Mengenang Satu Caturwarsa Pelajaran Kepemimpinan
Prabowo Subianto di IPSI

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh: Muslimin Mawi
Ketua Bidang Pembinaan Organisasi dan Hubungan Luar Negeri
PB. IPSI periode 2003 – 2007

Awal Perkenalan:
Sebuah Amanah dan Pelajaran Kepemimpinan

Ada pertemuan yang sekadar menjadi kenangan, tetapi ada pula pertemuan yang meninggalkan pelajaran dan membentuk cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Bagi saya, perkenalan dengan Prabowo Subianto, yang akrab disapa PS di lingkungan pencak silat, pada 2003 merupakan salah satu pengalaman yang bermakna dalam perjalanan pengabdian saya di organisasi.

Pertemuan itu berlangsung dalam Musyawarah Nasional (Munas) XI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), pada 2–4 Juli 2003 di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Saat itu, saya mengemban amanah sebagai Ketua Harian Pengda IPSI Sulawesi Selatan, bersama Wakil Ketua Letkol Pol. Warimen Gapur dan Sekretaris Ramli Haba, S.H., sebagai utusan daerah. Munas diikuti oleh 33 Pengda IPSI dari seluruh Indonesia dan sepuluh perguruan historis IPSI.

Dalam forum tersebut, Prabowo Subianto terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PB IPSI masa bakti 2003–2007. Munas juga menetapkan enam anggota formatur untuk mendampingi beliau dalam menyusun kepengurusan, dengan mempertimbangkan keterwakilan wilayah, perguruan historis, pengurus demisioner, dan Pengda IPSI DKI Jakarta.

Saya mendapat kepercayaan menjadi salah seorang anggota formatur yang mewakili Indonesia bagian Timur. Bagi saya, kepercayaan itu bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah untuk ikut memastikan terbentuknya kepengurusan yang representatif, demokratis dan mampu bekerja bagi kemajuan pencak silat Indonesia.

Hari Pertama:
Ketegasan yang Berbalut Keramahan
Rapat pertama formatur berlangsung pada 21 Juli 2003 di kediaman Prabowo Subianto, kawasan Brawijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Malam itu, saya berangkat bersama Pak Oyong Karmayudha, S.H., Wakil Ketua Umum PB IPSI periode 1999–2003, dari Hotel Indonesia, yang kini dikenal sebagai Hotel Indonesia Kempinski Jakarta.

Sepanjang perjalanan, saya merenungkan besarnya tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya. Saya menyadari bahwa tugas formatur bukan sekadar menyusun nama-nama pengurus, tetapi menentukan fondasi kepemimpinan organisasi untuk empat tahun ke depan.

Ketika tiba di kediaman beliau, suasana pengamanan yang ketat dan kehadiran para pengawal sempat menimbulkan pertanyaan dalam benak saya. Dengan latar belakang sebagai perwira tinggi TNI Angkatan Darat dari pasukan Baret Merah, saya membayangkan rapat mungkin akan berlangsung keras, penuh instruksi, atau diwarnai tarik-menarik kepentingan.

Namun, dugaan saya ternyata tidak sepenuhnya benar.

Rapat yang berlangsung pukul 19.30 hingga 23.10 itu dibuka dengan salam dan suasana yang bersahabat. Setelah para anggota formatur memperkenalkan diri, Prabowo Subianto menyampaikan pandangan mengenai pembinaan dan pengembangan pencak silat sebagai warisan leluhur bangsa, pentingnya kebersamaan, serta tata kelola organisasi yang baik.

Beliau menyampaikan gagasannya secara runtut, jelas dan penuh semangat. Suasana rapat terasa tenang, ramah dan kekeluargaan, jauh dari bayangan saya sebelumnya.

Pada akhir rapat, beliau memberikan kesempatan kepada setiap anggota formatur untuk mengusulkan nama dan menyusun komposisi kepengurusan berdasarkan ketentuan organisasi, untuk dibahas dalam pertemuan formatur berikutnya. Posisi Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum akan ditetapkan kemudian bersama Ketua Umum.

Malam itu, kesan pertama saya terbentuk: ketegasan tidak selalu harus tampil dalam suara keras atau perintah yang dominan. Ketegasan dapat hadir melalui kejelasan arah, kemampuan berkomunikasi dan penghormatan terhadap proses bersama.

