Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada pemandangan yang menarik untuk direnungkan menjelang peringatan Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-81, 5 Oktober 2026. Kita mengenal tentara dengan seragam, senjata, barisan dan disiplin. Tetapi hari ini, di sejumlah wilayah, kita juga menemukan mereka di antara lumpur sawah, saluran irigasi, pompa air dan hamparan tanaman pangan. Di sana, perjuangan mempertahankan negara menemukan wajah yang lain yakni menjaga agar dapur rakyat tetap mengepul dan meja makan tidak kehilangan nasi.

Keterlibatan TNI dalam pangan bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari dukungan terhadap program strategis nasional. Melalui Gugus Tugas Kedaulatan Pangan TNI, institusi pertahanan melakukan percepatan, pengawasan dan pendampingan program ketahanan pangan di berbagai wilayah. Pusat Penerangan TNI pada 24 Juli 2025 menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan tugas TNI dalam membantu pemerintahan daerah, termasuk dalam menciptakan kedaulatan pangan nasional.

Mengapa pangan membutuhkan perhatian sebesar itu? Karena sebuah negara dapat memiliki pertahanan yang kuat, tetapi tetap rapuh apabila rakyatnya kesulitan memperoleh pangan. Kedaulatan sesungguhnya tidak hanya berdiri di perbatasan, tetapi juga tumbuh dari sawah, ladang, tambak, kebun, peternakan dan seluruh ruang produksi yang menghidupi masyarakat. Karena itu, ketika tentara ikut menjaga produktivitas pangan, sesungguhnya mereka sedang ikut menjaga salah satu fondasi paling dasar dari ketahanan nasional.

Data BPS menunjukkan alasan mengapa optimisme sekaligus kewaspadaan perlu dijaga. Pada 2025, luas panen padi Indonesia mencapai sekitar 11,32 juta hektare, dengan produksi 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG) dan produksi beras untuk konsumsi sekitar 34,69 juta ton. Dibandingkan 2024, produksi beras meningkat sekitar 13,29 persen.

Namun pangan tidak boleh dibaca hanya dari angka produksi tahunan. Pada 2026, data BPS memperlihatkan produksi padi tetap bergerak dinamis dari bulan ke bulan: Januari hingga Juli 2026 tercatat sekitar 24,36 juta ton GKG, dengan angka Juli sekitar 4,75 juta ton dan sebagian data 2026 masih bersifat sementara. Ini mengingatkan kita bahwa swasembada bukan sebuah garis finis, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan air, benih, teknologi, infrastruktur, petani yang sejahtera dan kebijakan yang konsisten.

Di sinilah peran lintas matra TNI menjadi menarik. TNI Angkatan Darat diarahkan pada pengawalan peningkatan produksi padi, termasuk cetak sawah, pompanisasi dan optimalisasi lahan. TNI Angkatan Laut mendampingi pengembangan kedelai, sementara TNI Angkatan Udara ikut mengawal komoditas strategis tebu. Ketiganya seperti tiga tangan yang bekerja pada ruang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: memperkuat fondasi pangan Indonesia.

Ada makna simbolik yang dalam di balik pembagian itu. Darat bekerja dengan sawah dan tanah, laut bekerja dengan ruang kehidupan yang luas dan kebutuhan komoditas pangan, sementara udara menjadi bagian dari pengawasan dan dukungan terhadap komoditas strategis. Tentara tidak hanya menjaga wilayah tempat bangsa ini berdiri, tetapi juga membantu memastikan wilayah itu mampu menghasilkan sesuatu yang membuat rakyat tetap hidup.

Tetapi ada satu prinsip yang harus dijaga bahwa tentara mendampingi, bukan menggantikan petani. Petani tetap pemilik pengetahuan, pengalaman dan ruang produksinya; TNI hadir sebagai penguat koordinasi, disiplin, tenaga pendukung dan akselerasi program pemerintah. Prinsip ini penting agar keterlibatan institusi pertahanan justru memperkuat posisi petani, bukan membuat petani kehilangan ruang dalam menentukan masa depan lahannya.

