya menjadi perhatian setelah menyampaikan langsung persoalan tingginya harga beras yang dirasakan masyarakat di daerah asalnya kepada Mentan saat Kuliah Umum Penerimaan Mahasiswa Baru UNDIP Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (6/8).

Usai menyampaikan aspirasi tersebut, Dede kemudian ikut mendampingi Mentan meninjau kondisi masyarakat dan sektor pertanian di Alor.

Setelah empat hari di Alor, Dede kembali ke UNDIP pada Senin sore. Ia diantar Pimpinan Wilayah Bulog Jawa Tengah Sri Muniati bersama rombongan.

Kedatangannya disambut Rektor UNDIP Prof Dr Suharmono SE MSi beserta jajaran di Ruang Sidang Rektor, Gedung Widya Puraya.

Dalam kesempatan itu, Dede menceritakan pengalamannya selama berada di Alor bersama Mentan.

Menurut Dede, pemerintah langsung mengambil sejumlah langkah untuk memastikan ketersediaan pangan masyarakat Alor.

“Kemarin setelah saya ke Alor bersama Bapak Menteri, pemerintah langsung memberikan penyaluran bantuan pangan alokasi tiga bulan di Alor, sekaligus menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak untuk menekan dan mengendalikan kenaikan harga beras,” kata Dede.

Selain itu, dua gudang Bulog di Alor kini telah dipenuhi pasokan beras. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia.

Dede mengatakan perhatian pemerintah terhadap Alor tidak hanya menyasar persoalan harga dan pasokan beras dalam jangka pendek.

Pemerintah juga melihat persoalan pertanian yang dihadapi masyarakat untuk ditangani dalam jangka panjang.

Dalam kunjungan ke sejumlah wilayah, termasuk desa-desa terpencil, pemerintah menyiapkan bantuan sarana dan prasarana produksi pertanian.

“Setelah peninjauan langsung hingga ke desa terpencil, pemerintah juga akan memberikan berbagai bantuan sarana dan prasarana produksi tani, mulai dari traktor roda dua dan roda empat, 20 unit pompa air, hingga rencana pembangunan sumur bor untuk mengatasi kendala irigasi,” ujarnya.

Selain alat dan infrastruktur pertanian, pemerintah juga memberikan bantuan bibit unggul. Di antaranya bibit padi dan kelapa serta pengembangan bibit kakao.

Bantuan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi petani lokal sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.

Menurut Dede, penguatan sektor pertanian juga diharapkan menjadi bagian dari upaya mengentaskan kemiskinan di Alor secara berkelanjutan.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momentum evaluasi bagi Bulog untuk memberikan perhatian lebih terhadap wilayah 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terluar.

Perjalanan Dede tidak berhenti pada pengalaman mendampingi Mentan ke Alor.

Rektor UNDIP Prof Dr Suharmono mengapresiasi keberanian mahasiswa barunya tersebut dalam menyampaikan persoalan masyarakat kepada pengambil kebijakan.

Menurut Suharmono, Dede telah menunjukkan kepedulian terhadap daerah asalnya meski baru memulai perjalanan sebagai mahasiswa.

“Saya bangga karena ada mahasiswa UNDIP yang meski baru memulai perjalanan sebagai mahasiswa, Dede telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat di daerah asalnya dan berani menyampaikan persoalan tersebut kepada pengambil kebijakan hingga membawa perubahan baik untuk masyarakat,” kata Suharmono.

Ia menilai langkah Dede sejalan dengan nilai yang ingin dibangun UNDIP, yakni UNDIP Bermartabat dan UNDIP Bermanfaat.

Sebagai bentuk penghargaan, UNDIP memberikan beasiswa kepada Dede untuk melanjutkan pendidikan melalui program double degree setelah menyelesaikan studi S1 HI.

“Sebagai bentuk penghargaan, maka UNDIP memberikan beasiswa kepada Adriano untuk bisa berkuliah double degree di Magister Administrasi Publik dan MA in Politic, Governance & Public Policy di Sheffield University Inggris selepas ia menyelesaikan program S1 HI,” ujarnya.

Dalam program tersebut, Dede nantinya akan menjalani pendidikan selama satu tahun di UNDIP dan satu tahun di Inggris.

Nama Adriano Jeconia Padama mencuat setelah videonya saat menyampaikan persoalan harga beras di Alor viral di media sosial dan diberitakan sejumlah media.

Sebagai mahasiswa baru S1 HI FISIP UNDIP, Dede menyampaikan kondisi yang dirasakan masyarakat di kampung halamannya langsung di hadapan Mentan.

Aspirasi tersebut kemudian berlanjut menjadi kunjungan langsung ke Alor.

Dede tidak hanya menyampaikan keluhan masyarakat, tetapi juga ikut melihat kondisi di lapangan bersama Mentan dan rombongan pemerintah.

Dari kunjungan tersebut, sejumlah langkah penanganan pangan dan pertanian kemudian disiapkan pemerintah.

Rektor UNDIP menilai keberanian seperti yang ditunjukkan Dede penting dimiliki generasi muda.

Namun, keberanian menyampaikan pendapat, kata dia, harus tetap dilakukan secara santun, bertanggung jawab, serta berdasarkan kondisi nyata.

Terlebih jika keberanian tersebut digunakan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Kisah Dede menjadi gambaran bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kepekaan terhadap persoalan di sekitar, keberanian menyampaikan gagasan, hingga kemampuan mendorong solusi juga menjadi bagian dari proses pendidikan.

Dari Alor, Dede datang ke UNDIP untuk memulai kuliah. Ia kemudian menyampaikan persoalan harga beras kepada Mentan, kembali ke daerah asalnya bersama rombongan pemerintah, dan kini pulang ke kampus membawa pengalaman sekaligus kesempatan melanjutkan pendidikan hingga ke Inggris.

Perjalanan tersebut menjadi contoh semangat UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat, yakni membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)