Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari Anak Nasional datang setiap 23 Juli, selalu hadir membawa pertanyaan : sudahkah anak-anak Indonesia mendapatkan haknya atas pangan dan gizi yang layak?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika Badan Gizi Nasional (BGN) baru saja mengalami pembenahan kepemimpinan. Pada 22 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Sudaryono sebagai Kepala BGN menggantikan Nanik S. Deyang. Pergantian kepemimpinan tentu penting untuk memastikan keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, lebih dari sekadar mengganti siapa yang memimpin, kita memerlukan pembenahan fundamental kelembagaan: tata kelola, pengawasan, standar keamanan pangan, kualitas menu, transparansi anggaran, distribusi, serta keterhubungan program dengan sistem pangan nasional.
Sebab, anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan yang terlihat banyak. Mereka membutuhkan makanan yang benar-benar bergizi.
Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu mungkin sedang menghitung uang belanja. Di sekolah, seorang anak membuka kotak makan. Di tempat lain, anak yang berbeda mungkin hanya meminum air putih untuk menahan lapar hingga jam pulang. Di antara mereka, ada anak yang kekurangan protein, zat besi, vitamin A, kalsium, dan berbagai zat gizi mikro. Namun, pada saat yang sama, ada pula anak yang setiap hari dikepung makanan tinggi gula, garam, lemak, dan pangan ultra-proses.
Inilah paradoks gizi Indonesia.
Kita menghadapi kekurangan gizi dan kelebihan gizi secara bersamaan. Anak-anak dapat mengalami stunting, wasting, dan defisiensi mikronutrien; tetapi pada saat yang sama, risiko kelebihan berat badan dan obesitas juga meningkat. UNICEF bahkan mencatat bahwa hampir separuh anak Indonesia di bawah lima tahun belum memperoleh keragaman pangan minimum yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Maka, persoalan pangan anak tidak boleh disederhanakan menjadi sekadar “anak sudah makan atau belum.”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dimakan, dari mana pangan itu berasal, bagaimana kualitasnya, siapa yang mengawasi, dan apakah makanan itu membangun tubuh serta masa depan anak?
Anak membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi, protein sebagai pembangun jaringan, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Zat besi mendukung pembentukan darah dan fungsi kognitif. Kalsium membantu pertumbuhan tulang. Vitamin A berperan penting bagi imunitas dan kesehatan. Semua itu bukan sekadar istilah dalam buku ilmu gizi. Ia adalah fondasi bagi kemampuan seorang anak untuk belajar, bermain, berpikir, dan kelak membangun bangsa.
Karena itu, pangan lokal harus ditempatkan bukan sebagai pilihan kelas dua, melainkan sebagai kekuatan strategis.
Telur, ikan, tempe, tahu, sayuran, buah-buahan, jagung, sagu, umbi-umbian, dan berbagai pangan lokal Nusantara dapat menjadi bagian dari sistem pangan anak yang sehat, beragam, terjangkau, dan berkelanjutan. Di Sulawesi, ikan bukan hanya kekayaan laut. Ia adalah protein. Sagu bukan sekadar tradisi. Ia adalah sumber pangan. Pisang, jagung, ubi, kelor, dan berbagai pangan lokal lainnya bukan hanya komoditas. Ia adalah kemungkinan masa depan.
Di sinilah program makan bergizi harus bertemu dengan petani, nelayan, peternak, UMKM, koperasi, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan keluarga.
Makan bergizi tidak boleh berdiri sebagai program yang terpisah dari sistem pangan.
Ia harus menjadi ekosistem.
Namun, tantangan kita tidak hanya berada di dapur. Ia juga berada di sekitar sekolah.
Jajanan anak sekolah menjadi bagian penting dari lingkungan pangan. Anak-anak hidup dalam kepungan iklan, minuman manis, makanan ultra-proses, dan berbagai produk yang mudah dibeli tetapi belum tentu baik bagi kesehatan. Karena itu, pengawasan keamanan pangan dan edukasi gizi harus berjalan bersamaan.
Upaya BPOM bersama UNICEF untuk mendorong lingkungan pangan sekolah yang lebih sehat menunjukkan bahwa perlindungan anak membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Sebab, anak-anak adalah kelompok yang paling mudah dipengaruhi oleh lingkungan.
Mereka belum sepenuhnya mampu membedakan antara makanan yang menarik dan viral dengan makanan yang bergizi dan menyehatkan. Maka, tugas orang dewasa bukan hanya menyuruh anak makan sayur. Tugas kita adalah membangun lingkungan yang membuat pilihan sehat menjadi pilihan yang mudah, terjangkau, aman, dan menyenangkan.
Di sinilah pembenahan fundamental BGN menjadi penting.
Kita membutuhkan lembaga yang kuat secara manajerial, tetapi juga kokoh secara keilmuan. Lembaga yang memiliki sistem data yang akurat, standar gizi yang jelas, mekanisme pengawasan yang ketat, dan evaluasi yang terbuka. Program sebesar MBG tidak cukup hanya diukur dari berapa juta porsi makanan yang dibagikan. Ukuran keberhasilannya harus lebih dalam: apakah status gizi anak membaik, apakah anemia menurun, apakah stunting berkurang, apakah kemampuan belajar meningkat, apakah ekonomi petani dan nelayan lokal tumbuh, dan apakah pangan yang disajikan benar-benar aman?
Anak tidak boleh menjadi angka dalam laporan.
Anak adalah manusia.
Di balik setiap piring makanan, ada sepasang mata yang sedang belajar mengenal dunia. Ada tangan kecil yang kelak mungkin menanam pangan, merawat pasien, membangun jembatan, menulis buku, atau memimpin bangsa. Maka, ketika kita memberi mereka makanan, sesungguhnya kita sedang memberi makan masa depan.
Dalam bahasa sufistik, memberi makan bukan sekadar memindahkan nasi dari piring ke tubuh. Ia adalah bentuk rahmah—kasih sayang yang menjelma menjadi tindakan.
Dan setiap anak adalah amanah.
Kita sering berbicara tentang membangun sumber daya manusia unggul. Tetapi manusia unggul tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari ibu yang sehat, keluarga yang memiliki akses pangan, sekolah yang aman, lingkungan yang bersih, dan negara yang sungguh-sungguh memastikan tidak ada anak yang tumbuh dalam kelaparan.
Maka pada Hari Anak Nasional ini, semoga pembenahan kepemimpinan di BGN menjadi awal dari pembenahan yang lebih besar: pembenahan sistem, budaya kerja, tata kelola, dan cara pandang kita terhadap pangan dan gizi anak.
Semoga tidak ada lagi anak yang harus belajar dengan perut kosong.
Semoga tidak ada lagi anak yang kenyang tetapi kekurangan gizi.
Dan semoga setiap piring yang sampai ke tangan anak-anak Indonesia bukan hanya mengandung nasi, lauk, sayur, dan buah—tetapi juga menghadirkan ilmu pengetahuan, keadilan, kasih sayang, dan masa depan.
Sebab, bangsa yang sungguh-sungguh mencintai anak-anaknya tidak hanya membangun gedung-gedung tinggi.
Ia memastikan setiap anak memiliki tubuh yang sehat, pikiran yang tumbuh, hati yang bahagia, dan kesempatan untuk menjadi manusia seutuhnya.
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.