Karena itu, bentuk pendampingan yang paling bermakna bukan hanya turun ke sawah saat tanam atau panen. TNI bersama kementerian terkait dan pemerintah daerah dapat membantu mempercepat perbaikan irigasi, pompanisasi, penyediaan air, pembukaan akses produksi serta penguatan ekonomi desa. Di tingkat hilir, kerja sama dengan koperasi, Bulog dan Badan Pangan Nasional perlu diarahkan agar hasil produksi mempunyai kepastian pasar dan harga yang layak bagi petani.

Data Bapanas pada Juli 2026 bahkan menunjukkan bahwa Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai sekitar 5,17 juta ton per 1 Juli 2026, sementara pemerintah menyatakan swasembada pangan yang dicapai pada akhir 2025 menjadi pijakan untuk mempertahankannya sepanjang 2026. Angka itu tentu patut disyukuri, tetapi tidak boleh membuat kita lengah. Sebab ketahanan pangan yang sesungguhnya bukan hanya soal berapa banyak beras tersimpan di gudang, melainkan seberapa kuat kemampuan petani menghasilkan pangan secara berkelanjutan.

Maka, menjelang Hari TNI ke-81, kita layak melihat tentara dengan perspektif yang lebih luas. Ada saat ketika tugas mempertahankan bangsa berarti berdiri di garis depan menghadapi ancaman bersenjata; ada pula saat ketika perjuangan itu berarti berdiri di pematang sawah bersama petani. Dalam konteks pangan, peluh yang jatuh dari dahi petani dan keringat prajurit yang membantu mengalirkan air ke sawah sama-sama mengandung makna pengabdian.

Tentu masih banyak pekerjaan rumah. Pemerintah perlu memastikan pendampingan TNI berjalan terukur, transparan dan berbasis kebutuhan daerah; data lahan harus akurat, infrastruktur air harus dipelihara, produktivitas harus ditingkatkan melalui teknologi dan penyuluhan, sementara kesejahteraan petani harus menjadi indikator utama keberhasilan. TNI dapat menjadi kekuatan akselerator, tetapi ekosistem pangan tetap harus dibangun bersama oleh petani, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, koperasi dan masyarakat.

Pada akhirnya, kedaulatan pangan adalah tentang kemandirian sebuah bangsa untuk memberi makan dirinya sendiri. Ia bukan hanya persoalan sawah yang menghijau, melainkan tentang anak-anak yang tumbuh sehat, ibu yang dapat memasak tanpa cemas, petani yang hidup layak dan negara yang tidak mudah terguncang ketika dunia mengalami krisis pangan. Dari sana kita memahami bahwa pertahanan yang paling dekat dengan kehidupan rakyat terkadang bukan dentuman senjata, melainkan suara air yang mengalir ke sawah dan suara bulir padi yang jatuh ke lumbung.

Hari TNI ke-81 kiranya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa membela Indonesia memiliki banyak bentuk. Ada yang menjaga batas negara, ada yang menjaga keamanan, ada yang menjaga sawah, dan ada pula yang menulis agar bangsa ini tidak kehilangan kesadaran tentang arti perjuangan. Jika seragam hijau dapat hadir di tengah hijau tanaman padi, mungkin itu adalah pesan sederhana bahwa menjaga negeri bukan hanya menjaga tanahnya, tetapi juga menjaga kehidupan yang tumbuh di atasnya.

Tanah mengajarkan manusia tentang kerendahan hati. Ia menerima benih tanpa banyak bicara, memberi kehidupan tanpa meminta pujian, lalu menyerahkan hasilnya kepada manusia. Begitu pula pengabdian,  semakin tulus seseorang bekerja untuk negeri, semakin sedikit ia membutuhkan panggung untuk mengatakan bahwa dirinya telah berjasa.

Kedaulatan pangan bukan hanya tentang bangsa yang mampu menghasilkan makanan, tetapi tentang manusia yang mampu menjaga amanah kehidupan tanpa kehilangan rasa syukur kepada Sang Pemberi kehidupan.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.