 

 

Kepercayaan, Tanggung Jawab dan Disiplin
Sekitar sepekan kemudian, rapat formatur kedua berlangsung di Gran Melia Hotels International, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Seluruh anggota formatur difasilitasi untuk menginap di hotel tersebut guna memudahkan koordinasi.
Rapat diawali dengan makan malam bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kepengurusan. Dalam pengantarnya, Prabowo Subianto menekankan bahwa pengurus haruslah orang-orang yang memiliki waktu, kemauan dan komitmen untuk bekerja. Keterwakilan perguruan juga perlu diperhatikan agar seluruh unsur IPSI dapat berpartisipasi dalam membangun organisasi.

Setelah memberikan arahan, beliau mempersilakan setiap anggota formatur menyusun komposisi kepengurusan sesuai kewenangannya. Beliau kemudian meninggalkan ruang rapat dan berjanji kembali sekitar tiga jam kemudian untuk mendengarkan laporan hasil kerja anggota formatur.

Bagi saya, tindakan tersebut merupakan pelajaran penting tentang kepercayaan. Ketua Formatur tidak mengambil alih seluruh pekerjaan, melainkan memberikan ruang bagi anggota untuk berpikir, mempertimbangkan dan mengambil tanggung jawab.

Ketika beliau kembali, setiap anggota formatur menyampaikan hasilnya. Dalam laporan saya, menyampaikan bahwa hampir seluruh posisi kepengurusan telah diisi oleh figur yang dinilai tepat, kecuali posisi Ketua Harian yang masih menyisahkan dua nama untuk dipertimbangkan, yaitu Sdr. Oyong Karmayudha, SH. dan Sdr. Rahmat Gobel., sementara untuk posisi Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum belum ditetapkan. Selanjutnya oleh Prabowo Subianto selaku Ketua Formatur, mohon maaf dan minta persetujuan seluruh anggota formatur bahwa untuk hal ini beliau yang akan menetapkan sendiri, yaitu Ketua Harian Sdr. Rahmat Gobel dan Sekretaris Jenderal Sdr. Erizal Chaniago sementara untuk posisi bendahara Umum sdr. Bonansa Wicaksono, yang akrab disapa Pak Boni dan saat itu menjabat Direktur Keuangan di perusahaan Prabowo Subianto.

Pengalaman tersebut mengajarkan kepada saya bahwa kepemimpinan bukan tentang mengerjakan semuanya sendiri. Pemimpin yang baik menetapkan arah, memberikan kepercayaan, menyediakan ruang bagi kemandirian dan memastikan setiap tugas dipertanggungjawabkan.

Ketegasan dalam Praktik Organisasi
Selama masa bakti PB IPSI 2003–2007, saya memperoleh sejumlah pengalaman yang semakin memperkuat pemahaman saya mengenai pola kepemimpinan Prabowo Subianto.

Pertama, dalam pelantikan pengurus PB IPSI, beliau berpegang pada komitmen agar pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, sesuai dengan yang telah dijanjikan sebelumnya. Bagi saya, peristiwa ini mencerminkan pentingnya konsistensi dan kesesuaian antara perkataan dengan tindakan.
Kedua, saat Apel Akbar Pencak Silat di Banyuwangi, saya menyaksikan bagaimana kegiatan direncanakan secara terperinci, waktu diatur dengan ketat dan pelaksanaan diarahkan langsung oleh beliau. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa keberhasilan kegiatan besar membutuhkan perencanaan, koordinasi dan disiplin yang kuat.
Ketiga, dalam rapat-rapat pengurus, ketepatan waktu dan efektivitas pembicaraan menjadi perhatian. Pembahasan diarahkan pada pokok persoalan agar rapat menghasilkan keputusan dan langkah tindak lanjut yang jelas. Saya belajar bahwa menghargai waktu merupakan bentuk penghormatan terhadap tanggung jawab dan orang lain.
Keempat, ketika saya ditugaskan sebagai Ketua Tim Relawan PB IPSI untuk membantu korban tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam pada 2004, pelaksanaan tugas harus dilengkapi surat tugas resmi yang dibuat dan ditandatangani oleh Ketua Harian Rahmat Gobel. Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa semangat kemanusiaan perlu berjalan bersama ketertiban administrasi dan kejelasan pertanggungjawaban.
Kelima, ketika saya mendapat amanah dalam Panitia Pengarah (Steering Committee) Munas XII IPSI tahun 2007, aktivitas panitia dipantau dan diarahkan agar berjalan sesuai AD/ART IPSI. Pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa organisasi yang sehat harus menghormati aturan, mekanisme dan proses pengambilan keputusan.

