KABARIKA.ID, KENDARI– Harga cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang ikut memberikan tekanan terhadap perkembangan inflasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada September 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sultra mencatat inflasi Sultra secara tahunan atau year on year (y-on-y) pada September 2026 mencapai 4,17 persen. Sementara secara bulanan atau month to month (m-to-m), inflasi tercatat sebesar 0,53 persen.
Kepala BPS Provinsi Sultra, Hadi Susanto, mengatakan pergerakan harga sejumlah komoditas pangan menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan inflasi daerah, termasuk cabai rawit.
“Pergerakan harga komoditas pangan, termasuk cabai rawit, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena perubahan harganya dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan inflasi,” kata Hadi.
Menurutnya, perkembangan harga pangan perlu terus dipantau karena komoditas tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan konsumsi masyarakat sehari-hari.
Pada September 2026, inflasi tertinggi di Sultra tercatat terjadi di Kabupaten Kolaka dengan angka 4,42 persen.
Selain perkembangan harga, BPS juga mencatat sejumlah indikator ekonomi lainnya. Nilai Tukar Petani (NTP) Sultra pada September 2026 mencapai 115,56 atau meningkat 2,16 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada angka 113,12.
Dari sektor perdagangan, nilai ekspor Sultra pada Agustus 2026 mencapai US$342,86 juta atau meningkat 23,13 persen dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$278,46 juta.
Sementara nilai impor mencapai US$318,86 juta atau mengalami peningkatan 212,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hadi menegaskan, perkembangan indikator ekonomi tersebut menjadi gambaran kondisi perekonomian Suktra secara keseluruhan.
“Data yang kami sampaikan ini diharapkan dapat menjadi gambaran bagi pemerintah maupun masyarakat dalam melihat perkembangan ekonomi Sultra,” ujarnya. (*)
