Oleh Iqbal Djawad
@iqbaldjawad#

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KABARIKA.ID–Di antara gemuruh kemajuan teknologi dan pertumbuhan pesat industri budidaya perikanan, terdapat satu kisah yang nyaris terhapus dari lembaran sejarah budidaya perairan di Indonesia: kisah tentang udang windu (Penaeus monodon).

Di era tahun 1970-1980an, udang windu primadona tambak, simbol kejayaan ekspor, dan tumpuan harapan banyak pembudidaya di pesisir Indonesia. Namun kini, udang windu menapaki jalan sunyi—tertinggal di balik bayang-bayang udang vaname yang konon kabarnya lebih adaptif, lebih cepat panen, dan lebih menguntungkan secara ekonomi.

Pada era di atas, udang windu menjadi bintang utama industri udang nasional. Ukurannya besar, rasanya khas, dan permintaannya tinggi di pasar internasional utamanya Jepang.

Tapi kemilau itu mulai meredup ketika penyakit seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan sindrom pertumbuhan lambat (slow growth syndrome) menghantam tambak-tambak udang.

Windu, yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan dan infeksi penyakit, tidak mampu bertahan dalam sistem produksi intensif yang tidak lagi ramah. Udang windu juga dihantam demgan kebijakan yang tidak menguntungkan petani tambak.

Ketika udang vaname yang notabene merupakan species dari luar Indonesia datang dengan adaptasi yang lebih baik dan waktu panen yang lebih singkat, banyak pembudidaya mulai beralih. Windu perlahan ditinggalkan.

Tambak-tambak yang dulu penuh harap kini sunyi, seakan menyimpan kenangan akan masa kejayaan yang telah berlalu. Windu menjadi simbol kerentanan dan sekaligus keluhuran dalam siklus budidaya: spesies asli yang kalah bersaing di tengah tekanan ekonomi dan lingkungan.

Namun, jalan sunyi udang windu bukan sekadar narasi kejatuhan. Ia juga menyimpan potensi kebangkitan, jika didekati dengan pendekatan yang tepat.

Budidaya berbasis ekologi, sistem tradisional berbasis tambak terpadu, hingga teknologi genomik untuk meningkatkan ketahanan strain windu adalah harapan yang masih menyala.

Di tengah krisis iklim dan kerentanan ekosistem pesisir, windu bisa menjadi ikon budidaya berkelanjutan jika diposisikan bukan sebagai produk massal, tetapi sebagai komoditas bernilai tinggi yang dijaga melalui pendekatan lokal dan ilmiah.

Minggu lalu saya menyaksikan sendiri, aura membangkitkan udang  di suatu tempat di pantai Selatan Jawa tepatnya di Teaching Factory Politeknik Kelautan Perikanan Pangandaran.

Mereka menyalakan api budidaya udang windu yang mulai redup di 15 petak tambak berukuran antara 400 sampai 600 meter persegi dengan teknologi tradisional plus.

Para taruna, dosen serta pembina, tetap setia untuk berusaha menyalakan kembali lentera harapan. Mereka menyusuri jalan sunyi ini dengan tekad dan cinta terhadap keragaman hayati lokal.

Jalan sunyi memang sepi, tapi di sanalah sering lahir ketahanan dan keikhlasan yang tak ditemukan dalam hiruk-pikuk industri budidaya perikanan.

Mereka tahu bahwa  harga  udang windu mengalami penurunan akibat ada nya pemberlakuan tarif “Trump”, tetapi mereka tetap berusaha untuk tidak terpengaruh karena pasar domestik masih sangat besar.

Saya juga yakin para civitas akademika Poltek KP Pangandaraan tahu bahwa udang windu bukan sekadar udang. Ia adalah pelajaran. Tentang kejayaan, kejatuhan, dan harapan. Dan dalam kesunyian itulah, mungkin kita bisa mendengar lebih jernih suara alam dan panggilan untuk membangun budidaya yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga bermartabat.

Prof.Ir. Muhammad Iqbal Djawad, M.Sc.,Ph.D: Kepala Pusat Kajian The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M);