KABARIKA.ID, JAKARTA – Ribuan umat diaspora Keuskupan Larantuka yang bermukim di Jabodetabek tampak memadati Gedung Zeni Angkatan Darat, Jakarta, pada Minggu (26/7/2026). Kehadiran mereka tak lain untuk mengikuti Misa Syukur Tahbisan Episkopal Uskup Larantuka yang baru, Mgr. Yohanes Monteiro.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ribuan warga tersebut merupakan para perantau asal Kabupaten Lembata dan Flores Timur—dua wilayah yang masuk dalam reksa pastoral Keuskupan Larantuka. Tiba di lokasi, Mgr. Hans Monteiro disambut meriah lewat dentak Tari Perang Hedung khas Adonara, sapaan adat berlarut dialek Lamaholot, hingga pengalungan selendang tenun oleh para sesepuh diaspora.

Menariknya, atmosfer keharmonisan terasa kian kental ketika warga perantau Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam turut membaur. Mereka ikut mengapit perjalanan Uskup Hans menuju ruang transit sebelum ekaristi dimulai, bahkan menyumbangkan penampilan seni kasidah yang memukau pada sesi resepsi usai ibadah.

Dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin secara konselebrasi tersebut, Uskup Hans memetik perumpamaan dari Injil tentang seorang petani yang menemukan harta terpendam di sebuah ladang. Petani itu lantas rela menjual seluruh aset milik pribadinya demi bisa membeli ladang kaya harta karun tersebut.

Merefleksikan bacaan itu, ia menegaskan bahwa ‘harta karun’ sejati tidak lain adalah menemukan Kristus sebagai fondasi dan kekayaan terpokok dalam hidup. Harta rohani itulah yang semestinya terus dikejar oleh seluruh umat perantau Keuskupan Larantuka di kawasan Jabodetabek.

“Itulah yang harus kita kejar dan cari, sebab Dialah yang akan melipatgandakan seluruh berkah kehidupan kita di dunia ini. Bagi Saudara-Saudari sekalian, saya yakin kita berhimpun di sini bukan semata-mata karena kehadiran saya sebagai Uskup baru, melainkan karena kerinduan bersama untuk merengkuh berkah Tuhan dalam menuntun perjalanan hidup kita,” tuturnya.

Uskup Hans lantas melemparkan refleksi mendalam: apakah umat diaspora sudah benar-benar menemukan Kristus—sang harta paling bernilai—dalam relasi sehari-hari? Ataukah pencarian itu justru kabur tertutup oleh ambisi harta duniawi yang menutup mata hati dari sesama, padahal manusia di sekitar kita adalah mutiara-mutiara kecil kehidupan?

“Mari kita melangkah bersama menjadi mutiara-mutiara kecil yang membawa dampak, hingga kelak kita menggapai sukacita sejati di kerajaan surga. Tuhan memberkati,” pesan Uskup menutup homilinya.

Selepas misa, Mgr. Hans Monteiro kembali berpesan agar warga perantau Lembata dan Flores Timur—tanpa memandang asal pulau maupun agamanya—tidak pernah lupa akan akar budaya yang menjunjung tinggi persaudaraan serta gotong royong. Ia mendorong mereka untuk tampil sebagai duta kedamaian di tengah kemajemukan masyarakat Jabodetabek maupun Indonesia secara luas.

Pada kesempatan yang sama, Uskup Hans memaparkan arah pastoral Keuskupan Larantuka yang hendak menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai wujud nyata dari ekspresi iman. Langkah strategis ini dinilai amat relevan mengingat kondisi perekonomian di Flores Timur dan Lembata saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.

“Kita berkomitmen agar lewat kapasitas yang ada, rasa percaya diri masyarakat dapat dipupuk dan potensi lokal bisa dimekarkan. Oleh sebab itu, fokus utama kita arahkan pada pemberdayaan ekonomi sebagai bentuk ekspresi iman,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Kolonel Yohanes Wain menyampaikan bahwa partisipasi aktif para perantau Muslim asal Lembata dan Flores Timur bukanlah sebatas kebetulan. Hal tersebut merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai kebudayaan suku Lamaholot yang sejak purbakala memegang teguh kekeluargaan, kesetaraan, dan toleransi melalui filosofi gemohing (semangat gotong royong tanpa sekat) yang terus diwariskan hingga ke tanah perantauan.

Ia juga memanjatkan rasa syukur atas kelancaran rangkaian acara tersebut, meski masa persiapan kepanitiaan tergolong amat singkat. Semua keberhasilan ini, tegasnya, tak lepas dari soliditas dan sinergi erat seluruh elemen perantau dari kedua kabupaten tersebut. (*)