KABARIKA.ID, ​MAKASSAR–– Jurnalis senior Sukriansyah S Latief menekankan pentingnya merawat integritas dan menjaga independensi sebagai fondasi utama bagi calon jurnalis. Menjaga jarak dari berbagai kepentingan merupakan bagian dari etika profesi yang wajib dipegang teguh di tengah tantangan industri pers yang kian kompleks.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Hal tersebut disampaikan Sukriansyah saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa peserta program magang di Harian Herald Indonesia dan Bentara Indonesia. Kegiatan sesi penyegaran jurnalistik ini berlangsung di Kantor Herald Sulsel, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (27/7/2026).

​Di hadapan mahasiswa dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Muslim Indonesia (UMI), pria yang akrab disapa Uki ini menegaskan bahwa integritas, independensi, dan idealisme adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

​Mantan Pemimpin Redaksi Harian Fajar tersebut membagikan pengalaman panjangnya di dunia pers untuk memotivasi para peserta. Menurut dia, keberhasilan seorang jurnalis tidak semata-mata diukur dari kuantitas berita yang dihasilkan setiap hari.

​Lebih dari itu, pencapaian tertinggi seorang jurnalis terletak pada kemampuannya membangun kepercayaan publik dan menjalin akses narasumber, terutama untuk membedah isu-isu penting.

​”Jika seorang jurnalis sudah mampu menembus sumber dan mewawancarai tokoh yang sulit dijangkau, itu adalah salah satu pencapaian dalam profesi ini,” ujar Sukriansyah, yang juga pendiri Sulawesi Pos.

​Dalam sesi tersebut, Sukriansyah mengingatkan dengan keras pentingnya menjaga martabat profesi dengan menolak segala bentuk pemberian yang berpotensi memengaruhi objektivitas pemberitaan. Independensi harus dipertahankan meski di bawah tekanan eksternal.

​”Kelak jika kalian menerima pemberian, maka orang akan mencari-cari kalian, mana jurnalis yang harga dirinya lima ratus ribu rupiah,” tegasnya.

​Ia menambahkan, kepercayaan publik terhadap media hanya dapat dipelihara jika jurnalis teguh memegang prinsip etika profesi. Selain integritas, Sukriansyah juga menggarisbawahi pentingnya aspek profesionalisme, akurasi data, dan keberimbangan dalam setiap produk jurnalistik.

​Nilai-nilai dasar ini, kata dia, harus ditanamkan sejak dini kepada jurnalis muda, termasuk mahasiswa yang baru mengenal dunia redaksi melalui program magang.

​Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa magang dari berbagai latar belakang studi, antara lain Program Studi Teknik Komputer UNM, Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Ilmu Komunikasi FISIP Unhas, serta Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam UMI.

​Melalui pembekalan ini, Herald Indonesia dan Bentara Indonesia berharap para mahasiswa magang tidak hanya memperoleh keterampilan teknis peliputan dan penulisan berita, tetapi juga memahami mendalam nilai-nilai etik dan profesional yang menjadi landasan utama profesi jurnalistik.(*)