KABARIKA.ID, JAKARTA — Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi menilai upaya mewujudkan swasembada susu nasional harus dilakukan secara menyeluruh, tidak sekadar menambah populasi sapi. Menurutnya ketersediaan pakan, pengembangan sapi lokal, hingga kepastian harga di tingkat peternak menjadi bagian penting yang harus diperkuat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia pun menilai keberadaan KUTT Suka Makmur yang telah berdiri sejak 1968 membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan sapi perah lokal.
Titiek Soeharto saapan akrabnya, menjelaskan, KUTT Suka Makmur dahulu memperoleh sekitar 9.000 sapi impor melalui program Bantuan Presiden (Banpres). Sapi tersebut kemudian disilangkan dengan sapi lokal Jawa dan Madura hingga menghasilkan sapi Grati yang terus berkembang hingga saat ini.
“Jadi sapi itu sampai sekarang, dari 58 tahun yang lalu, turun-temurun, beranak-pinak. Peternaknya juga sampai tiga generasi. Sekarang masih ada,” ujar Titiek, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, penguatan produksi susu nasional harus dibarengi dengan kesiapan pakan dan lahan hijauan. Penambahan populasi sapi tanpa ketersediaan pakan yang memadai justru dapat membebani peternak.
“Tidak hanya mendatangkan sapi-sapi impor yang tidak banyak, tetapi juga harus dipikirkan sapi itu makan apa. Makannya harus disediakan, harus ada lahan hijauan,” tegasnya.
Titiek menyebut produksi susu dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat seluruh ekosistem persusuan agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
“Ini tidak bisa seperti ini. Presiden Prabowo mencanangkan bahwa kita harus swasembada susu dan daging sapi. Jadi harus digenjot,” kata Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Di sisi lain, Titiek menegaskan impor susu masih dapat dilakukan selama produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Namun, volumenya harus dikendalikan agar tidak mengganggu keberlangsungan peternak lokal.
“Kita tidak ada yang mau impor. Kita semua maunya produksi lokal. Tapi kalau lokalnya belum memenuhi, sementara kita perlu susu untuk anak-anak supaya cerdas, tidak menutup kemungkinan impor. Namun harus dibatasi,” tuturnya. (*)
