Oleh: Munawir Kamaluddin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada luka yang sesungguhnya tidak terlalu dalam, tetapi menjadi begitu menyakitkan karena terus kita sentuh dengan keluhan. Sebaliknya, ada nikmat yang begitu besar, tetapi terasa biasa karena terlalu lama kita abaikan. Betapa anehnya manusia, satu kegagalan mampu menghapus ingatan atas seribu keberhasilan, satu kehilangan sanggup menutupi lautan karunia Allah. Pernahkah kita bertanya, apakah yang membuat hati kita sempit benar-benar karena sedikitnya nikmat, atau karena kita terlalu sibuk menghitung luka?
Allah mengajarkan bahwa tidak semua yang kita benci adalah musibah, dan tidak semua yang kita sukai adalah anugerah. Di balik takdir yang membuat mata menangis, sering kali tersimpan hikmah yang kelak membuat hati bersyukur. Allah Swt. berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾»
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Karena itu, jangan terburu-buru menyalahkan takdir. Bisa jadi yang Allah ambil adalah sesuatu yang kelak akan melukaimu, dan yang Allah tunda adalah sesuatu yang sedang dipersiapkan pada waktu terbaik.
Ironisnya, kita lebih mudah mengingat siapa yang melukai daripada siapa yang menyayangi. Kita lebih sibuk menghitung kekurangan daripada mensyukuri kelimpahan. Padahal Allah telah mengingatkan:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوها
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34).
Lalu mengapa kita begitu teliti menghitung luka yang sedikit, tetapi lalai menghitung nikmat yang tak terhingga?.Rasulullah SAW. bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُم
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia, karena itulah yang lebih menjaga kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim).
Banyak orang kehilangan rasa syukur bukan karena nikmatnya berkurang, tetapi karena matanya terlalu sibuk melihat milik orang lain. Sayyidina Umar bin Al-Khattab berkata:
لَوْ أَنَّ الصَّبْرَ وَالشُّكْرَ بَعِيرَانِ، مَا بَالَيْتُ أَيُّهُمَا رَكِبْتُ
“Seandainya sabar dan syukur adalah dua kendaraan, aku tidak peduli mana yang aku naiki.”
Sungguh, hidup seorang mukmin hanya memiliki dua jalan, yakni bersyukur ketika menerima nikmat dan bersabar ketika menghadapi ujian. Keduanya sama-sama mengantarkan kepada ridha Allah. Imam Ibnul Qayyim berkata:
مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعْمَةَ إِلَّا فِي زَوَالِهَا فَلَمْ يَعْرِفْهَا
“Siapa yang baru mengenal nikmat setelah kehilangannya, berarti ia belum benar-benar mengenalnya.”
Betapa banyak yang baru menghargai sehat ketika sakit, waktu ketika terlambat, orang tua ketika telah tiada, dan kesempatan ketika pintunya telah tertutup. Mengapa harus kehilangan dahulu baru belajar bersyukur?
Sesungguhnya, keluhan tidak pernah meringankan beban, tetapi syukur selalu meringankan hati. Orang yang bahagia bukanlah mereka yang hidup tanpa luka, melainkan mereka yang mampu melihat cahaya Allah di balik setiap luka. Maka berhentilah menghitung apa yang hilang, lalu mulailah menghitung apa yang masih Allah titipkan. Bisa jadi, saat itulah engkau akan menyadari bahwa nikmat-Nya jauh lebih banyak daripada air matamu, dan kasih sayang-Nya jauh lebih besar daripada seluruh kegelisahanmu.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، الصَّابِرِينَ عَلَى بَلَائِكَ، الرَّاضِينَ بِقَضَائِكَ، وَافْتَحْ قُلُوبَنَا لِنَرَى نِعَمَكَ فِي كُلِّ حَالٍ.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa mensyukuri nikmat-Mu, bersabar atas ujian-Mu, ridha terhadap ketetapan-Mu, dan bukakanlah hati kami agar mampu melihat karunia-Mu dalam setiap keadaan.” Aamiin.!!!
#Wallahu A’lam Bishawab🙏
SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir.Munawir Kamaluddin