Dari berbagai peristiwa tersebut, saya melihat benang merah berupa ketegasan, konsistensi, disiplin dan penghormatan terhadap tata kelola organisasi. Semua itu menjadi pelajaran berharga bagi saya dalam menjalankan amanah dan membangun kebiasaan kerja yang bertanggung jawab.

Kepemimpinan yang Tegas dan Humanis
Jika saya merangkum pengalaman selama membersamai Prabowo Subianto di PB IPSI, saya menemukan bahwa ketegasan dan sisi humanis tidak harus dipertentangkan.

Dalam pengalaman saya, disiplin tercermin melalui ketepatan waktu dan keteraturan kerja; konsistensi terlihat dalam upaya menjaga komitmen; sedangkan sisi humanis tampak melalui suasana rapat yang bersahabat dan kepercayaan yang diberikan kepada anggota untuk bekerja secara mandiri.

Saya belajar bahwa kewibawaan tidak harus menciptakan jarak, sebagaimana keramahan tidak berarti mengurangi ketegasan. Seorang pemimpin perlu mampu menentukan arah sekaligus menghargai kontribusi orang lain. Ia harus berani mengambil keputusan, tetapi tetap memahami pentingnya aturan, musyawarah dan tanggung jawab bersama.

Bagi saya, pelajaran ini sejalan dengan nilai luhur pencak silat. Pencak silat bukan hanya tentang kekuatan dan keberanian, melainkan juga pengendalian diri, penghormatan, persaudaraan dan tanggung jawab.

Seorang pesilat yang matang memahami bahwa kekuatan harus disertai kebijaksanaan. Demikian pula seorang pemimpin: kewenangan harus disertai pengendalian diri, ketegasan harus berlandaskan tujuan yang jelas dan keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan.

IPSI, bagi saya, bukan semata-mata organisasi olahraga, melainkan juga sekolah kehidupan. Di dalamnya saya belajar bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh figur pemimpin, tetapi juga oleh kualitas sistem, komitmen pengurus dan kemampuan menyatukan perbedaan dalam tujuan bersama.

Terima Kasih atas Pelajaran tentang Amanah
Kini, ketika mengenang kembali perjalanan sejak Munas XI IPSI pada 2003, saya menyadari bahwa pengalaman tersebut telah memberikan pelajaran yang melampaui masa jabatan dan struktur organisasi.

Saya belajar bahwa jabatan adalah amanah, bukan sekadar kehormatan; disiplin adalah kebiasaan yang harus dijalankan, bukan hanya slogan; kepercayaan harus dijawab dengan tanggung jawab; dan kepemimpinan yang baik perlu memberikan ruang bagi orang lain untuk berkembang serta berkontribusi.

Kepada Bapak Prabowo Subianto, saya menyampaikan terima kasih atas kesempatan dan pengalaman selama membersamai Bapak dalam kepengurusan PB IPSI masa bakti 2003–2007.

Terima kasih atas pelajaran tentang ketegasan, konsistensi, disiplin dan kepercayaan. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam perjalanan saya berorganisasi dan menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi saya, makna terdalam dari sebuah kepemimpinan tidak berhenti pada pencapaian selama seseorang memegang jabatan. Kepemimpinan juga tercermin dalam nilai-nilai yang ditinggalkan, kepercayaan yang dibangun, serta pelajaran yang terus hidup dalam diri orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Lebih dari dua dekade setelah pertemuan pertama kami di Padepokan Pencak Silat Indonesia, kenangan itu tetap menjadi bagian penting dari perjalanan saya. Bukan semata-mata sebagai catatan tentang seorang tokoh, Presiden RI. yang pernah memimpin IPSI, melainkan sebagai pengalaman yang mengajarkan arti amanah, kebersamaan, kedisiplinan dan kemanusiaan.

Terima kasih, Pak Prabowo, atas pelajaran yang saya peroleh selama membersamai Bapak di IPSI. Semoga nilai-nilai baik dari perjalanan pengabdian tersebut terus menjadi inspirasi untuk bekerja lebih tulus, memimpin lebih bijaksana dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi bangsa dan negara.

Sebab, pada akhirnya, kepemimpinan yang bermakna adalah kepemimpinan yang tegas dalam prinsip, konsisten dalam tindakan, disiplin dalam tanggung jawab dan tetap humanis dalam memperlakukan sesama.

Eramas 2000, 15 Oktober 2026

Salam hormat,

Muslimin Mawi