KABARIKA.ID, MAKASSAR — PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) terus memperluas pemanfaatan listrik untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat dalam menyambut Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81 yang diperingati pada 27 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, listrik juga menjadi penggerak produktivitas dan efisiensi di sektor pertanian. Melalui program Electrifying Agriculture (EA), PLN mendorong modernisasi agrikultur, meningkatkan produktivitas petani, serta memperkuat ketahanan pangan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Sejak mulai dijalankan pada 2021, program Electrifying Agriculture terus berkembang seiring meningkatnya pemanfaatan energi listrik untuk berbagai kegiatan produktif di sektor agrikultur. Hingga September 2026, PLN UID Sulselrabar mencatat sebanyak 4.438 pelanggan dengan total daya tersambung mencapai 208.553,3 kiloVolt Ampere (kVA).
Capaian tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan listrik sebagai sumber energi untuk mendukung kegiatan pertanian, perkebunan, hingga peternakan.
Melalui program ini, PLN mendorong pemanfaatan energi listrik yang lebih praktis dan efisien, sekaligus mendukung penerapan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha agrikultur.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, mengatakan bahwa pengembangan Electrifying Agriculture merupakan bagian dari komitmen PLN untuk menghadirkan manfaat listrik yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk menggerakkan sektor produktif yang menjadi salah satu penopang perekonomian daerah.
“Momentum Hari Listrik Nasional ke-81 menjadi pengingat bagi PLN untuk terus menghadirkan manfaat listrik bagi masyarakat. Melalui Electrifying Agriculture, kami mendorong pemanfaatan listrik yang lebih produktif dan efisien guna membantu petani menekan biaya operasional, meningkatkan hasil pertanian, serta memperkuat ketahanan pangan,” ujar Didik, Minggu (11/10/2026).
Salah satu implementasi program tersebut terlihat di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Pemanfaatan listrik untuk pompanisasi menjadi bagian dari upaya mendukung ketersediaan air bagi lahan persawahan, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Pada Agustus 2026, panen di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, menunjukkan upaya menjaga produktivitas pertanian di tengah keterbatasan air. Program listrik masuk sawah yang didukung optimalisasi lahan dan penyediaan sumber air menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan di wilayah tersebut.
Di Desa Takkalasi, sekitar 395 hektare lahan pertanian dikelola oleh 13 kelompok tani. Sebelumnya, petani mengandalkan sumber air dari Bendung Takkalasi yang dapat mengering saat kemarau panjang.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan air, pada 2025 telah tersedia 39 titik sumur bor yang dimanfaatkan bersama program listrik masuk sawah untuk mendukung pengoperasian pompa air.
Dukungan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas pertanian. Pada panen Agustus 2026, produktivitas tercatat setara sekitar 10,4 ton per hektare, meningkat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran 7 ton per hektare.
Capaian ini didukung berbagai upaya di sektor pertanian, termasuk optimalisasi lahan, bantuan benih, penyediaan sumber air, serta pemanfaatan listrik untuk mendukung pengairan.
Pemanfaatan listrik untuk pompanisasi memberikan alternatif bagi petani dalam mengelola kebutuhan air secara lebih praktis. Dengan dukungan pasokan listrik, pompa dapat dioperasikan untuk mengalirkan air ke lahan pertanian tanpa sepenuhnya bergantung pada bahan bakar minyak. Hal ini membuka peluang untuk menekan biaya operasional sekaligus membantu petani mengelola kegiatan pertanian secara lebih terencana.
Selain di Sidrap, pemanfaatan listrik untuk mendukung kegiatan agrikultur juga diterapkan pada usaha pertanian dan peternakan lainnya di wilayah kerja PLN UID Sulselrabar.
Penggunaan listrik untuk pompa irigasi, sistem pengairan, pencahayaan, ventilasi, hingga peralatan pendukung peternakan memungkinkan kegiatan usaha berjalan lebih praktis dan mendukung penerapan teknologi modern.
Didik menjelaskan bahwa pemanfaatan listrik di sektor agrikultur tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jumlah pelanggan dan daya tersambung, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah bagi masyarakat melalui kegiatan usaha yang lebih produktif dan efisien.
“Pertanian memiliki peran penting dalam menopang perekonomian daerah dan ketahanan pangan nasional. Karena itu, PLN terus mendorong pemanfaatan listrik agar semakin produktif, mulai dari pengairan sawah, pengembangan usaha perkebunan, hingga modernisasi peternakan. Kami berharap kehadiran listrik dapat membantu petani dan pelaku usaha agrikultur bekerja lebih efisien, meningkatkan hasil produksi, serta memperkuat daya saing usahanya,” jelas Didik.
Ia menambahkan bahwa pengembangan Electrifying Agriculture membutuhkan sinergi antara PLN, pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar pemanfaatan listrik dapat berjalan selaras dengan kebutuhan di lapangan, termasuk dalam penyediaan infrastruktur ketenagalistrikan yang memadai untuk mendukung kegiatan agrikultur.
PLN UID Sulselrabar akan terus mendorong pemanfaatan listrik sebagai bagian dari transformasi menuju sektor agrikultur yang lebih modern dan berkelanjutan.
Melalui program Electrifying Agriculture, PLN berupaya menghadirkan manfaat energi yang tidak hanya dirasakan melalui akses listrik, tetapi juga melalui peningkatan efisiensi, produktivitas, dan peluang pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Setiap aliran listrik yang menggerakkan pompa air di sawah, mendukung peralatan pertanian, dan menghidupkan sistem peternakan membawa peluang bagi masyarakat untuk berkembang. Kami ingin listrik hadir sebagai energi yang menggerakkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, dan menghadirkan kesejahteraan yang semakin merata,” tutup Didik. (*)
