KABARIKA.ID, SIDRAP — Sawah tadah hujan di kawasan pegunungan tak menghalangi petani Desa Bulo Wattang, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, menghasilkan panen dengan produktivitas tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari hasil ubinan, lahan persawahan tersebut mampu mencapai 7 hingga 8 ton gabah per hektare, meski memiliki keterbatasan jaringan irigasi.
Kuncinya ada pada sumber air alternatif.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyebut keberadaan sumur bor dan jaringan listrik yang telah masuk ke areal persawahan membantu petani menjaga ketersediaan air hingga tanaman padi memasuki masa panen.
“Walaupun sawah kita merupakan sawah tadah hujan, kita masih bisa panen karena sudah ada sumur bor dan listrik yang masuk ke sawah,” ujar Syaharuddin saat menghadiri panen padi di Desa Bulo Wattang, Rabu (23/9/2026).
Lahan yang dipanen Bupati Sidrap tersebut memiliki luas sekitar 0,23 hektare.
Dengan produktivitas 7-8 ton gabah per hektare, lahan itu berpotensi menghasilkan sekitar 1,61 hingga 1,84 ton gabah.
Potensi produksi tersebut menjadi menarik karena lahan berada di kawasan pegunungan dan mengandalkan sistem tadah hujan.
Kondisi itu membuat ketersediaan air menjadi salah satu tantangan dalam budidaya padi.
Namun, keberadaan sumur bor menjadi salah satu sumber air yang dapat dimanfaatkan petani ketika kebutuhan air tanaman tidak sepenuhnya dapat mengandalkan curah hujan.
Jaringan listrik yang sudah tersedia di kawasan persawahan juga turut mendukung operasional fasilitas penyediaan air tersebut.
Gabah Dijual Rp7.600 per Kilogram
Dari sisi ekonomi, produktivitas tersebut juga memberikan nilai produksi yang cukup besar meski berasal dari lahan yang relatif kecil.
Dengan asumsi harga jual gabah Rp7.600 per kilogram, potensi produksi 1,61-1,84 ton tersebut memiliki nilai kotor sekitar Rp12,2 juta hingga Rp14 juta.
Perhitungan tersebut masih merupakan nilai produksi sebelum dikurangi berbagai biaya yang dikeluarkan petani selama proses budidaya.
Biaya tersebut antara lain pembelian benih dan pupuk, pengolahan lahan, tenaga kerja, penggunaan mesin panen, hingga operasional sumur bor.
Syaharuddin juga menyampaikan gambaran hasil panen di lokasi tersebut. Menurutnya, satu karung gabah memiliki berat sekitar 149 kilogram.
Dengan harga Rp7.600 per kilogram, satu karung gabah tersebut bernilai sekitar Rp1,13 juta sebelum dikurangi biaya produksi.
Sumur Bor Bantu Sawah Tadah Hujan
Syaharuddin menilai keterbatasan jaringan irigasi tidak harus menjadi penghalang bagi petani untuk tetap mengusahakan lahan pertanian.
Menurut dia, pemanfaatan sumber air alternatif dapat menjadi salah satu cara mempertahankan produktivitas sawah, khususnya di wilayah yang belum terjangkau jaringan irigasi secara optimal.
Panen di Desa Bulo Wattang menjadi salah satu gambaran pemanfaatan infrastruktur pendukung pertanian di wilayah pegunungan. Sumur bor menyediakan sumber air, sedangkan jaringan listrik membantu pengoperasian fasilitas tersebut.
Dengan dukungan itu, lahan tadah hujan tetap dapat dimanfaatkan untuk produksi padi meski kondisi geografis dan sistem pengairannya berbeda dengan sawah beririgasi.
Panen di Desa Bulo Wattang
Syaharuddin menghadiri panen padi tersebut pada Rabu (23/9/2026). Ia tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 Wita.
Desa Bulo Wattang berjarak sekitar 14 kilometer dari Rumah Jabatan Bupati Sidrap di Jalan Lanto Dg Pasewang, Kelurahan Pangkajene, Kecamatan Maritengngae. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan.
Berdasarkan data BPS, Desa Bulo Wattang memiliki jumlah penduduk sekitar 1.280 jiwa.
Kegiatan panen berlangsung di areal persawahan tadah hujan yang berada di kawasan pegunungan. Hasil ubinan menunjukkan produktivitas lahan mencapai sekitar 7-8 ton gabah per hektare.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pemdes PPA Andi Surya Praja Hadiningrat, Camat Panca Rijang Faradilla Bakry, serta para kepala desa se-Kecamatan Panca Rijang. (*)
