
KABARIKA.ID, JAKARTA -Industri perfilman Indonesia kembali mencatatkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Film Solata garapan sutradara Ichwan Persada sukses meraih penghargaan dalam ajang Golden FEMI Film Festival 2025 yang digelar di Sofia, Bulgaria. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa karya sinema Indonesia semakin diperhitungkan dan mampu menyampaikan pesan kemanusiaan yang melampaui batas geografis maupun budaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam seremoni penghargaan yang berlangsung pada Sabtu (6/6/2026), Ichwan Persada menerima penghargaan didampingi Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Listiana Operananta. Film Solata dianugerahi penghargaan Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism, sebuah apresiasi yang diberikan atas kontribusinya dalam mengangkat nilai-nilai budaya dan kemanusiaan melalui medium film.
Mengangkat realitas pendidikan di kawasan terpencil Tana Toraja, Solata berhasil menarik perhatian para juri dan penonton internasional. Film yang diproduksi oleh Walma Pictures bersama Indonesia Sinema Persada ini menghadirkan kisah tentang perjuangan penyelenggaraan pendidikan melalui program “kelas jauh” di daerah pedalaman yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Deretan aktor seperti Rendy Kjaernett, Rachel Natasya, Fhail Firmansyah, dan Iskandar Andi Patau tampil memperkuat narasi yang sarat makna sosial tersebut. Sejak dirilis pada November 2025, Solata tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang refleksi mengenai pentingnya pemerataan akses pendidikan bagi seluruh anak bangsa.
Bagi Ichwan Persada, keberhasilan film ini di Eropa Timur memiliki arti tersendiri. Melalui Solata, masyarakat internasional diperkenalkan pada kekayaan budaya Tana Toraja yang selama ini belum banyak dikenal di kawasan tersebut. Keindahan alam, tradisi lokal, dan kehidupan masyarakat yang terekam dalam film menjadi daya tarik kuat yang memunculkan kekaguman para penonton asing.
Namun, daya pikat Solata tidak berhenti pada aspek visual dan budaya. Film ini juga menyuguhkan realitas pendidikan di wilayah terpencil yang memunculkan diskusi mendalam di kalangan audiens internasional. Banyak penonton yang terkejut mengetahui bahwa tantangan pendidikan seperti yang digambarkan dalam film masih terjadi di berbagai pelosok Indonesia.
Meski mengangkat berbagai persoalan sosial, Ichwan menegaskan bahwa Solata bukanlah karya yang bertujuan menyalahkan atau menyerang pemerintah. Sebaliknya, ia memandang film tersebut sebagai bentuk kepedulian dan cinta terhadap bangsa. Melalui cerita yang dihadirkan, ia ingin menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan agar perhatian terhadap dunia pendidikan semakin ditingkatkan.
Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama kemajuan bangsa. Karena itu, pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sektor ini, termasuk meningkatkan kesejahteraan para guru, khususnya guru honorer yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan di banyak daerah. Tanpa dukungan yang memadai bagi para pendidik, cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 akan sulit diwujudkan.
Perjalanan Solata menuju panggung internasional juga tidak terlepas dari dukungan sejumlah institusi, di antaranya Kementerian Luar Negeri RI, KBRI Sofia, dan Kementerian Kebudayaan RI yang memberikan fasilitas bantuan perjalanan bagi tim film. Dukungan tersebut menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan karya Indonesia ke berbagai festival dunia.
Di sisi lain, Ichwan mengungkapkan masih terbatasnya dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Ia berharap keberhasilan film-film yang mengangkat potensi budaya dan persoalan daerah dapat memperoleh perhatian lebih serius, baik dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan maupun pemerintah daerah terkait lainnya.
Sebelum mencetak prestasi di Golden FEMI Film Festival, Solata telah lebih dahulu tampil dalam Festival Film MENAR di Bulgaria pada awal tahun 2026. Perjalanan internasionalnya akan berlanjut ke Tirana International Film Festival (TIFF) di Albania, sebuah festival yang memiliki jalur kualifikasi menuju Academy Awards atau Oscar. Kesempatan tersebut membuka peluang besar bagi Solata untuk memperoleh eksposur yang lebih luas di industri perfilman global.
Ichwan mengaku pencapaian tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Baginya, keberhasilan sebuah film yang lahir dari cerita sederhana di pelosok Toraja hingga mampu menembus festival berkelas dunia merupakan kehormatan sekaligus motivasi untuk terus menghasilkan karya yang mengangkat identitas Indonesia.
Dalam waktu dekat, tim Solata dijadwalkan menggelar pemutaran dan diskusi film di Bratislava, Slowakia. Mereka juga merencanakan kunjungan ke Budapest, Ankara, dan Istanbul guna memperluas jejaring internasional serta membuka peluang kolaborasi produksi lintas negara.
Keberhasilan Solata semakin mempertegas posisi perfilman Indonesia di panggung dunia. Bersama film dokumenter DJUM karya Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto dan Dolanan Nusantara karya Dimas Surya Pratama yang juga meraih penghargaan dalam festival yang sama, capaian ini menjadi bukti bahwa kreativitas sineas Indonesia mampu menembus batas negara dan memperoleh pengakuan dari komunitas perfilman internasional.
