KABARIKA.ID, MAKASSAR — Salah satu jenis plastik yang paling umum digunakan di dunia, yang terdapat pada kemasan makanan, plastik pembungkus, wadah penyimpanan, dan gelas minuman untuk dibawa pulang, terbukti turut berperan dalam meningkatkan risiko penyakit perlemakan hati (fatty liver disease).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagaimana telah diketahui, penyakit ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1980.
Namun, para dokter telah mengetahui sejak abad ke-19 bahwa infiltrasi lemak pada hati memiliki kaitan dengan pola makan, jauh sebelum penelitian formal mengenai hal ini dimulai.
Sebuah penelitian baru pada tikus menunjukkan bahwa kemudahan dalam pola makan modern mungkin turut memperparah masalah ini.
Seseorang sering kali tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit perlemakan hati (jenis non-alkohol) hingga penyakit tersebut terdeteksi secara tidak sengaja saat mereka menjalani pemindaian untuk kondisi kesehatan lainnya.
Ketika gejala muncul, penderita mungkin mengalami kelelahan, merasa tidak enak badan secara umum, serta merasakan ketidaknyamanan di bawah tulang rusuk bagian kanan.
Penumpukan lemak berlebih di dalam sel-sel hati pada akhirnya dapat menyebabkan peradangan, kemudian fibrosis (penumpukan jaringan parut), dan bahkan sirosis (kerusakan hati yang serius) jika tidak ditangani.
Orang yang memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit perlemakan hati adalah mereka yang memiliki kelebihan berat badan, terutama di area perut.
Faktor risiko lainnya meliputi kadar lemak darah yang tinggi (kolesterol LDL atau trigliserida), diabetes tipe 2 atau prediabetes, serta tekanan darah tinggi.
Semua faktor risiko ini berkaitan dengan makanan dan metabolisme. Namun, sebuah studi baru pada tikus menunjukkan adanya aspek penting dalam pola makan manusia yang selama ini terabaikan: paparan mikroplastik, khususnya polietilena.
Polietilena merupakan salah satu jenis plastik yang paling penting untuk kemudahan konsumsi makanan: bahan ini digunakan untuk membungkus makanan yang dibawa pulang (takeaway), melapisi sisa makanan (cling-wrap), dan mencegah gelas sekali pakai hancur atau larut saat digenggam.
Selain itu, dibandingkan dengan banyak polimer lainnya, polietilena cenderung dianggap kurang mengkhawatirkan.
“Belum ada studi yang benar-benar meneliti dampak polietilena terhadap kesehatan hati, padahal ini adalah jenis plastik yang paling banyak diproduksi,” jelas ahli farmakologi molekuler, Aditya (Adi) Joshi, Ph.D. dari Texas A&M University.
“Kini kita mengetahui bahwa mikroplastik ini, khususnya polietilena, memengaruhi mekanisme pertahanan dan perbaikan alami hati kita,” lanjut Joshi.

Penelitian yang dilakukan Joshi dan rekan-rekannya, yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances, didasarkan pada eksperimen terhadap tikus.
Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memastikan apakah polietilena memiliki dampak yang sama atau serupa pada hati manusia.
Meskipun jumlah sampel tikus yang digunakan tergolong kecil, dampak yang diamati tetaplah mengkhawatirkan.
Sebanyak 20 ekor tikus jantan dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok 1 dan 2 diberi pakan standar laboratorium, sedangkan kelompok 3 dan 4 diberi pola makan tinggi lemak, tinggi gula, dan tinggi kolesterol yang diketahui dapat menyebabkan metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH), istilah medis untuk jenis penyakit perlemakan hati ini.
Para ilmuwan juga memberikan dosis air yang mengandung dua miligram partikel polietilena, dengan diameter antara 10 hingga 150 nanometer, setiap hari kepada tikus-tikus dalam kelompok 2 dan 4.
Perlakuan ini berlangsung selama delapan minggu. Kemudian, tikus-tikus tersebut dieutanasia, dan serum darah serta hati mereka diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa polietilena mikroskopis dapat memicu tanda-tanda penyakit perlemakan hati, bahkan pada tikus dengan pola makan standar.
Seperti yang diperkirakan, kedua kelompok tikus yang diberi pola makan MASH menunjukkan skor tanda-tanda penyakit perlemakan hati yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang diberi pakan standar.
Namun, terlepas dari pola makannya, penambahan mikroplastik tampaknya memperparah kondisi tersebut, bahkan pada tikus yang mengonsumsi makanan yang relatif sehat.
Kadar ALT (enzim yang menjadi indikator kesehatan hati yang buruk) dan trigliserida hati ditemukan lebih tinggi pada kedua kelompok yang makanannya mengandung mikroplastik dibandingkan pada hewan yang diberi pola makan serupa tanpa polietilena.
Hal yang sama juga terjadi pada peradangan dan pembengkakan (ballooning) sel hati, serta steatosis (penumpukan lemak di hati).
Dengan menggunakan teknik transkriptomik spasial pada sampel hati tikus, Joshi dan rekan-rekannya meneliti tingkat pembacaan genetik untuk protein yang diproduksi sebagai respons terhadap keberadaan mikroplastik.
Gen yang mengodekan protein PPAR-alpha (yang mengatur produksi lemak hati) dan Annexin A2 (yang berperan dalam perbaikan jaringan hati) sama-sama menunjukkan aktivitas berlebih pada hati yang terpapar mikroplastik.
Artikel lengkap hasil penelitian ini telah dimuat di jurnal Science Advances dengan judul, Spatial transcriptome mapping identifies Ppara-Anxa2 cross-talk in microplastic-induced hepatotoxicity, yang terbit baru-baru ini, selengkapnya dapat diakses di sini.
Penelitian dengan ukuran sampel yang lebih besar tentu diperlukan, namun berdasarkan data yang ada saat ini, tampaknya mikroplastik polietilena dan pola makan yang buruk sama-sama berkontribusi terhadap perkembangan penyakit perlemakan hati, terutama ketika keduanya terjadi secara bersamaan, seperti yang sering terjadi.
“Mereka yang menjalani pola makan ala Barat, termasuk mengonsumsi makanan seperti burger dan minuman bersoda, mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit perlemakan hati jika mereka juga terpapar polietilena,” tandas Joshi. (rus)
