KABARIKA.ID, BERLIN — Umat manusia bisa punah pada tahun 2100 akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara jahat atau konflik nuklir, menurut sebuah penilaian risiko global yang baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua hal tersebut menempati urutan teratas dalam daftar 17 ancaman utama terhadap kesehatan manusia selama 75 tahun ke depan. Daftar tersebut juga mencakup pemangkasan anggaran bantuan oleh negara-negara kaya, krisis iklim, dan malnutrisi pada anak-anak.

Para ahli di balik Komisi Lancet mengenai Ancaman Kesehatan Global Abad ke-21 menyatakan bahwa semua ancaman tersebut saling berkaitan, yang berarti penanganannya harus dilakukan secara bersamaan, namun mereka menegaskan adanya jalan realistis untuk bertindak dalam menghadapi setiap ancaman tersebut.

“Keputusan yang diambil oleh para pemimpin saat ini akan menentukan kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang,” ujar Prof. Christopher Murray, ketua bersama Komisi Lancet sekaligus direktur Institute for Health Metrics and Evaluation di University of Washington.

Untuk menyusun daftar tersebut, Komisi melakukan pemodelan mengenai berapa banyak tahun hidup sehat yang mungkin hilang akibat penyakit, disabilitas, atau kematian dini yang disebabkan oleh masing-masing ancaman —berdasarkan tren saat ini— menggunakan ukuran yang dikenal sebagai disability-adjusted life years (DALYs) atau tahun hidup yang disesuaikan dengan disabilitas.

“Penggunaan AI secara jahat, termasuk untuk senjata biologis, serta konflik nuklir yang memicu kelaparan akibat dampak nuklir (nuclear famine), membawa risiko kepunahan dalam 75 tahun ke depan,” demikian bunyi laporan tersebut.

Sebuah unjuk rasa lingkungan di COP28, konferensi iklim PBB di Dubai, tahun 2023. (Foto: theguardian)

Laporan itu menambahkan bahwa meskipun kemungkinannya masih rendah, ancaman-ancaman ini berpotensi memusnahkan umat manusia, dalam kasus konflik nuklir, misalnya, melalui pelepasan partikel dalam jumlah besar ke atmosfer bagian atas yang menghalangi sinar matahari dan menyebabkan kelaparan, atau melalui senjata biologis ciptaan AI.

Sebuah editorial Lancet yang menyertai laporan tersebut memperingatkan: “Skala dampaknya, jika hal-hal tersebut benar-benar terjadi, akan mendatangkan kiamat bagi umat manusia.”

Risiko lain yang dapat menyebabkan hilangnya lebih dari 1 miliar DALY (tahun kehidupan sehat yang hilang) secara kumulatif, dan karenanya dianggap sebagai “ancaman katastrofik utama”, meliputi polusi udara, resistansi antimikroba, malnutrisi pada anak, dan kerusakan iklim, serta konflik konvensional, penurunan bantuan luar negeri, konsumsi alkohol tinggi, tekanan darah tinggi, ketimpangan pendapatan, tingkat pendidikan rendah, pandemi alami, obesitas, kesehatan mental yang buruk, kebiasaan merokok, dan penuaan yang tidak sehat.

Agar dapat dimasukkan dalam daftar tersebut, suatu ancaman tidak hanya harus berpotensi menyebabkan hilangnya tahun kehidupan sehat dalam jumlah besar, tetapi juga harus memiliki potensi solusi.

Ibrahim Abubakar, anggota Komisi sekaligus profesor epidemiologi penyakit menular di UCL, mengatakan: “Kami tidak berangkat dari sudut pandang ‘lihat, kami ingin menakut-nakuti Anda, ada sekian banyak ancaman yang dihadapi umat manusia’. Kami berangkat dari premis bahwa jika Anda adalah seorang pembuat kebijakan saat ini, baik di tingkat multilateral global maupun nasional, inilah potensi ancaman yang mungkin Anda hadapi, dan inilah besarnya dampak yang bisa Anda hasilkan jika Anda mengambil tindakan nyata”.

Menurut laporan Komisi Lancet, yang memodelkan skenario terbaik dan terburuk untuk setiap ancaman, tindakan untuk membatasi pemanasan global hingga sekitar 1,8°C (3,2°F), alih-alih membiarkannya mencapai 4,4°C, dapat mencegah hilangnya 1,89 miliar tahun kehidupan sehat.

Di wilayah berpendapatan lebih tinggi, penyakit tidak menular seperti obesitas dan masalah kesehatan mental menjadi ancaman utama. Sementara di wilayah berpendapatan lebih rendah, hilangnya kesehatan lebih banyak disebabkan oleh masalah seperti rendahnya tingkat pendidikan.

Banyak negara donor utama, termasuk AS dan Inggris, telah mengumumkan pemotongan besar-besaran pada anggaran bantuan selama setahun terakhir.

Komisi tersebut menemukan bahwa potensi runtuhnya atau berkurangnya bantuan kesehatan internasional secara drastis dapat menyebabkan hilangnya hingga 1,5 miliar DALY sebelum tahun 2100, dengan hampir 70% di antaranya terjadi di wilayah Afrika Sub-Sahara.

Wilayah tersebut juga menanggung beban terberat akibat masalah malnutrisi pada anak.

Komisi Lancet terdiri dari 35 pakar, dan temuan mereka dipaparkan pada hari Minggu (11/10/2026) di World Health Summit di Berlin, Jerman.

Penilaian mereka akan diperbarui setiap tahun untuk mengevaluasi kembali 17 ancaman yang telah diidentifikasi, dengan memasukkan data baru serta bahaya apa pun yang baru muncul.

Para penulis mendesak para pemimpin untuk menangani berbagai risiko tersebut sebelum berkembang menjadi krisis, antara lain melalui investasi dalam inovasi teknologi dan penguatan sistem kesehatan.

“Kami memulai proses ini tiga tahun lalu dengan pemikiran bahwa ada tiga ancaman besar: konflik, iklim, dan pandemi. Ada jauh lebih banyak ancaman yang perlu kita waspadai, dan pemerintah benar-benar perlu mengalokasikan dana serta tenaga untuk upaya antisipasi, pencegahan, dan kesiapsiagaan menghadapi beragam ancaman ini,” ujar Murray. (rus)